Gus Miftah, Wayang dan Sajak Beragama dalam Budaya

Desi Puspasari - detikHot
Senin, 21 Feb 2022 16:42 WIB
Gus Miftah berbelasungkawa Dorce Gamalama meninggal.
Gus Miftah dan sajak beragama dalam budaya. Foto: dok. Pribadi
Jakarta -

Selain lakon wayang berpeci yang dihajar wayang Baladewa yang tengah marah, dalam pentas wayang kulit di Ponpes Ora Aji juga ada hal lain yang jadi sorotan. Itu adalah sajak yang dibacakan Gus Miftah di akhir pementasan.

Gus Miftah membacakan sebuah sajak didampingi oleh komedian dan seniman Yati Pesek. Sajak yang dibacakan oleh Gus Miftah ramai disebut menyindir Ustaz Khalid Basalamah soal wayang.

Berikut sajak yang dibacakan oleh Gus Miftah di malam pentas wayang Dalang Menggugat dengan lakon 'Begawan Lomana Martobat':

Sigra milir sang gethek sinangga bajul. Wah, begitu pandai iblis itu menyematkan imamah dan jubah dengan warna putih seakan begitu suci tanpa noda dengan menghitamkan yang lainnya.

Haruskah kuda lumping diganti dengan unta lumping? Atau haruskah gamelan diganti dengan rebana? Pohon kelapa diganti dengan pohon kurma? Dan, haruskah nama Nabi Sulaiman diganti karena mirip kata-kata Jawa? Betapa luas iblis itu menghamparkan hijab dari kekerdilan otaknya hingga menutupi sinar matahari junjungan kita.

Sebagai Nabi alam semesta bukan Nabi orang Arab saja. Haruskah wayang diganti dengan film-film cerita agama produk asing yang membiayai setiap jengkal pergerakan dan pemberontakan atas nama agama. Kamu siapa?

Aku tahu jenggotmu panjang tapi belum tua. Wajar tak tahu budaya dan tak tahu tata krama. Bagiku lebih nyaman dengan blangkon atau ikat dari taplak meja sebagai penutup kepala wujud kerendahan hati dan ketawadhuan belaka karena jubah, imamah dan jenggot panjang penampilan bendoro atau raja. Sedangkan aku hanyalah hamba jelata tak pantas dengan pakaian bendoro dan raja. Karena pintu surga kini hanya tersisa dan terbuka bagi yang rendah dan tawadhu hatinya.

Gus Miftah melalui pesan suara kepada detikcom menjelaskan soal pentas wayang yang diadakan di Ponpes Ora Aji miliknya menuai kontroversi. Termasuk soal adanya aksi wayang berpeci dihajar oleh wayang Baladewa.

"Soal konten atau lakon atau atraksi di dalam pertunjukan wayang, itu merupakan domain dan wilayahnya dalang itu sendiri. Jadi isinya tentang apa itu kita hanya dikasih lakonnya saja. Pertunjukannya seperti apa itu ya urusan dalang bukan urusan saya. Saya tidak bisa intervensi itu. Itu sudah merupakan kebiasaan bahwa atraksi panggung dalam pertunjukan wayang itu urusan dalang," jelasnya.

"Kalau yang viral atau trending tentang sajak saya, kalau soal kritik ilmu atau perbedaan pendapat dalam ilmu itu suatu yang lumrah, jadi sah-sah saja. Kalau sajak yang saya buat itu tanggung jawab saya penuh, tapi kalau atraksi dalam pentas wayang itu merupakan domainnya dalang bukan saya," tegas Gus Miftah.

Adanya perbendaan pendapat dalam sebuah pandangan Gus Miftah mengingatkan itu adalah sesuatu yang lumrah.

"Persoalan orang berbeda pendapat kan lumrah-lumrah saja itu. Mungkin dalam satu hal saya tidak sepakat dengan Ustaz Khalid Basalamah. Tetapi, dalam satu hal yang lain sependapat. Yang membesar-besarkan kan orang yang mencoba cari keuntungan dan memancing suasana di sini saja. Kita sudah terbiasa," tukas Gus Miftah.



Simak Video "Pembelaan Kala Pentas Wayang di Ponpes Gus Miftah Dikritik"
[Gambas:Video 20detik]
(pus/dar)