Sebuah pepatah Jepang berkata seperti ini, "Jinsei wa okurimono deari, jinsei wa yoriyoi ningen ni naru tame no tokken, kikai, sekinin o watashitachi ni ataete kuremasu."
Artinya, "Hidup adalah sebuah pemberian, dan hidup memberikan kita keistimewaan, kesempatan, dan tanggungjawab untuk menjadi seseorang yang lebih baik."
Baca juga: Reino Barack, Reinkarnasi dari Jepang |
Bagi seorang Reino Barack, dengan kapasitas dan segala kemampuan yang menempel kepadanya saat ini, pepatah itu ingin diwujudkan secara nyata. Pendidikan, menjadi warisan dari hidupnya yang bukan hanya untuk nama baik keluarga, tapi kunci kesuksesan secara nasional bagi Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ingin ada sesuatu yang saya bangun sebagai legacy untuk suatu hari tinggalkan, to build something useful and meaningful, something that can resonate throughout the years setelah saya sudah tidak ada. Saya belum membangun ini secara konkrit apakah ini sebuah sistem, platform, institusi, organisasi, saya nggak tahu, yang jelas Itu ada di tema edukasi, yang pasti di situ saya ingin berkontribusi. Namun memang saat ini masih banyak tanggung jawab yang harus saya selesaikan untuk sampai ke situ. Insya Allah umur saya bisa panjang dan hal tersebut dapat tercapai."
Pengusaha 37 tahun itu masih meyakini bahwa setiap orang berhak punya mimpi dan kesempatan untuk mewujudkannya. Dan, itu masih sangat mungkin terjadi. Bagi Reino, mimpinya itu berangkat dari kepercayaan bahwa hidup harus lebih dari sekadar dinikmati tanpa memberikan arti.
![]() |
"Persis seperti papan catur di depan kita ini. Kita mainkan, bergerak, skakmat, ujung-ujungnya the king and queen go inside the box, and what happens with the game? Nothing. It was fun, but that's it. Do we just want to enjoy the game? Or you want to be remembered outside the box?"
"Semua cita-cita yang saya katakan sebelumnya, katakanlah itu tidak berjalan. What I can say before I die is, well at least I tried," tandasnya dengan tersenyum.
(mif/dar)