Hot Questions

Falling in Love is Disease, Isi Pikiran Radikal Nicholas Sean

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Jumat, 26 Nov 2021 13:00 WIB
Jakarta -

Sebelum mengakhiri obrolan panjang dan berliku, yang kadang menyerempet bibir jurang kehidupan ini, masih ada satu bahan obrolan yang menarik untuk disimak dari Nicholas Sean Purnama. Dengan seluruh latar belakang, filosofi dan prinsip yang dijalaninya, Nicho punya satu pikiran radikal yang selama ini belum pernah dituangkan kepada publik.

Pikiran itu adalah, baginya, jatuh cinta adalah sebuah penyakit. Apa maksudnya?

"Jadi gini, falling in love is a disease. Kalau lo jatuh cinta, lo nggak bisa fokus, nggak bisa berpikir, yang lo pikirin orang itu terus dan lo terganggu sehari-harinya, apa lagi kalau habis patah hati. Sejatinya penyakit, seperti virus. Supaya nggak kena virus, kita vaksin. Nah, vaksin itu diambil dari penyakit yang dimatikan, untuk dibuat antigennya dan dimasukkan ke dalam tubuh supaya sistem imun kita bisa respons lalu mengeluarkan antibody. Karena menurut saya falling in love itu penyakit, jadi obatnya harus berasal dari virusnya juga. Misalnya, cowok patah hati sama satu cewek, solusinya berhubungan sama cewek lain. Makin lama lo akan kebal dan biasa," jawab Nicholas Sean Purnama saat ditemui di Kawasan Pantai Indah Kapuk.

"Penyakit yang pertama itu parah, biasanya yang kedua, ketiga lo sudah punya imun. Jadi ketika lo sakit, lo biasa. Kaya COVID-19 lah, kalau sudah pernah kena, terus kena yang kedua, nggak separah yang pertama," sambungnya serius.

Calon dokter 23 tahun itu kemudian memberikan analogi lainnya terkait pikiran radikalnya tersebut. Tapi sekali lagi, dia tidak mengharapkan orang lain untuk setuju.

"Kalau lo tahu ada, masalah di paru-paru, lo bakal nggak sih pergi rame-rame, buka masker waktu lagi pandemi gini? Saya bicara hal ini ya karena saya tahu kelemahan sendiri. Kelemahan saya hati perempuan, jatuh cinta, jadi bucin (budak cinta), jadi bodoh. Karena tahu begini, inilah langkah pencegahan saya. Justru, saya bilang begini bukan karena kuat banget. Seperti radiasi, jadi saya ada dosimeter (pengukur radiasi) personal. Kalau lagi lihat perempuan terus dosimeter naik, harus dihilangin. Saya bunuh rasa itu sampai netral lagi," jelas Nicholas Sean Purnama.

Sebelum melanjutkan ceritanya, detikHOT memotong sebentar. Sebuah pertanyaan sederhana untuk menyambungkan antara realita di lapangan dan teori di kepalanya. Ada atau tidak yang mendekati Nicholas Sean? Kalau memang ada, kira-kira berapa banyak ya? Dan, apa reaksinya?

"Di DM (Direct Message Instagram) banyak. Lintas gender malah. Tapi nggak pernah saya tanggepin. Buat apa? Paling buat pansos (panjat sosial). Saya nggak mau terlibat hal-hal seperti itu lagi. Saya nggak mau terlibat drama, drama nggak ada cuan, man, drama minus, drama boros. Ini namanya lo investasi bodong. Kalau hubungan lo udah investasi, udah diajak makan, jalan-jalan, eh dia minta putus, cari orang lain," tegasnya.

Tidak terasa, waktu penunjuk di perangkat perekam suara menunjukkan obrolan telah berlangsung hampir dua jam. Untuk menutup wawancara, Nicholas Sean menitipkan pesan kepada detikers, apapun yang dia katakan, murni buah hasil pikirannya sendiri tanpa terpengaruh atau melibatkan siapapun. Dia berharap, agar para pembaca dapat mengambil hal baik dan membuang yang dianggap jelek dari seluruh rangkaian ceritanya.

"Saya tahu, mereka (netizen), punya ekspektasi saya anak Ahok yang alim dan respectable. Jadi kalau saya mau ngeluarin ide-ide radikal yang provoking society itu susah, takutnya mereka mengaitkan ke bokap, atau mereka bilang ini gara-gara broken home atau apalah. Padahal sama sekali tidak ada korelasinya. Saya memang begini, apapun yang terjadi pada orang tua saya, otak saya akan sama," tutup Nicholas Sean sembari tersenyum.

(mif/dar)