Hot Questions

Nicholas Sean Bicara Filosofi Stoikisme dan Kematian

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Jumat, 26 Nov 2021 09:00 WIB
Jakarta -

Sebelumnya detikHOT sudah berbicara banyak dengan Nicholas Sean Purnama mengenai dirinya dan keluarga. Selanjutnya, obrolan akan sedikit lebih mendalam kepada prinsip hidup anak muda 23 tahun ini. Mulai dari filsafat hidup yang dianut, keputusannya untuk tidak menikah dan ketidaktakutannya menghadapi kematian.

Obrolan ini muncul saat Nicho membahas soal hobinya yang lain, selain menembak, yaitu menulis. Mungkin lebih tepatnya mengetik, karena dia memang melakukannya dengan mesin tik. Setidaknya sejak 2-3 tahun terakhir, Nicho menuangkan isi kepalanya atas apapun di atas kertas. Kumpulan tulisan itu, diberi judul 'Justification of Isolated Living'.

"Saya menulis dengan mesin tik karena pikiran kita lebih jernih. Kalau kita nulis di laptop, kita tahu bisa dihapus kan. Jadi kita sembarangan aja, lagian juga nanti dibaca ulang, bisa diedit. Kalau pakai mesin tik, sekali salah, nggak bisa dihapus. Jadi, harus bener-bener dipikirin dulu di otak lo baru ditulis," ceritanya saat ditemui detikHOT di gerai Kopi Se-Indonesia miliknya, di Kawasan Pantai Indah Kapuk.

Nicholas SeanNicholas Sean Foto: Nicholas Sean

Lalu, apa saja yang ditulisnya di jurnal tersebut? "Tentang filosofi-filosofi hidup, tentang konsep-konsep yang saya pelajari. Tapi, nggak hanya punya saya, saya bisa masukin kasus orang tua saya, pengalaman teman saya, apa yang saya lihat. Saya masukin juga beberapa Filosofi Stoik. Siapa tahu kalau tebal, saya jadiin buku. Jangan Cuma bokap doang yang nulis buku, saya nulis buku juga," sambungnya santai.

Menyinggung soal Filosofi Stoik yang disebutnya, ternyata, aliran filsafat Stoikisme sudah lama memengaruhi kehidupan Nicholas Sean. Stoikisme sendiri adalah filsafat dari Yunani yang kurang lebih menggambarkan sikap hidup yang tidak ikhlas dan percaya bahwa emosi-emosi negatif yang berlebihan dapat merusak kebahagian. Beberapa ajaran lainnya juga bicara bahwa Stoik adalah cara hidup yang menekankan dimensi internal manusia, seorang Stoik dapat hidup bahagia ketika ia tidak terpengaruh pada hal-hal di luar dirinya yang di luar kontrol.

"Saya orangnya parno-an (ketakutan berlebihan), suka cemas pada hal-hal yang seharusnya tidak saya cemaskan, tapi saya cemaskan. Saya orangnya banyak pikiran, lebih banyak worry. Semenjak saya belajar Stoik, pelan-pelan belajar melepaskan worry itu, karena ujung-ujungnya hidup kita akhirnya mati. Kadang-kadang hal yang kita pikirkan sekarang itu nggak penting untuk setahun ke depannya."

"Hal-hal yang nggak bisa dikontrol, santai ajalah. Kadang-kadang orang salah, dianggap nggak ngapa-ngapain. Bukan gitu, Stoikisme berkembang di zaman ksatria di Roma, itu orang bisa mati kapan aja bisa mati. Stoikisme bukan untuk orang-orang pecundang. Analoginya lagi memanah, lo sudah latih sekeras-kerasnya sampai hari H. Ketika mau tembak panah itu, apakah anak panah itu akan tepat di sasaran target? Secara Stoikisme, tidak, belum tentu, ada banyak faktor. Kemudian bikin kita kesal, kecewa. Lo harus ngelepasin semuanya biar lo nggak kecewa. Ini gelas yang kalau dilepas bakalan pecah, harus terima itu."

Nicholas Sean PurnamaNicholas Sean Bicara Filosofi Stoikisme dan Kematian Foto: Nicholas Sean Purnama (dok.Instagram @nachossean)

"Stoikisme itu bahwa konsepnya lebih dalem lagi ke manusia juga. Harus terima manusia suatu saat akan mati. Kematian adalah perjalanan lo sendiri. Siapapun itu manusianya, bukan lo yang punya. Mati di ICU atau meledak di medan perang. Stoikisme bukan anti emosi, justru kita ngerti emosi dan kita terima. Kita nggak kecanduan dengan emosi itu suatu saat kalau ditarik. Stoikisme itu sangat emosional sebenarnya, karena mereka nggak bisa kontrol emosinya makanya mereka belajar Stoikisme," jelas Nicho panjang dan lebar. Dari gesturnya, nada dan gaya bicaranya sangat mirip dengan sang ayah, berapi-api.

Pikirannya atas hal-hal tersebut secara tidak langsung juga merupakan dampak dari dua hal. Apa yang menimpa sang ayah, Basuki Tjahaja Purnama beberapa tahun kemarin, serta kondisi pandemi yang terjadi sejak 2019.

"Ya pandemi ada pengaruhnya, gua jadi lebih di rumah and it's a good thing for me. Kedua, menjadi punya banyak waktu buat sendiri, banyak waktu merenungkan. Awal-awalnya sih nggak enak sendirian, lama-lama jadi kebiasaan, kalau ketemu orang jadi agak aneh justru. Ada mesin ketik, ya sudah ketik aja. Kalau soal itu (Basuki Tjahaja Purnama), ya ada juga pengaruhnya," tutup penggemar airsoft gun itu.


Setelah ini, Nicholas Sean akan memberikan pernyataan yang mungkin bikin patah hati bagi para penggemar dan pengagum rahasianya. Bahwa, dia berniat untuk tidak menikah. Seperti apa? Baca artikelnya setelah ini hanya di HOT Questions, detikHOT.

(mif/nu2)