Arzeti Bilbina Soroti Lonjakan Kemiskinan dan Bayi Lahir Stunting selama Pandemi

Mauludi Rismoyo - detikHot
Rabu, 24 Nov 2021 14:38 WIB
Arzetty Bilbina memiliki nama lengkap Arzetty Bilbina Setiawan saat berkunjung ke kantor detikcom. Reno/detikcom.
Arzeti Bilbina Soroti Lonjakan Kemiskinan dan Bayi Lahir Stunting selama Pandemi. (Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto)
Jakarta -

Arzeti Bilbina menyadari tingkat kemiskinan meningkat semasa pandemi. Artis yang kini jadi anggota DPR itu mengimbau soal pencegahan bayi lahir stunting.

Arzeti Bilbina merasa penanganan masalah tersebut perlu ditangani serius oleh pemerintah. Sebab dari data yang dimiliki anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKB, angka stunting meningkat dari 27 menjadi 32 persen.

"Oleh karena itu, penanganan stunting di seluruh Indonesia perlu dilakukan. Kita bisa melakukan pencegahan melalui tiga pendekatan, yakni pendampingan pada remaja sebelum menikah, pendampingan ketika sedang hamil, dan pendampingan saat bayi lahir hingga menginjak usia 2 tahun," kata Arzeti dalam sebuah acara bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Lebih lanjut, Arzeti Bilbina sangat sedih mengetahui data bayi stunting. Ia berharap setiap orang bisa meningkatkan dan memahami lagi masalah gizi untuk anak.

"Perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah faktor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan individu. Oleh sebab itu, dalam rangka membina dan meningkatkan kesehatan masyarakat, intervensi yang ditunjukan kepada faktor perilaku ini sangat strategis," ujar Arzeti.

Arzeti Bilbina juga menginginkan adanya sinergi antara elemen masyarakat dengan stakeholder terkait masalah stunting. Ia meminta sekali lagi agar tetap menjaga kesehatan di masa sulit seperti sekarang.

"Pemberdayaan masyarakat harus dimulai dari rumah tangga, karena rumah tangga yang sehat merupakan aset pembangunan dimasa depan yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya. Semua anggota keluarga dapat menjadi rawan terkena penyakit infeksi, salah satunya adalah balita. Infeksi dapat menyebabkan kurang gizi atau sebaliknya," tutur Arzeti.

(mau/aay)