Perpisahan Rachmawati dan Didi Mahardika dari Balik Jendela

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Sabtu, 03 Jul 2021 16:05 WIB
Rachmawati Tolak Dugaan Makar

Aktivis yang juga tersangka dugaan makar pada 2 Desember lalu, Rachmawati Sukarnoputri di dampingi pengacaranya Yusril Izha Mahendra melakukan jumpa pers di kediamannya, Jakarta, Rabu (07/12/2016). Rachmawati menolak dugaan makar yang disangkakan kepada dirinya oleh pihak Kepolisian terkait pada aksi damai 2 Desember 2016 lalu. Grandyos Zafna/detikcom
Perpisahan Rachmawati dan Didi Mahardika dari Balik Jendela (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Rachmawati meninggal dunia di usia 70 tahun setelah sempat mengidap COVID-19 dan dirawat di RSPAD, Jakarta. Hal tersebut meninggalkan duka yang mendalam bagi pihak keluarga, terutama sang anak, Didi Mahardika.

Nanda Persada, selaku sahabat dekat Didi Mahardika, bercerita mengenai perpisahan yang menjadi momen terakhir antara seorang anak dan mendiang ibunya itu.

Menurut Nanda Persada, selama Rachmawati Soekarno berada di ruang ICU RSPAD Gatot Subroto, Didi Mahardika selalu menunggui ibunya walaupun terpisah dengan jendela karena sang ibunda harus menjalani isolasi karena terpapar COVID-19.

Dari balik jendela, Rachmawati Soekarno sempat melambaikan tangan pada Didi Mahardika sebelum benar-benar berpulang dan menghembuskan napas terakhir.

Tak disangka, rupanya lambaian tangan itu adalah pertemuan terakhir antara Didi Mahardika dan Rachmawati Soekarno.

"Sudah beberapa hari ini ibu Rachma dirawat di RSPAD dan sempat di ICU. Anak-anak berdoa terus sampai di ICU. Tadi malam sampai subuh, mas Didi masih komunikasi, masih sedih, nangis terus, doa terus, feeling sudah nggak enak," cerita Nanda Persada.

Dia menyambung, "Seperti ada berpisahan, dari kaca, dari kejauhan, masih ngelambain tangan, seperti ada komunikasi, ternyata itu pertemuan terakhir."

Sebagai sahabat dari Didi Mahardika, Nanda Persada mengenang Rachmawati Soekarno sebagai sosok yang selalu mengayomi dan memikirkan nasib bangsa dan negara.

"Beliau sangat care sama teman-temannya, jadi kalau di rumah teman-temannya anak-anak itu selalu ngumpul bareng, ngomong tentang seni juga macam-macam, jadi kami ngerasa kayak ibu kita. Teman-teman nangis semua, nggak nyangka," tutur Nanda.

"Kami tahu walau beliau sudah lama sakit keras, itu memiliki fighting spirit yang tinggi, masih mikirin bangsa negara, rakyat, orang susah. Tiap hari yang dipikirin gimana ya Indonesia. Jadi hidup bukan hanya buat diri sendiri aja tapi buat orang banyak," sambung dia.

Nanda Persada pun menjelaskan, selain meninggal karena COVID-19, Rachmawati Soekarno juga memiliki penyakit penyerta.

"Beberapa penyakit komplikasi, beliau kan sudah lama, terus terakhir sempat terpapar COVID-19 juga," ucapnya.

(srs/dar)