Wawancara Eksklusif

Masuk 6 Besar Atlet Taekwondo Dunia, Cedera Lutut Buat Hidup Aghniny Berubah

Desi Puspasari - detikHot
Jumat, 22 Nov 2019 15:00 WIB
Foto: Asep Syaifullah/detikHOT
Jakarta - Karier Aghniny Haque sebagai atlet taekwondo sangat cemerlang. Namun, cedera lutut membuat kariernya sebagai atlet terhenti.

Sejak berusia 13 tahun, Aghniny sudah mengabdikan diri sebagai atlet taekwondo. Pada 2016, Aghniny terdegradasi dari pelatnas, padahal dirinya tengah bersiap menghadapi Asian Games 2018.

"(Prestasi paling berharga) Aku mendapat gelar enam besar, peringkat enam besar dunia," kenang Aghniny Haque kepada detikcom di MD Place, Jakarta Selatan.

Sulit dan berat menerima dirinya harus menanggalkan status atlet yang disandangnya. Semua peristiwa itu diakui Aghniny mengubah hidupnya.

"Aku kena ajang degradasi karena waktu itu, setelah dapat peringkat enam besar di dunia itu, aku kena cedera. Dari situ berubah semuanya. Jadi (lutut aku) kena meniscus tear sama yang kanannya robek, yang kiri sobek sedangkan taekwondo banyak menggunakan kaki kan," ungkap Aghniny.



"Jadi mau nggak mau aku harus operasi, pada saat itu ditawarkan operasi di mana menurut aku, aku kurang nyaman untuk operasi di situ," sambungnya.

Mulai dari situ, prestasinya sebagai atlet taekwondo mulai menurun. Kekuatan pada kakinya sudah tak sekuat dahulu, hingga akhirnya dia diminta untuk beristirahat dan dipulangkan ke Semarang.

Aghniny masih ingat betul bagaimana dirinya saat itu diminta untuk istirahat dulu dan pulang ke Semarang.

"Aku kena ajang degradasi, padahal waktu itu juga, 'Yaudah deh kamu libur dulu sekalian dipulangin biar pemulihan dulu. Nanti dipanggil lagi buat World University Games di Chinese, Taipei'," kenangnya.

Terpukul dan kecewa, Aghniny merasa dirinya tak pernah mendapat pelatihan untuk menghadapi masalah kehidupan lainnya di luar sana. Merasa hidup harus tetap berjalan, Aghniny berusaha bangkit.



"Hidup harus tetap berjalan, bukan kita lagi yang mau. Aku serius, aku nggak bisa main-main di sini (akting)," ungkapnya.

"Ada tawaran Wiro Sableng dan ingat lagi, 'Wah ternyata gini ya habis manis sepah dibuang.'. Maaf ya anak taekwondo aku ya menurut aku gitu. Yaudah aku juga takut untuk ambil kesempatan lagi, jujur waktu itu aku cuma tahu untuk latihan aja. Kita nggak dilatih untuk bagaimana cara menghadapi masalah kehidupan di luar sana," tegas Aghniny.
Halaman

(pus/wes)