Artika Dipanggil DPR
Kamis, 16 Jun 2005 16:14 WIB
Jakarta - Mengikuti ajang Miss Universe, Artika Sari Devi dipanggil Komisi VIII DPR-RI. Komisi yang membidangi Agama, Sosial dan Pemberdayaan Perempuan ini ingin mendengarkan keterangan Yayasan Putri Indonesia sebagai pihak pengirim.Mengenakan blazer putih, Artika tiba di gedung DPR pukul 14.00 WIB. Tak sendiri, ia didampingi Wardiman Djojonegoro dan Putri Kuswisnu Wardhani dari Yayasan Puteri Indonesia. Selain itu, tampak beberapa mantan puteri Indonesia, seperti Alya Rohali, Indira Sudiro, Melanie Putria dan Angelina Sondakh sebagai wakil dari Miss Indonesian Club (MIC).Acara dengar pendapat yang dimulai pukul 14.30 WIB ini dibuka dengan sambutan dari Wardiman Djojonegoro sebagai ketua Yayasan Putri Indonesia. Ia mengemukakan tentang alasan pengiriman Artika ke kontes Miss Universe 2005.MIC juga diberikan kesempatan angkat bicara. Diwakili Angelina Sondakh, mereka menganggap perlu adanya diskusi terbuka mengenai pengiriman wakil Indonesia ke ajang Miss Universe untuk tahun-tahun mendatang.Pada dengar pendapat yang hingga saat ini masih berlangsung, pro-kontra juga terjadi di antara anggota Komisi VIII. Salah satu anggota DPR yang bersuara keras menentang adalah Anshori wakil dari fraksi PKS. Ia menanyakan kepada Artika apakah benar ia telanjang dalam kontes kecantikan dunia tersebut. "Jika benar, berarti anda tidak pantas berada di sini," tegurnya keras.Selain itu, ia juga menuding Wardiman tidak pantas menjadi pimpinan Yayasan Putri Indonesia. "Ini yayasan untuk putri, kenapa yang memimpin putra?" argumen Anshori ditemui detikhot saat ke luar ruang pertemuan.Dalam pandangannya, ia menganggap keikutsertaan Artika sebagai konspirasi global. Sebagai contoh, ia menyebutkan isu foto bugil seorang waria yang dikira Artika. "Adanya hal tersebut membuat orang berpandangan putri-putri Indonesia terkesan buruk," tegasnya.Sementara itu, dua anggota komisi ini mendukung keikutsertaan Artika di ajang Miss Universe. Karena diikuti oleh 81 negara yang sudah maju, mereka mengganggap para putri yang mewakili negaranya masing-masing adalah orang-orang berprestasi. (ana/)











































