Menurut psikolog klinis, Liza Marielly Djaprie kepada detikHOT, Senin (15/5/2017), tidak hanya Marwa, ada banyak faktor yang menyebabkan seorang perempuan bisa bertahan dalam sebuah pernikahan. Meskipun pernikahan tersebut tidak membuatnya nyaman.
"Kalau misalnya gitu ada banyak faktornya yang buat perempuan tahan dalam masalah di pernikahan. Mungkin karena dia bersabar atau juga faktor ada anak-anak. Mungkin bersabar karena merasa ini komitmen gue, gue yang milih. Bisa juga bersabar karena ini status gue, merasa ada image yang harus dijaga. Sebenarnya bisa saja sih seharusnya," ungkap Liza.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kayak misalnya masih cinta gitu, mungkin gue masih bisa coba lagi nggak apa-apa deh. Di satu titik, gue nggak bisa ngapa-ngapain lagi yaudah deh mau gimana lagi," ujar Liza.
Bila sudah terjadi perceraian, akan sangat baik pasangan tersebut sama-sama meredam ego. Semua masalah bisa diselesaikan asal pasangan itu bisa melewati proses.
"Kalau buat saya yang seperti itu, agak susah juga ya. Terjadi suatu kerusuhan, pasti diawal-awal itu akan penuh dengan argumentasi, sakit hati, itu merupakan proses yang sangat wajar sekali harus dilalui," ungkapnya.
"Jadi bukan suatu hal yang harus gimana. Bisa nggak ini nggak harus sakit hati, sebenarnya susah juga sih ya. Cuma seiring dengan waktu proses itu membaik atau tidak. Untuk awal-awal sih secara kejiawaan, itu merupakan proses yang sangat wajar ketika kita berespons dengan argumentasi dengan sakit hati, marah," pungkas Liza. (pus/wes)











































