Obituari

Alex Komang, O Si Ayah Lintang...!

- detikHot
Jumat, 13 Feb 2015 23:26 WIB
Jakarta -

Ketika perfilman Indonesia disebut-sebut mengalami kebangkitan kembali di awal tahun 2000, masa kejayaan Alex Komang sudah lewat. Namun, bukan berarti panggung layar perak telah meninggalkannya. Generasi baru penonton film Indonesia kemudian mengenalnya sebagai pemeran ayah tokoh Lintang di film laris dan terkenal yang diangkat dari novel berjudul sama, 'Laskar Pelangi' (2008). Di film yang disutradarai Riri Riza itu, Alex berperan sebagai tokoh yang tragis, nelayan miskin yang tak kembali dari melaut untuk selamanya, sehingga anak-anaknya kemudian terlantar dan tak bisa meneruskan sekolah.

Ketika kabar meninggalnya Alex Komang menyebar di Twitter, barangkali banyak anak muda yang merasa, "seperti pernah mendengar namanya". Dan, begitu mereka googling, maka fakta yang pertama kali ditemukan, Alex Komang adalah si bapak Lintang. Sampai tahun lalu, jejak keaktoran Alex masih tertoreh di layar lebar, lewat film berbiaya raksasa yang diangkat dari novel karya penulis klasik ternama Joseph Conrad yang terbit pada 1895 berjudul 'Almayers Folly', menjadi 'Gunung Emas Almayer'.

Penampilannya khas, dan nyaris tak berubah dari waktu ke waktu: rambut ikal gondrong, dan brewok yang hampir menutupi seluruh bagian bawah wajahnya. Ketika berada di tempat umum, sekilas, orang mungkin akan lebih melihatnya sebagai seorang seniman ketimbang "bintang film". Lahir di Jepara pada 1961, karier keaktoran Alex Komang dimulai di Taman Ismail Marzuki, ketika ia "ditemukan" oleh sutradara film dan pimpinan Teater Populer, Teguh Karya. Selain tentu saja diajak untuk bergabung ke dalam Teater Populer, Alex juga kemudian bermain dalam film arahan Teguh, berjudul 'Doea Tanda Mata' pada 1985.

Sejak itu, pada tahun yang sama dan setahun berikutnya, ia kembali membintangi berturut-turut film Teguh Karya yakni 'Secangkir Kopi Pahit' dan 'Ibunda'. Film terakhirnya sebelum film Indonesia disebut-sebut "mati suri" adalah 'Pacar Ketinggalan Kereta'.

Film 'Ca Bau Kan' karya debut sutradara Nia Dinata yang meluncur pada 2002 menandai kembalinya Alex Komang di era kebangkitan film nasional. Sebagai aktor yang telah layak dilabeli senior, Alex memang tak segan-segan bekerja sama dengan sutradara-sutradara muda yang baru merintis karier. Hal itu ditunjukkannya lagi --setelah 'Laskar Pelangi' yang fenomenal itu-- dengan tampil di film karya sutradara Andi Bachtiar Yusuf berjudul Romeo Juliet (2009). Dua tahun lalu, pada 2013 Alex Komang membuktikan bahwa dirinya adalah aktor yang konsisten di jalurnya dengan Piala Citra yang diraihnya berkat perannya di film '9 Summers 10 Autumns' karya sutradara Ifa Isfansyah.

Peran ayah, atau seorang lelaki yang berwatak keras menjadi langganannya. Di 'Romeo Juliet' misalnya, ia berperan sebagai pentolan organisasi pendukung fanatik klab sepabola Persib, Viking, yang siap bertarung dan mati melawan "musuh bebuyutannya", Jakmania. Sebagai sutradara yang pernah bekerja sama dengannya, ketika mendengar kabar wafatnya sang aktor, Andi Bachtiar pun mengenangnya dengan menyebut nama tokoh yang diperankannya di film tersebut. "RIP Kang Parman...terus berkarya di sana, 17 take yang akhirnya gagal waktu itu akan terus gue kenang," ujarnya.

Sedangkan Nia Dinata mengenang Alex sebagai orang yang hatinya baik. Ia pun mengunggah foto-foto dari lokasi syuting 'Ca Bau Kan' bertahun yang lalu di akun Twitter-nya. Terakhir, Alex masih tampil di proyek serial televisi yang digarap Nia, berjudul 'Salon Cimey. Alex menjadi bintang tamu acara yang dipandu Melissa Karim itu di salah satu edisi pada Juli 2014. Nia sempat mengabadikan momen itu dengan foto bersama dengan pose "salam dua jari" --yang kala itu sedang menjadi euforia.

Menjelang akhir hayatnya, Alex Komang masuk ke birokrasi dengan menjadi Ketua Badan Perfilaman Nasional (BPI), sebuah lembaga baru yang dibentuk pada 2014, sebelum kemudian beralih ke Kemala Atmojo setahun berselang. Pada perhelatan Festival Film Indonesia 2015 di Palembang yang belum lama berlalu, Alex masih menjadi orang yang paling sibuk. Ketika menjabat Ketua BPI itulah, Alex terlihat sedikit berubah. Ia kerap mengenakan batik. Alasannya, karena harus bertemu dengan pejabat. Alex meninggal dunia di usia 53 tahun. Selamat jalan, sang seniman sejati!

(mmu/nu2)