"Air garam sebagai wakil air laut yang luas dan tidak pernah surut walaupun musim panas sekalipun, dimaksudkan sebagai bentuk ikhtiar agar rezeki tak pernah surut, walau saat musim kering melanda," jelas Subur kepada detikcom saat ditemui di kediamannya, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta, beberapa waktu lalu.
"Sementara kopi pahit dan kopi manis itu adalah wakil dari hidup yang pahit harus dijalani dulu untuk mendapatkan kehidupan yang manis dan nikmat, serta bijak dan berwawasan luas karena telah menjalani pahit-manisnya kehidupan," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Subur pun membantah tudingan yang menyebutkan bahwa ia menyebarkan ajaran sesat. Ia tak mau dirinya disebut sebagai paranormal atau pun dukun.
"Saya bukan dukun, paranormal, atau apalah namanya, saya hanya menjalankan amanah dari Eyang pengayom saya," tuturnya.
Sayangnya, Subur enggan menjelaskan lebih lanjut siapa 'eyang pengayom' yang dimaksudnya itu.
Masih penasaran dengan kisah Subur? Simak 'Fokus Heboh Eyang Subur' di edisi teranyar Majalah Detik. Klik di sini!
(hkm/mmu)











































