Melalui kuasa hukumnya, Venna mengungkapkan bahwa dirinya pernah ditalak oleh Ivan sebanyak tujuh kali. Venna pun kala itu pergi dari rumah dengan membawa koper berisi banyak barang.
"Ketika ditalak tujuh kali oleh suami dan pergi dari rumah sambil membawa koper yang sangat banyak terus ditunggu sebulan tak ada kabar, apakah hanya berdiam diri?" ungkap kuasa hukum Venna, Kemala Dewi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah menggugat cerai, Venna berusaha menutup diri dari media. Namun, berita yang berkembang kemudian dirasakannya menyudutkan dirinya.
"Sebenarnya saya tak mau ngomong ini. Saya tutup rapat-rapat dari dulu. Tapi kok saya dibunuh karakternya. Anak saya juga jadi nggak respek sama saya," ungkap Venna.
"Saya hanya berharap perceraian ini tidak ada yang merasa menang atau menjelekkan. Saya ingin merasa terhormat. Perceraian ini berat, saya kemarin menangis karena beritanya dipelintir," sesalnya.
Venna juga mengisahkan saat sidang perdana perkara cerai tersebut. Kala itu, ia memang terlihat menangis usai menjalani sidang.
"Saya ditanya sama hakim, 17 tahun bukan waktu yang singkat, apakah tidak ingin mediasi? Saya meneteskan air mata saat itu. Saya menangis haru. Begitu saya keluar ruang sidang, kalimat saya dipelintir. Saya dibilang menyesal telah menggugat cerai," ujarnya.
"Coba tanyakan siapa yang tidak mau mediasi? Saya ingin mempertahankan perkawinan ini. Kalau suaminya mau, mungkin mediasi tidak pernah gagal," tandas Venna.
(nu2/mmu)











































