Bahkan protes itu berlanjut pada 'perang dingin' antara ibu dan anak itu. Sang bunda melakukan puasa bicara selama dua bulan agar putrinya mengubah pilihan lokasi pernikahannya tersebut.
"Saya sempat ngambek dua bulan sama Dena, ndak saya ajak bicara," kenang Emilia sambil tersenyum simpul saat ditemui di sebuah mall di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (18/11/2011) siang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sejak lama sudah menunggu hari bahagia itu, saya ingin berbagi kebahagian bersama keluarga dan teman-teman saya," jelasnya.
Namun, lanjutnya, sikapnya mulai melunak dan memilih jalan yang lebih bijak. Hal itu terjadi seiring musyawarah yang dilakukannya bersama keluarga besarnya di Banyuwangi. Khususnya, nasihat dari sang nenek Denada.
"Saya akhirnya ikhlas dengan pilihan (lokasi pernikahan) putri saya. Dan kalau dipikir-pikir putri saya bukan anak kecil lagi kan?" tanyanya retoris diiringi tawa kecil.
Emil juga mengaku sangat memahami penjelasan yang diberikan putrinya. "Mbak Dena sejak kecil memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap Bali. Cita-cita yang belum terkabul ingin memiliki rumah di Bali," tuturnya.
(kmb/mmu)











































