"Mungkin banyak orang lupa Mas Franky adalah salah seorang pendiri PAN," ujar Tjatur, seolah membaca pertanyaan yang tersirat dari tatapan mata para pelayat lain.
Tjatur kemudian bercerita mengenai integritas Franky sebagai salah seorang pendiri PAN, yang memang lebih banyak di belakang layar. Ada peristiwa yang tak terlupakan oleh Tjatur pada Pemilu 2004. Kala itu, DPP PAN memutuskan Franky untuk menjadi caleg "jadi" nomor urut satu mewakili daerah Madura.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada saatnya tiba untuk memberikan jawaban, Franky datang bersama sahabatnya, Djoko Edi Sutjipto Abdurrahman (DESA). "Dengan kehalusan bahasa dan kerendahhatian, Mas Franky mengatakan dirinya sangat berterima kasih diberi kepercayaan, tetapi setelah berpikir panjang beliau mengatakan kurang cocok untuk menjadi anggota parlemen," cerita Tjatur.
Sebagai gantinya Franky meminta agar "kursi"-nya diberikan kepada DESA. "DESA ini sudah seperti saudara bagi saya, kalau dia di parlemen, sama saja saya di sana, Pak," begitu ujar Franky ditirukan kembali oleh Tjatur.
Permintaan Franky itu dikabulkan, dan jadilah DESA anggota DPR mewakili Dapil Madura. "Dan, seperti yang kita lihat, Mas Frangky terus berkarya melantunkan suara emas dan isi hatinya yang bening melihat realita sosial yang ada, bahkan sampai di penghujung hayatnya. Selamat jalan, Sahabat," ujar Tjatur.
(mmu/ich)











































