Itulah kisah bertajuk 'Mwathirika', sebuah pertunjukan teater boneka dari kelompok bernama Papermoon. Lakon unik tersebut akan dipentaskan di GoetheHaus, Jl. Sam Ratulangi No. 9-15, Menteng, Jakarta, Selasa (18/1/2011) pukul 19.30 WIB.
Disebut-sebut sebagai "sebuah karya tentang sejarah kehilangan dan kehilangan sejarah", kisah 'Mwathirika' diolah berdasarkan pengalaman pribadi kedua pendiri Papermoon Puppet Theatre Maria Tri Sulistyani dan Iwan Effendi. Kakek Effendi, seorang dalang, menjadi tahanan politik selama 13 tahun setelah peristiwa September 1965. Keluarganya yang berjumlah sembilan orang terlantar dan dikucilkan oleh masyarakat kampung, juga oleh kerabat dan kawan mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Papermoon Puppet Theatre didirikan pada 2006 di Yogyakarta oleh Maria Tri Sulistyani, seorang ilustrator, penulis dan mantan aktris teater, bersama Iwan Effendi, seorang perupa. Diawali dengan membuat pementasan teater boneka untuk anak-anak di kampung, kini Papermoon telah melakukan berbagai eksperimen seni dengan menggunakan media teater boneka di berbagai publik yang lebih luas.
Tak hanya menggelar berbagai pementasan di gedung pertunjukan, Papermoon pun berusaha membuat pementasan di pasar, kereta, rumah sakit, panti jompo dan lain-lain. Selain pementasan, Papermoon juga kerap menggelar workshop teater boneka dan menjadi tuan rumah residensi bagi seniman mancanegara dan lokal.
Di luar Yogyakarta, Papermoon telah menggelar pementasan dan workshop antara lain di Raja Ampat (Papua), Padang Pajang (Sumatra), Blora, Cilacap, Sukoharjo, Malang, New York, Baltimore, Philadelphia, Washington D.C., Korea Selatan, Malaysia dan Singapura. 'Mwatirika' sendiri merupakan karya penerima hibah program Empowering Women Artist dari Yayasan Kelola, HIVOS dan Ford Foundation.
(mmu/mmu)











































