'Rantau Berbisik' Tutup Art Summit Indonesia 2010

'Rantau Berbisik' Tutup Art Summit Indonesia 2010

- detikHot
Senin, 25 Okt 2010 11:27 WIB
Rantau Berbisik Tutup Art Summit Indonesia 2010
Jakarta - Seorang lelaki berkepala plontos meringkuk di atas meja. Panggung serupa ruang tamu yang sepi. Tiga perempuan muncul mendorong rak piring. Si kepala plontos yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan kain panjang merah itu mulai menari, seiring perempuan-perempuan tadi "memainkan musik" dari piring-piring yang dipukul berdenting-denting.

Tak lama kemudian, salah seorang dari perempuan itu beraksi seolah-olah pelayan restoran, dengan piring bertumpuk-tumpuk di kedua lengannya, melayani si pria plontos. Sampai di situ kita pun tahu, itu bukan ruang tamu yang sunyi, melainkan suasana kesibukan di sebuah rumah makan padang.

Itulah adegan pembuka dari petunjukan tari kontemporer bertajuk "Rantau Berbisik" yang dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (24/10/2010) malam. Repertoar sepanjang satu jam persembahan Nan Jombang Dance Company menutup ajang Art Summit Indonesia (ASI) 2010 yang berlangsung sejak 4 Oktober 2010. ASI adalah festival musik, tari dan teater bertaraf internasional yang digelar 3 tahun sekali. Pada penyelenggaraan tahun ke-6 ini, ASI menampilkan 10 grup dari Korea Selatan, Amerika serikat, Austria, Belanda dan Indonesia sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai pentas penutup, 'Rantau Berbisik' menyajikan sebuah pertunjukan yang manis. Dari segi tata panggung, repertoar ini tampil minimalis namun dengan sangat efektif memberdayakan benda-benda yang ada, seperti piring, meja dan kursi yang diberi rebana pada bagian sandarannya. Properti itu selain sebagai bagian dari pertunjukan, dengan cerdik sekaligus dimanfaatkan sebagai musik penggiring, yang ditabuh sendiri oleh para penarinya.

Ery Mefri (52), pendiri dan pimpinan Nan Jombang Company yang merupakan koreografer 'Rantau Berbisik', memadukan gerak tari dari tanah kelahirannya, Minang dengan unsur-unsur modern dan balet dan yoga. Hasilnya adalah gerakan-gerakan yang tangkas, tegas, sekaligus lentur dengan sesekali menimbulkan bunyi-bunyian dari pukulan telapak tangan pada bagian-bagian tubuh.

Dengan mengambil rumah makan padang sebagai metafora, Ery mencoba menggambarkan tradisi merantau lelaki-lelaki Sumatera Barat sebagai sebuah "perjalanan budaya". Nasi padang menjadi "bahasa" universal yang cukup mendominasi Jakarta dan restauran-restauran padang dari yang kakilima hingga yang mewah, menjadi tempat bertemu sesama perantau, semacam "langit yang dijunjung" bersama.

Menurut Tim Artistik ASI 2010 Putu Wijaya, festival seni kontemporer semacam ASI merupakan sebuah oase. "Acara seperti ini selalu harus ada kendati tidak ada musafir yang lewat. Keberadaannya akan menyulut keinginan mengembara bagi batin-batin yang memerlukan pengalaman baru," kata dia.

Dengan kata lain, Putu sebenarnya masih prihatin dengan sambutan masyarakat yang belum kunjung gegap-gempita walau ASI telah menjadi adegan rutin 3 tahunan. Namun, Putu optimis bahwa kehadirannya yang rutin itu akan membuahkan keinginan masyarakat untuk menambah apresianya terhadap karya-karya seni tari, musik dan teater kontemporer. (mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads