detikHot

book

Sapardi Djoko Meninggal, Keluarga di Solo Belum Sempat Jenguk ke RS

Minggu, 19 Jul 2020 16:48 WIB Bayu Ardi Isnanto - detikHot
Suasana rumah duka Sapardi Djoko Damono Saaprdi Djoko Damono meninggal dunia / Foto: Febri/detikcom
Solo -

Lima bulan tak berjumpa, keluarga Sapardi Djoko Damono mendapatkan kabar duka bahwa sang maestro sastra itu telah tiada. Keinginan mereka menjenguk Sapardi yang sudah lama sakit-sakitan pun urung dilakukan.

Keponakan Sapardi, Dina Ermawati, mengatakan terakhir bertemu pakdenya pada bulan Februari 2020. Dia saat itu berkunjung ke rumah Sapardi di Jakarta.

"Terakhir saya bertemu beliau Februari itu. Seminggu setelah itu pandemi. Lalu dapat kabar beliau sakit itu kita pengin jenguk tapi tidak bisa karena kondisinya pandemi," kata Dina saat dihubungi detikcom, Minggu (19/7/2020).

Dina menceritakan hubungan keluarga mereka yang dekat. Sebab ayah Dina adalah adik satu-satunya Sapardi. Namun ayah Dina lebih dahulu meninggal dunia.

Sapardi lahir dan tumbuh dewasa di Solo, yakni di kawasan Kecamatan Pasar Kliwon. Setelah lulus SMA, Sapardi melanjutkan kuliah Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta hingga akhirnya menetap di Jakarta.

Sementara keluarga di Solo terakhir kali pindah ke kawasan Kadipiro hingga sekarang. Meski terpisah jauh, kata Dina, mereka masih sering berkomunikasi.

"Kalau saya ke Jakarta pasti mampir. Kalau Pakde di Solo, acara bedah buku, pasti kita kumpul-kumpul, makan-makan. Terakhir ke Solo sudah lama, 2018," ujar dia.

Suasana rumah duka Sapardi Djoko DamonoSuasana rumah duka Sapardi Djoko Damono Foto: Febri/detikcom

Dina juga masih ingat momen ketika karya Hujan di Bulan Juni milik Sapardi menjadi film di bioskop. Keluarga besar mereka pun menonton film tersebut di bioskop Yogyakarta.

"Saat itu sampai bikin heboh bioskop, ternyata Pak Sapardi ikut nonton. Lalu banyak yang minta foto," kata Dina.

Sosok panutan keluarga

Sapardi, menurutnya merupakan sosok panutan. Tidak hanya di keluarga Sapardi, namun juga di keluarga Dina. Ayah Dina selalu menjadikan Sapardi sebagai contoh orang yang berhasil.

"Bapak saya selalu membanggakan, biar anak-anaknya kayak pakde, jadi panutan. Sejak kecil di mata kami beliau menginspirasi. Waktu sekolah itu sering ada soal bahasa Indonesia yang menyebutkan nama pakde, kita jadi bangga," kata dia.

Di mata keluarga, Sapardi adalah sosok menyenangkan dan lucu. Banyak petuah bijak yang selalu disampaikan kepada keluarganya.

"Kepada cucunya sering menasihati, menyemangati agar sukses. Kepada anak saya, selalu memberi semangat agar senang membaca, menulis terus, jangan putus asa," pungkasnya.




Simak Video "Cerita Dewa Budjana yang Gagal Kolaborasi Bareng Sapardi Djoko Damono"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/doc)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com