detikHot

book

Cerita Sapardi Djoko Damono soal Puisi Termahal Ciptaannya

Minggu, 19 Jul 2020 12:00 WIB Tia Agnes - detikHot
Sapardi Djoko Damono Foto: @sastragpu/ Sapardi Djoko Damono
Jakarta -

Sapardi Djoko Damono meninggal di usia 80 tahun. Sepanjang kariernya sejak tahun 1970an, pujangga Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai maestro sastra yang mendunia.

Ada satu puisi Sapardi Djoko Damono yang termahal dan juga melambungkan namanya sampai diundang ke berbagai festival sastra dunia.

Puisi itu memuat satu kalimat sederhana yakni Tuan, Tuhan bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar. Syair puisi itu disebut Sapardi Djoko Damono sebagai puisi termahal sepanjang kariernya sebagai penulis.

Sapardi Djoko Damono menceritakan karena puisi itu ia diundang ke negara-negara lainnya sampai ketika pulang ke Indonesia mampu membeli sebuah mobil.

Padahal ide puisi penyair kelahiran Solo, 20 Maret 1940 itu sangat sederhana. Suatu hari, ada seorang kerabat yang menyambangi kediaman pribadinya. Sahabat itu pun bertamu dan mengetuk pintu depan.

"Ada orang mengetuk pintu dan bertanya, Tuhan bukan? Lalu yang di dalam rumah menjawab seperti itu. Sederhana sekali," kata Sapardi terkekeh ketika peluncuran novel trilogi Soekram pada Maret 2015.

Sejak tahun 1983, Sapardi Djoko Damono mengikuti banyak komperisi menulis puisi. Di beberapa perlombaan, ia keluar sebagai pemenangnya.

"Saya datang ke Kuala Lumpur dan diundang banyak festival sastra di negara-negara. Pulang-pulang dibelikan mobil," lanjutnya.

Sapardi Djoko Damono mengatakan ketika menulis puisi ia banyak mendapatkan inspirasi sederhana. Dari peristiwa yang tampak sepela, Sapardi Djoko Damono mampu meramunya menjadi karya-karya yang terkenal.

Puisi Aku Ingin juga sukses melambungkan namanya. Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai penyair syahdu yang kata-katanya membuai para penggemarnya.

Sapardi Djoko Damono mengembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Eka, BSD, Tangerang Selatan, pada Minggu (19/7/2020) pukul 09.17 WIB.

Sepanjang kariernya sejak tahun 1970-an, Sapardi Djoko Damono menghasilkan karya puisi hingga novel yang sukses digemari. Puisi-puisinya pun tak lekang oleh waktu, di antaranya adalah Aku Ingin, Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, sampai Yang Fana Adalah Waktu.

Sejumlah penghargaan juga berhasil diraih Sapardi Djoko Damono di antaranya Cultural Award dari Australia pada 1978, SEA Write Award dari Tahiland pada 1986, Anugerah Seni dari pemerintah Indonesia di tahun 1990 hingga lifetime achievement di ajang Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2018.


(tia/aay)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com