DetikHot

book

Novel Erotis Demi Dolar, Demi Pemberontakan

Selasa, 25 Jul 2017 16:50 WIB  ·   Sudrajat - detikHOT
Novel Erotis Demi Dolar, Demi Pemberontakan Novel Erotis Demi Dolar, Demi Pemberontakan Foto: Detik X/ Goodreads
Jakarta - Salah satu alasan penulis novel bergenre horor Abdullah Harahap meragukan penulis novel erotis Enny Arrow adalah Eny Sukaesih Probowidagdo adalah karena dia seorang perempuan. Sepertinya bagi dia, pembicaraan vulgar dalam soal seks hanya pantas dilakukan oleh kaum lelaki.

"Penulisnya itu lelaki, kenalan saya juga. Orang Batak cuma sudah lama tinggal di Bandung, saya pernah jumpa di Dalem Kaum," kata Abdullah saat ditemui detikcom di kediamannya beberapa waktu lalu.

Lelaki kelahiran Sipirok, Sumatera Utara, 17 Juli 1943 itu sepertinya alpa dengan Angela Anaïs Juana Antolina Rosa Edelmira Nin y Culmell alias Anais Nin. Pada awal 1940-an, penulis perempuan berdarah Kuba dan Prancis itu banyak menulis cerita-cerita erotis.

Kumpulan cerita yang dibukukan menjadi 'Little Birds' terjual belasan juta kopi. Dia pun dinobatkan sebagai penulis perempuan pelopor cerita erotis.



Dalam pengantar buku itu, Nin mengaku di zamannya, orang menulis kisah erotis karena didorong rasa lapar. Bayaran selembar kisah erotis bernilai satu dolar sungguh lumayan untuk membeli sesuatu pengganjal perut. Dia berpendapat rasa lapar menuntun kepada fantasi seksual, bukan kepada energi melakukan kuasa seksual.

Setelah Nin, ada Pauline Reage alias Anne Desclos yang menulis 'The Story of O' di Prancis, 1954. Atau Sylvia Day yang pada 2012 menulis lima seri novel 'The Crossfire Series' yang terjual hingga 10 juta kopi di 40 negara.

Hinga era 1970-an, penulis perempuan yang menyisipkan cerita atau adegan erotis di Indonesia segera mengundang kecaman. Ketika NH Dini merilis 'Pada Sebuah Kapal' yang menyampaikan keberanian seorang tokoh perempuan untuk memilih jalan hidupnya sendiri, muncul tuduhan yang menyatakan bahwa novel tersebut mengumbar erotisme perempuan di dalamnya.

Tapi dianggap biasa ketika Motinggo Busye menulis Cross Mama, atau Gigolo (Asbari Nurpatria Krisna), Pengakuan Pariyem (Linus Suryadi A.G), dan Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari).

Tapi di pengujung Orde Baru muncul Ayu Utami lewat 'Saman' (1998) dan 'Larung' (2001). Lewat tokoh yang ia bangun dalam novelnya, Ayu ingin menjadikan sastra sebagai alat untuk mendobrak bias gender yang selama ini mengekang. Menurutnya, Shakuntala adalah karakter yang dimunculkan di tengah sistem patriarki yang sangat keras.

"Shakuntala (Novel Saman) merupakan kritik saya untuk patriarkisme yang merugikan bukan hanya anak laki-laki tapi juga anak perempuan," ungkapnya.



Dua karya ini seolah menginspirasi para penulis perempuan lain untuk juga berani berkisah seputar hubungan badan secara lebih terbuka. Salah satunya Djenar Maesa Ayu lewa 'Mereka Bilang, Saya Monyet' (2002) dan Nayla (2005) karya Djenar Maesa Ayu.

Memang sempat ada kecaman terhadap karya-karya mereka seperti pernah dilontarkan Taufiq Ismail. Penyair ini menyebut penulis yang asyik dengan wilayah selangkang dan sekitarnya sebagai SMS alais Sastra Mazhab Selangkang.


(jat/ken)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed