Membedah Sastra Erotis

Enny Arrow Mendobrak Rezim Orde Baru

Erwin Dariyanto - detikHot
Selasa, 25 Jul 2017 10:35 WIB
Enny Arrow Mendobrak Rezim Orde Baru Foto: Goodreads
Jakarta - "Front seat for me & all backstage pass with all the actress…," begitu komentar Bambang Supriadi dengan emoticon tertawa ngakak di status Facebook temannya yang memasang poster bertajuk "Diskusi Sastra Erotika, Membaca Enny Arrow". Temannya yang lain berlagak kuper bilang, "Siapa itu Enny Arrow, lek? Pemanah ya, ha-ha-ha".

Menilik antusiasme Bambang, juga temannya yang berlagak kuper itu, bisa dipastikan mereka tumbuh sebagai remaja di awal atau pertengahan 1980-an. Kala itu, membaca novel stensilan Enny Arrow tentu lebih memikat ketimbang 'Salah Asuhan' dan 'Siti Nurbaya' yang diwajibkan guru Bahasa Indonesia.

"Iya, dulu aku dan teman-teman di kelas membacanya sembunyi-sembunyi saat jam istirahat. Kita biasa saling tukar gitu," kata Bambang yang kini menjadi manajer madya di sebuah bank milik Pemda Jawa Tengah, saat dihubungi melalui telepon, Senin, 24 Juli 2017 malam.

Karena ukuran relatif kecil dan tebalnya tak sampai 30 lembar, terkadang stensilan itu diselipkan di tengah buku pelajaran.

Enny Arrow Mendobrak Rezim Orde BaruEnny Arrow Mendobrak Rezim Orde Baru Foto: Detik X


Diskusi Membedah Sastra Erotik Enny Errow tadinya akan digelar di sebuah kedai di Kota Semarang, Selasa (25/7) malam. Tapi kepolisian setempat tak memberi izin, alasannya pornografi.

Eka Kurniawan, penulis yang belakangan ini meraih sejumlah penghargaan internasional mengaku termasuk pembaca Enny Arrow. Saat di sekolah, dia pernah dihukum oleh guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP) karena ketahuan membaca novel stensilan tersebut.

"Ya, baca Enny Arrow juga seperti anak remaja lainnya, ha-ha-ha…. Kasihan sekali kamu kalau tidak membacanya, ha-ha-ha…," cerita lelaki kelahiran 28 November 1975 ini kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Bagi Eka, membaca novel stensilan Enny Arrow bukan sesuatu yang memalukan. Sastrawan satu generasi dengannya hampir semuanya membaca novel Enny. "Aku baca kayak gituan kan SMP-SMA. Aku membaca karena senang saja. Saat itu kan tidak punya daya kritis," ujarnya.

Dosen sastra Universitas Diponegoro Khotibul Umam yang semula akan menjadi salah satu pembicara, menyebut di era awal 1980-1990, novel-novel Enny Arrow begitu populer di kalangan pelajar dan remaja. Karya itu diperjualbelikan secara sembunyi-sembunyi dari mulai terminal, stasiun hingga pelabuhan.

Seringkali juga dijajakan di antara tumpukan buku teka-teki silang (TTS) yang diedarkan pedagang asongan di bus. Ia pun mengaku kala itu termasuk salah satu konsumennya. "Ketika kami puber, salah satu pintu gerbang selain komik ya cerita seperti ini (Enny Arrow)," kata Khotibul saat berbincang dengan detikcom.

Menurutnya, novel Enny Arrow merupakan fenomena representasi sosial dari masyarakat, khususnya remaja yang menginjak puber tapi tak punya wahana untuk penyaluran. Dari sisi marketing, penyebaran Enny Arrow yang sembunyi-sembunyi merupakan wujud perlawanan terhadap penerbitan mainstream di era Orde Baru.

Enny Arrow Mendobrak Rezim Orde BaruEnny Arrow Mendobrak Rezim Orde Baru Foto: Istimewa


Anehnya, ketika buku-buku beraroma kekiri-kirian dicegah, disensor, dan penulis maupun penerbitnya dipidanakan, kata Khotibul, aparat hukum kala itu justru seolah tutup mata terhadap karya-karya Enny Arrow.

"Karya Enny Arrow ini muncul di pengujung 1970-an atau awal 1980-an ketika (rezim) Orde Baru sedang kuat-kuatnya. Di sisi lain Orba menindas karya seni kekirian, tapi membiarkan Enny Arrow," ujarnya.

Agung Hima, Ketua OpenMind Community Semarang yang menjadi penyelenggara diskusi menyebut novel-novel Enny Arrow sebagai karya sastra dengan genrenya sendiri. Saking fenomenalnya, sampai sekarang ketika orang bicara soal sastra erotika maka yang muncul (pertama kali) adalah Enny Arrow.

"Bagaimana pun bentuknya, ketika ngomong soal erotika, mau tidak mau ya pionernya tetap Enny Arrow," kata Agung.

Sebagai akademisi, Khotibul Umam mempersilahkan jika ada pihak-pihak yang berpendapat novel Enny Arrow bukan karya sastra karena lebih banyak unsur cabulnya. "Tapi bagi saya yang peneliti sastra, meskipun tidak dianggap sastra, tapi itu (Enny Arrow) objek sastra," katanya.


(erd/ken)