Komik 'Peri Bahasa' menggambarkan sebuah dunia dimana bahasa memerankan peranan sangat penting. Menguasai bahasa sama dengan menguasai dunia. Dalam komik ini, Polisi Bahasa bertugas mengontrol penggunaan bahasa agar sesuai dengan kaidah yang berlaku. Disisi lain ada sekelompok orang yang menginginkan kebebasan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan diri yang disebut Peri Basa.
Dari situ, terjadilah pertentangan di antara keduanya yang mana ungkapan peribahasa dan pantun dijadikan sebagai sebuah senjata dalam setiap pertempuran. Setiap serangan dalam komik ini disebut karya. Artinya, di dunia komik Peri Bahasa, adu karya itu sama dengan saling adu jurus atau serangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komik 'Peri Bahasa' Ungkap Kekayaan Pantun dan Peribahasa Indonesia Foto: Istimewa/ KOSMIK |
Dalam keterangan pers yang diterima detikHOT, berikut rangkuman peribahasa dalam komik 'Peri Bahasa':
1. Diikat Tali Sehasta
Peribahasa ini termasuk yang paling sering digunakan dalam perjalanan cerita Peri Bahasa sejauh ini. Mira dan Siska (dua anggota Polisi Bahasa) mengeluarkannya berkali-kali di Bab 1, Bab 4, hingga Bab 6 nanti.
2. Jahit Sudah, Kelindan Putus
Peribahasa ini digunakan oleh Mira di Bab 1 untuk menghalau serangan Chairil, membuat serangannya terlihat terhalau hingga hilang dengan sendirinya.
3. Kaca Dihempas Batu
Masih di Bab 1, saat Chairil menyekap Mira dalam karyanya berupa dimensi buatan, dia bermaksud menggunakan karya "Kaca Dihempas Batu" untuk menghabisi Mira. Sayangnya serangannya ini malah meleset.
4. Kurang-Kurang Bubur, Lebih-Lebih Sudu
Di Bab 3, ini merupakan salah satu peribahasa andalan Ismail (Polisi Bahasa Senior). Satu ruangan nyaris ia hancurkan menggunakannya. Sentuhan-sentuhan kecil dari senjatanya membesar menjadi kerusakan-kerusakan hebat.
5. Seperti Sirih Pulang ke Gagang
Masih di Bab 3, untuk menetralisir efek dari "Kurang-kurang bubur, lebih-lebih sudu", Marah (Ketua Peri Bahasa) menggunakan peribahasa ini. Ajaibnya, semua efek kerusakan yang sudah terjadi lenyap dan kembali seperti sediakala.
6. Delapan Tapak Bayang
Salah satu peribahasa paling unik yang dihadirkan di Bab 5. Mira memunculkannya saat melawan Chairil, mengeluarkan delapan kaki yang menyembul dari lantai, biarpun sayangnya Chairil bergerak lebih cepat dan dapat menghindarinya.
7. Karam di Darat
Kembali di Bab 5, untuk melumpuhkan Chairil yang amat lincah, Mira mengeluarkan peribahasa yang satu ini. Walhasil kaki Chairil tiba-tiba melesak masuk ke dalam tanah dan dia tak bisa bergerak. Saat dikeluarkan sebagai karya, peribahasa ini melumerkan tanah yang dipijak hingga membuat orang yang ada di atasnya terjebak seperti masuk lumpur hisap.
(tia/dar)












































Komik 'Peri Bahasa' Ungkap Kekayaan Pantun dan Peribahasa Indonesia Foto: Istimewa/ KOSMIK