DetikHot

book

'The Little Paris Bookshop': Apotek Sastra dan Perjalanan yang Menyembuhkan Luka

Jumat, 17 Mar 2017 13:45 WIB  ·   Is Mujiarso - detikHOT
The Little Paris Bookshop: Apotek Sastra dan Perjalanan yang Menyembuhkan Luka Foto: Is Mujiarso
Jakarta - "Aku menjual buku seperti obat," kata Monsieur Perdu, 50 tahun, pria eksentrik yang menjual buku di atas kapal yang tertambat di Sungai Seine, Paris. "Ada buku yang cocok untuk sejuta orang, ada juga yang hanya untuk seratus orang. Bahkan ada obat —maaf, buku— yang ditulis hanya untuk satu orang," lanjutnya.

Itulah penjelasan yang diberikannya kepada Max Jordan, 21 tahun, novelis yang tengah menanjak namanya setelah debut novelnya 'Night' laris di pasaran dan mendapat banyak pujian. Namun, Perdu menolak menjual buku itu ketika seorang perempuan pengunjung toko bukunya yang unik itu hendak membelinya. Sang novelis yang diam-diam menyaksikan adegan itu, tentu saja tersinggung dan mempertanyakan. Apakah karyanya seburuk itu?

"Pengunjung tadi tidak butuh Night saat ini, dia takkan sanggup membacanya. Efek sampingnya terlalu parah," kata Perdu kalem. Max Jordan pun terheran-heran, sama seperti perempuan yang hendak membeli novelnya tadi, ketika Perdu mengatakan kepada sang calon pembeli, "Tidak, aku tidak mau menjual buku itu pada Anda," sambil dengan lembut diambilnya Night dari tangan wanita itu. Ketika Perdu bilang bahwa buku itu tak cocok untuknya, perempuan itu menyahut dengan sengit, "Aku datang ke kapal buku Anda untuk mencari buku. Bukan suami!"

Tapi, apa jawab Perdu? "Dengan segala hormat, apa yang Anda baca lebih penting dalam jangka panjang daripada pria yang Anda nikahi." Ketika wanita itu makin bingung dan marah, Perdu terus meracau, "Buku menepis kebodohan, juga harapan kosong. Dan pria-pria arogan. Buku menelanjangi Anda dengan cinta, kekuatan dan pengetahuan. Itu cinta dari dalam."

Dan, Perdu kemudian menyodorkan buku lain, 'The Elegance of the Hedgehog' karya novelis Prancis, Muriel Barbery sambil berkata, "Tolong dibaca lambat-lambat agar Anda bisa beristirahat sesekali. Anda akan banyak berpikir dan mungkin sedikit menangis. Untuk diri Anda sendiri. Untuk tahun-tahun yang telah berlalu. Tapi Anda akan merasa lega setelahnya."

"Anda benar-benar sinting," jerit wanita itu. Ya, Monsieur Pedu memang sesinting itu. Dan, novel ini akan mudah membuat Anda jatuh cinta kepadanya. Ini adalah novel karya penulis Jerman, Nina George yang telah menghasilkan 30 buku. Namun, baru setelah menulis 'The Little Paris Bookshop' (2013) ini ia berhasil menembus pasar internasional. Kini, novel yang menjadi best seller di Jerman ini bisa dinikmati dalam Bahasa Indonesia lewat terjemahan yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Dengan desain sampul berwarna ungu mencolok, bergambar Menara Eiffell yang menjulang, buku ini mudah dijumpai di antara tumpukan lain di toko. Sebuah novel dengan tokoh utama seorang lelaki "tua" yang simpatik, dan persahabatannya dengan seorang novelis muda yang seumuran anaknya (kalau dia punya anak), dan kisah cintanya yang gagal.

Perdu tinggal di apartemen di Rue Montagnard 27, dan kisah novel ini dibuka dengan kehadiran penghuni baru bernama Catherine, seorang perempuan yang telah diperlakukan oleh suaminya dengan semena-mena, ditinggalkan, hingga tak punya apa-apa lagi selain "ilusi yang hancur". Dia perlu banyak barang, dan pengurus apartemen menyarankan agar Perdu menyumbang sesuatu kepadanya. Tentu saja ia akan memberinya buku. Tapi, perempuan itu juga butuh meja. Dari sinilah, masa lalu Perdu kembali. Meja yang sudah lama tak dipakainya, yang kemudian diberikannya kepada Catherine ternyata menyimpan surat cinta lamanya dari perempuan yang dulu pernah hadir dalam hidupnya.

Kala itu, Perdu merasa tak akan sanggup membaca surat itu hingga dimasukkannya ke laci begitu saja. Kini, berpuluh tahun kemudian, Catherine menemukannya, dan itu menjadi pintu masuk bagi kedekatannya dengan perempuan itu, sekaligus mengantarkannya pada saat ketika mau tak mau ia harus membaca surat itu. Isinya sungguh mengejutkan, dan membuat Perdu menyesal. Namun, segalanya sudah terlambat. Sang penjual buku, yang dengan penuh percaya diri menyebut toko di atas kapalnya sebagai "apotek kesusastraan", yang dengan buku-bukunya telah mengobati perasaan banyak orang, kini harus menyembuhkan perasaannya sendiri.

Dalam kekalutannya atas rasa bersalah karena telah menelantarkan surat penting dari perempuan yang dicintainya itu, Perdu akhirnya memutuskan untuk mengangkat sauh, melepas kapalnya dari tambatan dan pergi, meninggalkan Catherine, perempuan yang baru saja mengisi hatinya dengan kisah baru. Ia tahu segalanya sudah terlambat. Namun, diam saja dengan segala tekanan batinnya juga bukan pilihan. Saat kapalnya mulai bergerak, Max Jordan berlari-lari dari kejauhan. Dengan nada memohon, Perdu berteriak-teriak agar anak muda itu menghentikan langkahnya. Namun, beberapa menit sebelum kapalnya benar-benar jauh dari tepi sungai, Jordan berhasil melompat, dan sebuah perjalanan pun dimulai.

'The Little Paris Bookshop' sebenarnya sebuah kisah cinta, bertema kasih tak sampai yang menyesakkan dada, namun pengarangnya begitu jeli membungkusnya menjadi sebuah drama yang memikat lewat alur cerita yang tak terduga. Buku ini punya aura yang positif, menyenangkan dan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pembacanya. Bahasanya dinamis, lincah dan berbunga-bunga. Tokoh-tokohnya adalah orang-orang yang romantis, yang percaya bahwa cinta adalah sesuatu yang misterius dan tak bisa sepenuhnya dikendalikan. Dari segi tema, "kasih tak sampai" barangkali memang sudah menjadi bacaan biasa. Namun, di tangan penulis yang memiliki kekayaan referensi seperti Nina George, ia bisa menyampaikannya dengan berbeda; eksotik, juga dengan bumbu erotis, lewat karakter-karakter yang unik.

Membaca novel ini, rasanya tidak sekedar mengikuti serunya perjalanan Monsieur Perdu menyusuri wilayah selatan Prancis, bersama novelis muda yang "melarikan diri" dari kebuntuan menulis. Pembaca sekaligus akan merasakan seolah-olah menjadi "pasien" sang apoteker sastra. Pembaca dibuat tersadar bahwa barangkali selama ini mengalami "perasaan yang tak diakui sebagai penyakit dan tak pernah didiagnosis oleh dokter". Yakni:

"Semua perasaan dan emosi kecil yang tak membuat ahli terapi manapun tertarik, karena tampak terlalu sepele dan abstrak. Perasaan yang menyapu kita saat musim panas lain hampir berakhir. Atau, ketika kita menyadari bahwa seumur hidup kita belum mengetahui di mana kita harus menempatkan diri. Atau perasaan agak sedih ketika persahabatan tak berjalan sesuai harapan sehingga kita harus melanjutkan pencarian untuk menemukan teman seumur hidup. Atau perasaan gundah pada pagi hari ulang tahun. Nostalgia masa kecil kita. Hal -hal seperti itu."

Buku ini memiliki efek tak terduga, "meredakan penderitaan yang tak dapat dijelaskan namun nyata". Sebuah "obat untuk penyakit rohani yang tak dapat dijabarkan".









(mmu/mmu)

Photo Gallery
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed