Dikutip dari Guardian, Rabu (25/1/2017), novel yang terdiri dari 50.000 kata itu mengibaratkan karakter dalam buku sebagai Pangeran Fracassus. Dia mewariskan Kerajaan Origen yang terkenal dengan gedung pencakar langit emas dan juga terdiri dari kasino.
Simak: Happy Salma Segera Pentaskan Lakon tentang Chairil Anwar
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Fiksi tidak selalu sesuai dengan kenyataan saat ini. Awal tahun lalu saya berada di Amerika Serikat untuk mempromosikan [My Name Is] Shylock dan menonton Trump di televisi. Dia luar biasa," ujarnya.
Setelah Pemilu, dia setiap hari hampir menulis halaman demi halaman yang ada di dalam buku. "Pussy adalah buku tercepat yang saya tulis karena saya biasanya adalah penulis yang lambat," tambahnya lagi.
Dia pun sengaja menulis buku yang terinspirasi dari Trump itu dengan genre dongeng serta penuh fantasi. "Salah satu hal yang saya lakukan ketika masih menjadi mahasiswa di Cambridge di tahun 1964 adalah menulis dongeng 'The Ogre of Downing Castle' yang terinspirasi dari guru saya," tutupnya.
(tia/mmu)











































