Kisah di Balik Penjurian 343 Naskah Sayembara Novel DKJ 2016

Kisah di Balik Penjurian 343 Naskah Sayembara Novel DKJ 2016

Tia Agnes - detikHot
Kamis, 15 Des 2016 16:23 WIB
Kisah di Balik Penjurian 343 Naskah Sayembara Novel DKJ 2016
Foto: Dewan Kesenian Jakarta
Jakarta - Sayembara Novel menjadi salah satu agenda tahunan dari Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Untuk tahun ini, tim dewan juri menerima 343 naskah yang masuk ke panitia.

Setelah memasuki tahap seleksi administrasi, naskah yang dinyatakan layak untuk dinilai sebanyak 317 judul. Naskah yang lolos tahap ini kemudian memasuki tahap penjurian pertama dengan dewan juri yang terdiri atas Bramantio, Seno Gumira Ajidarma, dan Zen Hae.

Di tahap penjurian kedua pada 5 November, terpilihlah 25 naskah nominasi. "Dua puluh lima naskah itu kemudian kami baca kembali dengan saksama dan pembahasan hasil pembacaan di kantor DKJ pada 19 Desember lalu," kata anggota tim juri Zen Hae, Rabu (14/12/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Juri melihat, naskah yang masuk Sayembara Novel DKJ 2016 kali ini masih mengandung sejumlah masalah utama. Pertama, cerita tidak mengalir dengan wajar, dan tersendat di sana-sini akibat adanya agenda untuk membangun realisme. Kedua, dialog tidak lentur. Ketiga, pencerita tidak jelas posisinya.

Masalah umum yang keempat, riwayat kekerasan dan luka Indonesia. "Cerita tentang kekerasan dan luka Indonesia menjadi bahan bakar cerita yang paling digemari," kata Zen.

Kelima, membicarakan terlalu banyak hal sehingga kehilangan kesatuan cerita. Keenam, janji yang tidak dituntaskan, sehingga kehilangan daya di tengah cerita. Namun, dewan juri menyambut baik minat masyarakat atas hajat tahunan tersebut.

Baca Juga: Naskah 'Semua Ikan di Langit' Menang Sayembara Novel DKJ 2016

"Sayembara Menulis Novel DKJ 2016 menjadi pembuktian akan adanya kerja keras dan penuh perhitungan para penulis kitaβ€”yang kebetulan masih berusia muda. Mereka berhasil menawarkan kebaruan dan kesegaran kepada khazanah novel Indonesia hari ini tanpa harus melupakan khazanah sastra," tutur Zen.

(tia/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads