Rambut Ibu

ADVERTISEMENT

Cerita Pendek

Rambut Ibu

Haniah Nurlaili - detikHot
Sabtu, 12 Nov 2022 10:15 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Setiap sore menjelang senja, ibu akan duduk di teras depan. Duduk terdiam menatap pintu gerbang, berharap seseorang akan muncul dari luar. Jika ia merasa orang yang ditunggu tak kunjung datang, ia akan mengelus-elus rambutnya, lantas mengajaknya bicara. Dan biasanya aku hanya mampu mengamati dari dalam sambil mengelap air mata.

Saat aku berusia lima, aku pernah melompat-lompat di atas ranjang dan tak sengaja menginjak rambut ibu yang waktu itu sedang berbaring. Alih-alih memarahiku, ibu malah mengelus-elus rambutnya, takut mahkotanya gugur walau satu dua helai saja. Ibu memang sangat mencemaskannya. Aku yang waktu itu masih kecil, belum merasa bahwa perlakuan ibu pada rambutnya agak berlebihan.

Saat aku berusia tujuh, aku diam-diam masuk ke kamar mandi ibu. Aku penasaran mengapa ibu begitu lama jika berada di kamar mandi. Kulihat di rak yang tergantung di dinding, terdapat berbagai macam produk perawatan rambut. Ada sampo urang-aring, minyak kemiri, botol berisi sesuatu berwarna putih seperti susu (yang ternyata adalah bilasan santan), botol bertuliskan hair tonic, kondisioner, dan beberapa batang lidah buaya.

Kala itu aku memang belum cukup tahu semua kegunaan benda-benda itu, tapi setelah dewasa aku mengerti, pantas saja rambut ibu sangat berkilau, indah, dan menawan. Jika aku melihat bintang iklan sampo di televisi, aku seperti melihat ibuku sendiri.

"Ibu tidak ingin memotong rambut?" tanyaku saat berusia sepuluh. Aku hanya penasaran, mau sepanjang apa rambut ibu nanti. Sekarang saja sudah sampai pinggang.

Ibu hanya menggeleng pelan.

"Jani ingin tahu, mengapa ibu sangat mencintai rambut ibu?"

"Karena rambut ibu ini milik ayah."

Aku terdiam untuk beberapa saat, menunggu penjelasan dari ibu. Aku yang masih duduk di kelas lima tentu sulit mencerna jawabannya barusan. Setahuku, semua anggota tubuh kita adalah milik kita sendiri. Sejak kapan rambut ibu menjadi milik ayah?

Sampai aku cukup dewasa, aku tak pernah mengerti mengapa rambut ibu adalah milik ayah. Yang aku tahu, ibu memang sangat mencintai rambutnya. Ibu akan menggerainya sepanjang hari, tak peduli cuaca sedang terik. Apalagi jika menuju jam pulang ayah, saat matahari akan terbenam. Ibu akan mengelus rambutnya, bahkan bisa berjam-jam.

Aku tak paham lagi dengan apa yang dilakukan ibu. Saat itu aku beranjak remaja, dan aku malah memangkas rambutku sependek-pendeknya. Memang, aku selalu terkesima dengan rambut berkilau ibu yang seperti iklan di televisi. Namun rasa gerah yang kurasakan di sekolah tak mampu membuatku kepincut untuk sedikit pun memanjangkan rambut.

Matahari sudah terbenam, adzan maghrib baru saja berkumandang. Aku segera menuntun ibu masuk ke dalam.

"Ayahmu belum pulang, Jani. Biarkan ibu menunggunya di teras."

Aku tak kuasa lagi menatap matanya yang sudah sayu. Rambutnya yang dulu hitam legam, kini telah memutih secara perlahan.

***

Aku tahu persis kapan perilaku ibu berubah menjadi agak linglung. Saat itu aku umur lima belas. Pada suatu sore sepulang sekolah, aku makan sambil menonton televisi di ruang tengah, sedangkan ibu pergi ke swalayan. Tiba-tiba dari pintu depan, ada suara ketukan pintu, pertanda ada tamu. Ketika aku buka, seorang wanita muda cantik berdiri di hadapanku. Ia mengenakan terusan selutut berwarna merah tanpa lengan, sepatu hitam dan tas tangan berwarna senada.

Ia menggunakan riasan bold di wajahnya dengan polesan lipstik berwarna merah menyala. Menurutku dandanannya agak berlebihan, seperti orang yang pulang dari kondangan. Tetapi entah mengapa dia tetap terlihat cantik, karena ada sesuatu yang nampak familiar pada dirinya. Setelah kuamati, iya betul, rambutnya. Wanita itu memiliki rambut yang sama persis dengan ibuku. Hitam legam dan menawan, tetapi sedikit lebih panjang.

"Ayahmu ada?" Dia menyibakkan rambutnya ke belakang, membuat lengannya yang putih bersih terlihat jelas.

Aku terhenyak.

"Ayah belum pulang dari kantor," jawabku singkat, tanpa berusaha mempersilakan dia untuk masuk. Pikiranku masih kemana-kemana, belum ada jawab mengenai wanita ini siapa dan berasal dari mana.

Dia hanya tersenyum kemudian berbalik badan, seakan-akan tahu bahwa ayah sudah ada di depan pintu gerbang. Aneh, seharusnya masih dua jam lagi ayah pulang, kenapa tiba-tiba ayah sudah muncul di halaman?

Tak lama kemudian mereka mengobrol dan terlihat sangat akrab. Seperti dua orang yang lama tak jumpa. Sesekali ayah melirik ke arahku. Air mukanya sulit kujelasakan. Ayah nampak sangat senang, tetapi agak ditahan. Setelah mengobrol beberapa menit, ayah berpamitan padaku akan keluar sebentar dengan wanita itu. Namun malang, hingga saat ini, ayah tak pernah kembali.

***

"Mahkotamu adalah duniaku, dan aku tak akan pernah berpaling."

Saat itu usiaku empat belas, dan tak sengaja lewat di depan kamar ibu yang sedikit terbuka. Aku mengintip sebentar, kulihat ayah membelai rambut ibu dengan penuh kasih sayang. Aku menjadi agak paham mengapa ibu sangat menyayangi rambutnya. Mungkin ini yang dimaksud dengan kalimat ibu bahwa rambutnya adalah milik ayah. Karena jika aku beranggapan bahwa ibu sangat mencintai rambutnya, pada kenyataannya adalah ayah yang lebih mencintai rambut ibu.

Terbukti pada saat aku berumur sebelas, rambut ibu rusak parah. Aku memberi saran untuk dipendekkan saja. Tetapi ibu hanya memotong ujungnya, kemudian ayah membawa ibu ke salon terbaik di kota ini untuk melanjutkan perawatan yang lebih maksimal. Ayah akan melakukan apapun demi menjaga rambut ibu tetap indah. Dan memang, rambut ibu kembali berkilau sepanjang hari.

Aku sempat berandai-andai jika suatu saat aku dewasa nanti, aku akan mengikuti jejak ibu untuk memanjangkan rambut. Karena aku iri melihat kasih sayang ayah pada ibu lewat rambutnya. Apalagi kata-kata manis ayah pada ibu setiap harinya. Menjadi wanita yang selalu dicintai tentu sangat menyenangkan, pikirku kala itu.

"Kita lapor polisi saja ya, Bu."

Aku sudah tak kuat lagi melihat ibu kelimpungan selama seminggu ayah menghilang. Ibu menelepon sana-sini, dari semua orang di kantor entah itu direktur hingga office boy. Dari semua saudara dekat hingga saudara jauh. Dari semua relasi yang jarang berkomunikasi hingga kenalan yang sering didatangi. Melapor pada polisi tentu adalah jalan terbaik, karena kupikir mereka sudah ahli dalam menangani kasus orang hilang seperti ini.

Tetapi ada satu yang kulewatkan. Sebagai saksi kunci yang melihat keberadaan terakhir ayah, aku tak tahu sedikitpun mengenai identitas wanita muda itu. Apa polisi bisa mencarinya hanya dengan ciri-ciri yang kusebutkan? Apalagi ciri-ciri itu dimiliki oleh wanita kebanyakan. Rambutnya? Ah, aku sangsi. Banyak juga wanita yang memiliki rambut hitam legam. Aku jadi menyalahkan diriku sendiri. Apa susahnya saat itu menanyakan namanya? Dan benar saja, sampai bertahun-tahun kemudian, polisi tidak berhasil menemukan keberadaan ayah.

***

"Mengapa ibu sangat mencintai rambut ibu?"

Kuulangi pertanyaanku saat aku duduk di kelas lima. Hari ini, usiaku tepat dua lima, dan tepat sepuluh tahun ayah menghilang tanpa kabar. Jika biasanya aku hanya melihat ibu mengelus rambutnya dari dalam sambil menangis, hari ini aku beranikan diri duduk di sampingnya. Aku sudah dewasa. Aku akan menerima semua yang terjadi dengan lapang dada. Mungkin wanita itu adalah istri kedua ayah, atau cinta lama ayah, atau lebih pahitnya lagi adalah selingkuhan ayah. Entah.

Biarlah semua itu menjadi misteri. Yang ingin kulakukan sekarang adalah membahagiakan ibu, tentu saja setelah aku berdamai dengan diriku sendiri. Selama bertahun-tahun ini aku mencoba melupakan perlakuan ayah yang begitu tega pada dua orang yang mencintainya. Ketulusan ayah hanyalah semu belaka.

"Karena rambut ibu ini milik ayah."

Ya, pasti itu jawaban yang keluar dari mulut ibu. Ingin sekali kubisikkan pada ibu yang sedang membelai rambutnya, bahwa rambut ibu memanglah milik ibu sendiri, bukan milik ayah. Segala sesuatu yang ada dalam diri kita adalah kuasa kita sendiri. Jangan berharap pada siapapun untuk mencintai kita karena sesuatu yang kita punya. Ayah yang terlihat tulus mencintai ibu, nyatanya pergi begitu saja. Hanya karena wanita yang lebih muda dan mempunyai mahkota lebih indah? Mungkin alasan itu terlalu naif, tentu hanya ayah yang tahu pasti.

"Bu, kita potong saja ya rambutnya?"

Aku menggenggam tangan ibu yang hangat. Aku ingin berbisik pada ibu, mari kita memulai hidup baru. Jika dulu ibu beranggapan bahwa memanjangkan rambut sama dengan memanjangkan harapan ayah akan pulang, aku akan memupus harapan itu dengan cara memangkas rambut ibu. Tak ada gunanya, rambut yang semakin panjang itu tidak akan membawa ayah pulang.

Matahari sebentar lagi terbenam, segera kutuntun ibu masuk ke dalam. Aku bahagia karena untuk pertama kalinya ibu tersenyum sambil menatap mataku.

"Besok antarkan ibu ya."

Semburat mega yang menerobos masuk lewat jendela membuat rambut ibu yang sudah memutih seketika menjadi hitam legam dalam pandangan.

Haniah Nurlaili lahir di Sragen, 27 Mei 1989. Cerpen-cerpennya dimuat di Harian Solopos dan Joglosemar



Simak Video "Rahasia Cantik dan Awet Muda Sarah Azhari"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT