ADVERTISEMENT

Cerita Sidik W Martowidjojo Lukisannya Pernah Dicekal Pak Harto

Tia Agnes Astuti - detikHot
Kamis, 29 Sep 2022 08:42 WIB
Pameran Tunggal Sidik W Martowidjojo di Museum Nasional hingga 27 Oktober 2022
Sidik W Martowidjojo menceritakan lukisan-lukisannya pernah dilarang beredar saat rezim Soeharto.Foto: Tia Agnes/ detikcom
Jakarta -

Nama Sidik W Martowidjojo bukan sembarang seniman. Dia adalah pelukis Indonesia pertama yang karya-karyanya pernah dipamerkan di Museum Louvre, Prancis, pada 2014 dan mendapat pengakuan dunia internasional.

Dikenal dengan julukan 'Pit Mabuk' dan sukses menggabungkan teknik melukis gaya Barat serta Timur, karya-karya Sidik W Martowidjojo disukai para kolektor. Tapi perjalanan kariernya sebagai seniman tidak semulus biasanya.

Kepada detikcom, Sidik W Martowidjojo menceritakan lukisannya pernah dicekal dan dilarang beredar oleh Soeharto di masa pemerintahannya.

"Tahun 1968 sampai 1992, saya mulai tidak melukis lagi karena dilarang oleh Pak Harto," ungkapnya saat ditemui di sela-sela pembukaan pameran tunggal Voyage to Wisdom di Museum Nasional Indonesia, Rabu (28/9/2022).

Pada 1994, ia mulai melukis lagi. Sidik mengatakan tidak tahu pasti apa alasan dari presiden kedua Indonesia itu mencekalnya.

Pameran Tunggal Sidik W Martowidjojo di Museum Nasional hingga 27 Oktober 2022Pameran Tunggal Sidik W Martowidjojo di Museum Nasional hingga 27 Oktober 2022 Foto: Tia Agnes/ detikcom

Dia hanya tahu kemungkinan saja Soeharto tidak menyukai gaya teknik melukisnya yang khas China. "Mungkin anti," kilahnya.

Meski begitu, ia tidak mendapat ancaman maupun tekanan lainnya. Sidik baru mulai melukis lagi setelah gairah dan tidak ada tekanan dari pemerintah saat itu.

Di pameran tunggalnya kali ini, Sidik sebenarnya ingin ada generasi seniman muda yang meneruskan perpaduan teknik melukisnya.

"Menurut saya, karya-karya saya ini memberikan contoh supaya generasi muda juga bisa membuatnya. Saya ini bukan seniman buat 'cari duit' kok, tapi ya sudah. Kita ini manusia hanya seperti persinggahan," ungkapnya.

"Lukisan saya perpaduan antara gaya Barat dan Timur, dan sampai sekarang tidak ada yang seperti itu," tambahnya.

Sejak kecil, pria yang bernama asli Ma Yong Qiang telah belajar melukis. Lahir di Malang, Jawa Timur, pada 1937, bakat melukisnya telah diasah sejak kecil dan telah menghasilkan lebih dari 1.000-an karya.

Pameran Tunggal Sidik W Martowidjojo di Museum Nasional hingga 27 Oktober 2022Pameran Tunggal Sidik W Martowidjojo di Museum Nasional hingga 27 Oktober 2022 Foto: Tia Agnes/ detikcom

Dari ribuan karya itu, ia mengaku ada ratusan yang tak disukai. Tapi ia terus membuat karya lagi yang berbeda dengan dua teknik yang dikuasai.

Dia berhasil mendapat penghargaan dari Louvre Internationals Arts di Carrousel du Louvre, Paris, Prancis pada 11-14 Desembar 2014. Sidik juga memenangkan penghargaan lain dari kompetisi lukisan berskala internasional.



Simak Video "Potret Malam Affandi, Pameran 32 Tahun Kematian Sang Maestro Lukis"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/nu2)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT