ADVERTISEMENT

Alasan Happy Salma dan Nicholas Saputra Boyong 90 Seniman Bali ke Jakarta

Tia Agnes Astuti - detikHot
Minggu, 11 Sep 2022 15:04 WIB
Nicholas Saputra
Alasan Happy Salma dan Nicholas Saputra Boyong 90 Seniman Bali ke Jakarta. (Foto: Tia Agnes/ detikcom)
Jakarta -

Titimangsa Foundation menggelar produksi ke-59 yang berjudul Sudamala: Dari Epilog Calonarang di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia pada 10-11 September 2022.

Di balik sukses pertunjukan tersebut, ada dua produser andal yang berhasil mewujudkannya. Mereka adalah Nicholas Saputra dan Happy Salma.

Nicholas Saputra yang tinggal lama di Ubud, Bali, sejak dua tahun terakhir mengaku melihat banyak pertunjukan Calonarang yang dipentaskan dan jarang dilihat publik. Dari situ, Happy Salma menggaet Nico untuk terlibat dalam pementasan terbesar Titimangsa Foundation.

"Alasan mengapa saya berani memproduksi, terutama karena dilakukan bersama Titimangsa. Saya kenal cukup lama lalu mengikuti perkembangan Titimangsa yang bikin banyak teater dengan skala besar dan berbeda-beda," ungkap Nico.

Selama tinggal di Ubud, ia melihat ada banyak pementasan Calonarang yang berbeda.

"Saya melihat banyak hal yang belum dilihat sebelumnya dan mau berbagi pengalaman itu dengan teman-teman Jakarta, sangat luar biasa. Diskusi demi diskusi membawa ini kepada keputusan menampilkan Calonarang," sambungnya.

Di Bali, acara kebudayaan Calonarang kerap digelar secara rutin. Calonarang diselenggarakan dengan berbagai macam alasan, ada yang sifatnya hajatan, pembersihan suatu wilayah sampai keluarga tertentu.

Happy Salma menceritakan ide mengenai pertunjukan Sudamala: Dari Epilog Calonarang itu terlintas tahun lalu usai menggelar Taksu Ubud di Bali.

"Usai pementasan, Cokorda Gde Bayu memperlihatkan katalog Exposition Coloniale Internationale Paris 1931. Pada perhelatan yang diselenggarakan kaum kolonial itu, Calonarang tampil di Paris selama 6 bulan bersama Legong dan Janger. Hal tersebut semakin memantik keberanian kami untuk membuatnya," kata Happy Salma.

Dengan bimbingan dari budayawan Tjokorda Raka Kerthyasa yang juga adalah ayah mertuanya, mereka pun diarahkan bertemu dengan beberapa maestro seni tradisi dan pertunjukan di Bali.

Selain mereka berdua, pertunjukan Sudamala juga melibatkan Wawan Sofwan sebagai dramaturgi, Iskandar Loedin sebagai artistik, dan I Wayan Sudirana bersama Gamelan Yuganada juga di posisi musik. Kostum dirancang oleh AA Ngurah Anom Mayun Konta Tenaya dan Retno Ratih Damayanti.

(tia/mau)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT