ADVERTISEMENT

Tertunda 2 Tahun, Pertunjukan Under the Volcano Siap Berlabuh di Jakarta

Tia Agnes Astuti - detikHot
Kamis, 18 Agu 2022 18:25 WIB
Jumpa Pers Pertunjukan Under the Volcano di Ciputra Artpreneur Jakarta
Jumpa pers Under the Volcano digelar di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta pada 27 Agustus 2022. Foto: Tia Agnes/ detikcom
Jakarta -

Setelah tertunda dua tahun lamanya, pementasan teater bertaraf internasional Under the Volcano garapan Bumi Purnati Indonesia siap digelar. Pentas yang berkolaborasi dengan Komunitas Seni Hitam Putih Sumatera Barat diselenggarakan pada 27 Agustus pukul 16.00 dan 20.00 WIB di Ciputra Artpreneur Theater, lantai 11 Lotte Shopping Avenue, Jakarta.

Sebelum dipentaskan di Jakarta pekan depan, Under the Volcano sukses digelar di tiga tempat lainnya. Pertama kalinya di acara Olimpiade Teater ke-6 di Dayin Theatre, Beijing, Tiongkok pada 7 dan 8 November 2014.

Pada 21-23 April 2016, Under the Volcano kembali mengulang kesuksesan saat pementasan di TheatreWorks, Singapura dan terakhir di 24 November 2018 juga ditampilkan di ajang Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2018 di Panggung Akshobya Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Direktur Artistik Bumi Purnati Indonesia, Restu Kusumaningrum, setelah tertunda dua tahun keran pandemi dan pembatasan sosial, Under the Volcano tetap memilih Jakarta sebagai perlabuhan.

"Karya ini sudah dibuat sejak tahun 2014, kita (Bumi Purnati Indonesia) dan sutradara Yusril Katil sudah bekerja sama dan terus merakit. Kami terus memenuhi permintaan festival internasional. Waktunya kami pentas di Jakarta dengan memakai bahasa Minang, dengan terjemahan di layar ada bahasa Inggris dan Indonesia," kata Restu saat jumpa pers di Ciputra Artpreneur, Jakarta.

Jumpa Pers Pertunjukan Under the Volcano di Ciputra Artpreneur JakartaJumpa Pers Pertunjukan Under the Volcano di Ciputra Artpreneur Jakarta Foto: Tia Agnes/ detikcom

Pentas Under the Volcano adalah sebuah karya yang mengangkat isu bencana alam. Terinspirasi dari syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh yang ditulis pada 1883.

Komunitas Seni Hitam Putih yang berasal dari Padang Panjang melihat apa yang digambarkan Muhammad Saleh dalam syairnya masih relevan dengan situasi di kampung halaman mereka yang harus selalu waspada terhadap bencana alam.

Sutradara Yusril Katil mengatakan proses produksi Under the Volcano terbilang panjang dan sudah terjadi jauh sebelum pandemi.

"Kampung kami berada di Padang Panjang dan jauh dari kota, orang belum tahu dengan kami. Nah ini, yang membuat kami terus bersemangat dan proses ini tidak sebentar. Kota kami selalu dihantui oleh bencana alam gempa karena dikelilingi dua gunung aktif," terang Yusril Katil.

Menurutnya, ketika Komunitas Seni Hitam Putih berkenalan dengan Bumi Purnati Indonesia dan dramaturg Rhoda Grauer, pihaknya mengambil kesempatan untuk berkarya.

"Isu-isu yang dihadirkam kami bukan soal menyangkut kemanusiaan saja, kita mau bicara juga soal gimana melihat diri sendiri. Berada dalam ketakutan atau kengerian, cara mengatasi masalah itu. Hal itu yang menjadi dasar kreatif kami menggarap Under the Volcano," tegasnya.

Under the Volcano dipenuhi oleh nuansa Minangkau yang khas dan melankolis. Pentasnya dibagi menjadi 6 bagian durasi 80 menit dan dilakonkan dengan narasi berbahasa Melayu dan Minangkabau yang diperkuat dengan elemen silat, tarian, musik, dan efek visual digital yang menakjubkan.

Musik dan tarian didasarkan pada bentuk-bentuk tradisional Melayu yang digubah untuk mencerminkan berlalunya waktu, berdampingan dengan komposisi musik dan tarian kontemporer.

Pertunjukan Under the Volcano didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation dan Ciputra Artpreneur. Tiketnya masih tersedia, dibanderol dengan harga Rp 250 ribu hingga Rp 1.350.000.



Simak Video "Pengalaman Pertama Julie Estelle Main Teater Live"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dar)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT