ADVERTISEMENT

Cerita Pendek

Ambil Saja Paket-Paket Itu

Achmad Agung Prayoga - detikHot
Sabtu, 23 Jul 2022 10:15 WIB
ilustrasi cerpen
IIustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Mereka melucuti seluruh bawaanku: ponsel, dompet, jaket perusahaan, termasuk 15 paket terakhir yang harus kuantarkan (entah sekarang bagaimana nasibnya, kuputuskan itu tak akan lebih buruk daripada nasibku saat ini) dan tidak membiarkanku menggunakan ponsel, dan malah memberiku amplop, kertas kosong, dan pulpen untuk menulis surat ini; sebuah permohonan pertolongan sekaligus riwayat tentang apa yang sebenarnya terjadi padaku.

Jadi kumohon agar kau segera menyusulku setelah membaca surat ini. Sebab kalau tidak, kita tidak akan lagi bertemu karena tuduhan atasku sungguh serius.

Kau tidak mengenalku dengan baik mengingat relasi kita sebatas urusan kerja, bukan teman dekat, atau teman seangkatan ketika bersekolah menengah. Pertimbangkan nama baik perusahaan kita sebelum kau memutuskan untuk tidak menyusul, meskipun mereka telah berjanji tidak melibatkan dan menyebutkan nama perusahaan kita dalam urusan ini; aku tidak percaya mereka, dan kau harus percaya padaku sebab kita rekan kerja yang semestinya saling membantu.

Aku tak menelepon rekan sesama kurir. Bodoh jika kulakukan itu, sebab apa yang hendak kuminta dari orang yang setiap hari sangat sibuk sekali? Aku akan melupakan apa yang kau lakukan ketika aku meneleponmu pada sore jahanam itu.

Kau tahu aku adalah karyawan yang baik meski kau tahu juga aku beberapa kali membantah dan melakukan kekeliruan, namun begitulah karyawan, melakukan kesalahan wajar yang tak perlu diingat-ingat sebagai dendam ataupun karakteristik. Tapi kesalahan apa yang kulakukan hingga harus mendekam di kantor polisi? Tidak ada. Satu pun.

Aku mengantarkan paket seperti biasanya, di wilayahku Sendanganyar seperti biasanya, dan mengendarai motorku seperti biasanya, tanpa kelakuan aneh. Tetapi, pada hari sebelum sore jahanam itu, aku menyaksikan salah satu rumah di Jalan Bencah Kamulyan Sendanganyar hangus terbakar, menyisakan sedikit tembok depan, dan ambang pintu yang disentuh kelingking saja pasti akan rubuh. Sebuah paket mendaratkanku pada rumah lapang di seberang sisa kebakaran itu.

Mengerikan, to? Jadmiko, si penerima paket berkata. Apanya?

Rumah itu.

Ya. Minggu lalu itu masih utuh, aku mengantarkan satu paket ke sana.

Aku bertanya apa penyebabnya, ia menjawab: api. Aneh, di perumahan yang lega dengan rumah-rumah yang cukup luas pula, masih ada gubuk kecil di antaranya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan penghuninya.

Kau ini intel, apa?

Apa yang kau antarkan ke sana minggu lalu? Aku lupa. Sesuatu yang berbentuk kotak.

Lebih baik, kau tidak dekat-dekat lagi dengan tempat itu.

Lagipula, memang akan ada paket lagi yang datang ke runtuhan itu?

Ia tak menjawab, menggamit paketnya, pergi masuk ke rumahnya yang lapang. Aku mengamati rumah hangus itu lekat-lekat; hitam arang, lantai plesterannya retak-retak, aku melihat sisa-sisa kertas, sepertinya banyak buku atau berkas telah terbakar. Abunya berterbangan rendah.

Aku tak peduli sebab masih ada banyak paket yang memaksaku mendarat ke rumah-rumah lain. Sama dengan ketidakpedulianku terhadap paket-paket yang pernah dan akan kuantarkan. Walau begitu, aku tak pernah berbuat kesalahan.

Paket-paket selalu sampai tujuan dengan utuh. Tapi, mungkin, beberapa yang kau anggap kesalahan, dan itu sesuatu yang bisa kusanggah, sesuatu yang sepenuhnya bisa jadi bukan kesalahanku. Seperti paket wilayah lain yang masuk ke dalam kerombongku. Dan kita selalu bersepakat dalam diam usai saling mengatai.

Namun segera, rekan sekaligus atasanku, nasib berputar amat cepat saat kau tidak mengangkat teleponku pada sore jahanam itu. Aku memaafkanmu dan berdoa kepada Tuhan supaya kau datang sebab, kecuali kau, entah siapa yang harus aku hubungi untuk membuatku lepas dari tuduhan tak main-main ini yang diteriakkan padaku sore jahanam itu. Satu-satunya paket di Jalan Bencah Kamulyan, dengan nomor rumah 26, rumah yang hangus terbakar itu, muncul di antara paket lain yang harus kuantar.

Aku telah katakan padamu bahwa rumah itu hangus terbakar dan tidak akan ada seorang pun yang akan menerima paket itu sebab rumah itu telah hangus terbakar! Setelah adu mulut denganmu, entah bagaimana kau berhasil menaruhnya di antara tumpukan paket bertujuan rumah utuh dan berpenghuni meski telah kupisahkan paket itu untuk diurus nanti. Kau harus ikut bertanggung jawab atas kemalangan yang menimpaku ini, atasan.

Paket itu telah terbawa, aku harus menuju ke alamat (kau bersikeras pasti itu paket milik nomor 25 atau 27 atau tetangga depan atau belakang yang keliru menuliskan alamat, tapi aku tidak bodoh; tidak pernah ada kekeliruan alamat di wilayahku). Aku meneleponmu, lalu meneleponmu lagi, lalu menelepon lagi, lalu menelepon lagi hingga aku mengerti kau tidak akan mengangkatnya.

Aku hendak melemparkan paket itu ke rumah hangus, membuat status paket telah diterima, tetapi seketika kulihat sosok kecil yang mengintip dari balik tembok hangus. Hoi, teriakku. Tapi ia bergeming, menatapku pula dengan sepasang mata putih bersih, kontras dengan kulit wajahnya yang kusam dan rumah hangus yang kelam. Aku tidak ingin menghampirinya, namun ia terus menatapku seakan mengejek dan sekaligus minta derma. Kau sendirian saja?

Iya.

Di mana orangtuamu? Apa ini rumahmu?

Mereka bersamaku, dan sekaligus di bawah kakimu. Jangan terkejut, kau telah diampuni.

Siapa yang mengajarimu omong begitu? Api dan orangtuaku yang ditelan api telah mengajariku semuanya. Kau sudah makan? Namun belum sempat terjawab pertanyaanku, Jadmiko dan Jadmiko-Jadmiko lain muncul dan berteriak itu pelakunya. Pasti dia yang membakar habis rumah ini. Ia pasti mau merampok juga. Lihat ia bersama anak kecil, itu anak si pemilik rumah, kan?

Jadmiko menyeretku keluar, semua orang mengerumuniku. Dua paket yang datang tanpa diduga: satu pukulan mendarat telak di pelipisku, satu sepakan mengenai pangkal pahaku. Seragamku robek, aku diseret dan tibalah aku di kantor polisi. Polisi memborgolku, lalu melucuti seluruh bawaanku: ponsel, dompet, jaket perusahaan, termasuk 15 paket terakhir yang harus kuantarkan (entah sekarang bagaimana nasibnya, kuputuskan itu adalah urusanmu, dan tak akan lebih buruk daripada nasibku saat ini) dan tidak membiarkanku menggunakan ponsel, dan malah hendak memberiku amplop, kertas kosong, dan pulpen untuk menulis surat.

Tapi surat butuh waktu yang tidak sebentar, Pak.

Kau mau atau tidak, heh?

Tapi surat butuh waktu yang tidak sebentar, Pak.

Kau juga menghabiskan waktu yang tidak sebentar dengan bocah itu, lubang pantatnya bengkak dan mulai bernanah.

Berikan ponselku. Polisi memberiku pukulan telak di sisi kepalaku, seketika kurasai pening. Mata gelap seperti hendak terjatuh.

Berapa yang kau mau, Pak?

Ia menunjuk sekerumunan orang yang telah keliru menujukan amarahnya padaku. Apa kau pikir tiap kepala itu membayarku selembar-selembar, heh?

Jaga bicaramu!

Kau punya Rolex yang bagus, pak. Berapa harganya?

Ia meninju perutku. Bolehkah aku muntah, Pak? Kau tahu aku tidak melakukan apa pun, Pak. Tinju mendarat lagi di perutku. Aku hampir pingsan.

Apa yang kulakukan, Pak? Kau telah membakar rumah seseorang, membunuh dua orang dewasa, dan menyekap seorang bocah untuk dicabuli setiap sore. Ia tahu aku tak melakukan apapun, sebab jika aku memang melakukannya ia sudah mengunciku di sel dan menelepon atasannya. Dan atasannya juga pasti sudah datang. Ia menghendaki sesuatu yang menguntungkannya. Setelah Jadmiko terakhir pergi, ia berkata aku akan melepaskanmu, tenang saja.

Aku meliriknya diam. Sudah seharusnya kau bersyukur, bisa saja mereka memukulimu di sana, lalu menguburmu bersama belulang sepasang orangtua itu. Aku menyuruh mereka untuk langsung membawamu ke sini. Langkah pencegahan. Berterima kasihlah. Aku masih meliriknya diam. Kepunyaanmu aman, begitu juga paket-paketmu.

Sekarang, aku akan melepaskan borgol di tanganmu, lalu kita akan bicarakan jumlah yang kau bayar, sebelum kau keluar, sebab jika kau keluar tanpa membayar, kau akan jadi buronan; kau akan dipecat dan tidak akan mendapat pekerjaan di mana pun dan kapan pun.

Tapi, ngomong-ngomong, setelah kulepaskan borgolmu, kau boleh keluar tanpa membayar, namun jalan yang menghubungkan Giri Kesumo dan Sendanganyar yang amat terpencil ini hanya seruas jalan beton lurus sepanjang 15 kilometer, dan kau harus sampai ke keramaian terdekat sebelum para begal yang bersembunyi di persawahan tepi beton menangkapmu dengan motor kencang mereka.

Tapi, meskipun kau berhasil lolos, kau tetap jadi buronan. Akan lebih baik kalau suratmu itu kau tujukan pada orang yang bisa menjaminmu. Aku meminta maaf atas situasimu yang sulit ini.

Situasiku sudah sulit sejak dulu, balasku.

Baguslah. Baik untukmu.

Ia memberiku pulpen, selembar kertas, sepucuk amplop, dan perangko, memintaku menulis surat pada terserah siapa saja yang kukehendaki; ia bilang ia tak peduli meski baru saja menyarani. Sejujurnya, entah aku tak mengerti secupet apa polisi di Sendanganyar ini, sampai-sampai prangko pun mereka punya. Lalu ia pergi ke sisi lain kantor, dan tak lama kudengar orokan.

Dan demikianlah, aku tulis satu per satu kejadian yang kualami, lalu setelahnya, dan setelahnya, walaupun kurasakan lelah, dan kantuk yang amat sangat. Pokoknya hal-hal yang akan menjelaskan kepadamu situasi yang kualami. Tetapi, usai menulis surat ini, aku jadi tak ingin mempersulitmu. Terserah padamu: jika kau tak hendak menjaminku, ambil saja paket-paket itu.

Januari 2022

Achmad Agung Prayoga lahir pada 11 Juli 1999, pernah belajar di program studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang; bergiat di komunitas Bacabukumu, berjualan buku baru dan bekas di Toko Buku Dahlia

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Park Seo Joon-Ji Chang Wook Akan dipertemukan di Youth MT"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT