Cerita Pendek

Mimpi Etek Mirah

Eci FE - detikHot
Sabtu, 18 Jun 2022 10:03 WIB
ilustrasi cerpen
IIustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Dua lapis rantang besar di tangan kanannya ia tahan agar tak berayun mengikuti langkahnya menuju laut yang hanya sepelemparan batu dari rumah.

"Biduak sudah siap, Etek," lapor Bujang si anak ula mengambil rantang lalu menaruhnya ke dalam biduak.

"Ingat, Jang, tahan si Rino di rumah!" peringat perempuan paruh baya itu melompat ke biduak yang ditahan Bujang dan dua orang temannya sesama anak ula.

Bujang dan kawan-kawannya mendorong biduak Etek Mirah ke dalam laut. Namun ombak kembali memuntahkan kembali. Begitu ombak surut, mereka mendorong kuat hingga biduak bertolak jauh ke tengah.

"Hati-hati, Etek!" sorak Bujang menyaingi suara ombak pecah.

Etek Mirah tak menyahut. Ia terus mendayung agar tak dimuntahkan lagi ke daratan.

"Heh! Kenapa ang biarkan etek melaut sendirian? Dengan biduak tua itu pula. Macam tak ada kapal yang layak saja. Bukannya ang yang bilang, gunuang Pasaman nampak basebo tadi siang?" protes Kajuik yang sehari-hari bertugas menjemur ikan asin.

Pria belasan tahun itu kembang kempis hidungnya mencium aroma amis ikan asin yang terjemur di halaman rumah Etek Mirah. Rumah yang juga ia tempati setelah kehilangan ayah sekaligus rumahnya dalam kebakaran hebat dua tahun lalu. Pandangannya tertumbuk ke kapal speedboat di pekarangan. Ia juga heran, kenapa Etek Mirah memintanya menyiapkan biduak, bukan kapal mesin itu saja?

"Heh, Bujang! Ang ditanya kok diam? Kalau etek digulung ombak, macam mano? Hah?" protes Kajuik.

Tak hanya Kajuik, Bujang yang melihat Gunung Pasaman basebo tadi siang itu tak kalah khawatirnya. Sempat ia utarakan pada induk semangnya itu, namun Etek Mirah bergeming. Perempuan gaek itu tak peduli pada pertanda badai hebat yang akan menerjang lautan itu.

"Tanang, Juik. Etek Mirah bukan orang sembarangan. Bertuah," hibur Bujang menepuk pundak Kajuik.

"Maksud ang?" tanya pria muda itu, tak puas.

"Kata mendiang ayahku, Etek Mirah itu nelayan bertangan dingin. Setiap melaut, tak pernah pulang dengan tangan kosong. Begitu mendongak ke air, ikan-ikan dari kutub pun berebut mendekat padanya," ujar Bujang mengulang cerita orang-orang tentang pengusaha ikan asin dan pemilik kapal bagan itu.

"Ota ang gadang, Jang! Hoi, harta peninggalan suaminya kan banyak. Untuk apa lagi melaut? Lagi pula beliau itu perempuan. Tak kasihan ang, hah?!" bantah Kajuik.

Bujang masih ingat cerita ayahnya dulu. Tiap melewati rumah-rumah tetangga sepulang melaut, emak-emak saling memonyongkan bibir menunjuk padanya, tak menyahuti sapaannya. Terlebih jika Etek Mirah menjinjing keranjang penuh ikan. Sengaja betul mereka membuang muka ketika hendak disapa.

Etek yang tak peduli kulit kuningnya terpanggang matahari, tak takut bermalam di lautan itu selalu jadi bahan gunjingan tetangga. Namun Etek Mirah tak ambil hati. Hari-harinya habis untuk menangkap ikan lalu menjualnya ke pasar.

Baginya ikut menghidupi para keponakan suaminya jauh lebih penting. Walau sering ia sendiri hanya makan berlauk garam kala paceklik tiba.

"Apa salahnya perempuan melaut?" jawab Bujang.

"Tak ada memang. Tapi paling tidak ang temanilah beliau. Tak hanya Gunung Pasaman basebo yang tampak, sekarang juga malam purnama. Terang. Ang lihatlah, mana ada nelayan turun. Ingat, Jang! Kalau ada apa-apa, ang yang akan dicari orang duluan. Paham, ang?" ancam Kajuik mengacung-ngacungkan jari telunjuk.

Bujang tersenyum samar. Pandangannya lepas ke laut keemasan ditimpa matahari terbenam. Biduak Etek Mirah tak lagi terlihat. Bujang terngiang obrolan ayahnya dulu. Tak sekali dua kali etek dan suaminya dihantam badai. Pernah pasangan itu tak pulang. Di hari ke tiga mereka ditemukan terapung-apung pada selembar papan di kepulauan Mentawai. Padahal sebelumnya ayah Bujang sudah mengingatkan, bintang kalo terlihat malam itu. Gunung Pasaman basebo juga nampak sekilas dari pinggir pantai Pariaman. Percuma melaut, ikan-ikan bersembunyi di kedalaman. Namun Etek Mirah tetap memaksa suaminya pergi melaut. Biduak kecil mereka yang tak kuat rengkah diremas badai bak kepingan biskuit.

Kejadian buruk itu menyisakan trauma, tapi hanya sebentar saja. Seminggu setelahnya mereka kembali melaut. Walau hanya berani di sekitaran Pulau Kasiak saja. Etek Mirah jadi pemasok ikan kakap merah yang dipancingnya di dekat Pulau Kasiak berkarang itu. Awalnya ia memasok untuk satu rumah makan di Pantai Sunur. Langganan Etek Mirah bertambah. Etek Mirah pun mencoba merintis usaha kedai nasi. Kedainya berkembang dan beranak cabang. Etek Mirah yang buta huruf itu mulai mereguk madu. Suatu pagi yang mendung, ia berlari ke kamar mandi dan muntah kayak. Suaminya yang khawatir segera melarikannya ke Puskesmas. Setelah sebelas tahun pernikahannya, Etek Mirah akhirnya mengandung anak pertamanya.

Perempuan gigih itu cuti melaut. Kedai nasi diambil alih para keponakan suaminya. Etek Mirah yang tak bisa diam itu iseng mengasin ikan sisa yang tak terjual. Ikan asinnya cocok di lidah banyak orang. Pesanan melimpah, sayangnya tak ada modal. Ia disarankan mengambil pinjaman ke bank. Namun ditolak mentah-mentah karena status KTP-nya yang hanya seorang ibu rumah tangga. Mana ada perempuan jadi nelayan, pikir mereka pendek.

"Heh, Jang! Sudah magrib," sikut Kajuik ke lengan Bujang.

Matahari tercelup sempurna. Azan bersahut-sahutan di kejauhan. Angin malam bersiul menyapu pepohonan di sepanjang pantai. Ombak yang tadinya jauh, kini menjulur-juluri kaki Bujang. Tiba-tiba darah Bujang tersirap. Etek Mirah tak hanya induk semangnya, tapi juga sahabat baik orang tuanya. Suami Etek Mirah teman sepermainan ayahnya sejak kecil. Banyak hal tentang mereka yang hanya diketahui ayahnya. Termasuk penyebab kematian suami Etek Mirah. Malam itu tak seperti biasanya suami Etek Mirah memaksa ayahnya melaut dengan biduak. Lelaki kurus itu ingin memasak sala lauak ikan tenggiri hasil pancingannya sendiri untuk istrinya yang hamil besar. Penyenang hati bini, ucapnya kala itu.

Di tengah laut yang tenang dan langit berserak bintang, mereka mendayung sampai ke balik Pulau Kasiak. Belum sempat melempar kail, tiba-tiba saja biduak mereka bergetar. Bukan digoyang ombak. Melainkan tubuh suami Etek Mirah yang bergetar hebat. Kejang-kejang dengan mulut berbusa. Etek Mirah meminta ayah Bujang tutup mulut. Bagi Etek Mirah dan semua orang, suaminya meninggal akibat tersambar petir di lautan. Walau tak setitik pun hujan turun malam itu. Dan itulah alasan Etek Mirah menemani suaminya melaut selama ini.

Belum hilang sembab matanya, Etek yang sedang hamil besar itu dirong-rong para keponakan suaminya. Selembar wasiat yang konon ditulis mendiang suaminya itu menyatakan semua peninggalannya diwariskan kepada para keponakan. Kedai nasi, kapal mesin tempel beralih jadi milik orang. Etek Mirah jatuh tapai.

"Ke manalah anak itu," gumam Bujang menatap lantai dua rumah Etek Mirah.

***

Angin berembus kencang menggoyang pokok kelapa di Pulau Kasiak. Pulau di mana Etek Mirah dan suaminya menepi demi menghindari badai. Juga ketika penyakit suaminya kambuh.

"Kau tak boleh melaut, Nak," gumam perempuan gaek itu menuang bensin dari rantang lalu menyulup api. Seketika api berkobar menjilat-jilat biduak tua itu.

Etek Mirah dihantui mimpi buruk sejak seminggu lalu. Ia melihat sang anak menggelepar-gelepar dengan mulut berbusa di biduak tua peninggalan suaminya itu. Angin kencang menyeret biduak hingga ke samudra lepas. Biduak itu terbalik, sang anak lenyap ditelan lautan. Firasat buruknya bersambut dengan keinginan sang anak yang berkemah di pulau bersama temannya dua hari lalu. Perempuan itu sesak dadanya.

"Jangan ambil anakku," gumamnya menekur.

Derik kayu terbakar bersahutan dengan alunan pupuik sarunai yang entah terbawa angin dari mana. Biduak tua itu dimamah api. Namun entah kenapa tak berkurang juga sesak di dada Etek Mirah.

***

Di halaman rumah Etek Mirah, Pudin berlari menghampiri Bujang.

"Woi, Bujang!" teriak anak ula berbadan gempal itu tersengal mengatur napas.

Bujang dan Kajuik menyahut serentak, "Ado apo?"

Perasaan Bujang mendadak tak enak. Wajah anak majikannya itu memenuhi pelupuk mata. Teringat kejadian semasanya kecil dulu. Rino kejang-kejang dengan mulut berbusa di atas pohon jambu. Eteh Mirah meminta Bujang merahasiakannya dari siapa pun dan melarang Rino melaut.

"Si Rino kejang-kejang waktu memancing, terus jatuh ke muara," lapor Pudin.

"Ah! anak itu!" gumam Bujang berlari ke muara yang sedang dibanjiri air pasang.

Catatan:
anak ula: anak buah kapal
ang: kata ganti untuk laki-laki selain kau/kamu
basebo: tertutup awan (seperti sebo); Gunung Pasaman basebo merupakan kearifan lokal sebagai penanda akan ada badai di daerah Pariaman

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Bantahan Dito Mahendra soal Tudingan Kirim Teror dan Bunga ke Nikita Mirzani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)