Kata Seniman Saat Coba Ekspresikan Karya Seni Lewat Medium Digital

Nada Zeitalini - detikHot
Senin, 31 Jan 2022 18:02 WIB
Syarief Ravsanzani
Foto: Istimewa
Jakarta -

Seiring berjalannya waktu, dari era ke era sudah banyak seniman yang menggunakan bermacam-macam medium untuk mengekspresikan ide-ide artistik mereka ke dalam sebuah karya. Dari penggunaan medium seperti kanvas dan cat minyak untuk lukisan, munculnya fotografi dan film sebagai medium seni, hingga penggunaan dan pencampuran berbagai tipe medium dalam satu karya seni yang biasa kita lihat di instalasi-instalasi seni masa kini.

Tapi apa sih sebenarnya arti medium dalam seni itu? Meski mungkin kata itu sering banget kita dengar atau baca dalam konteks kesenian, artinya bisa berbeda-beda dan tergantung siapa yang mengartikannya.

Pemahaman medium dalam karya seni dapat berarti suatu cara berekspresi atau bisa juga diartikan sebagai material dasar yang dipakai dalam karya seni itu sendiri. Tapi yang manapun pengertiannya, medium dalam karya seni adalah kendaraan yang membawa ekspresi seniman untuk bisa sampai kepada para audiensnya.

Tidak bisa dipungkiri kalau inovasi yang dibawa oleh perkembangan zaman menjadi hal utama menggerakkan perkembangan medium dalam karya seni. Salah satunya, adalah faktor pengaruh inovasi teknologi yang terus muncul dan berkembang.

Seorang seniman tentunya punya alasan tertentu dalam memilih medium ketika membuat suatu karya. Ada yang karena memang sudah luwes dan nyaman dengan suatu medium atau ada juga yang punya keinginan untuk mengeksplor medium baru.

Tapi ada juga seniman-seniman yang berusaha untuk menyeimbangkan keduanya. Seperti seorang seniman visual dari Surabaya bernama Syarief Ravsanzani atau yang lebih dikenal dengan monikernya, yaitu The Broy.

"Makin ke sini kan semuanya dipermudah dengan medium yang berupa digital. Tapi kalo mau muter lagi ke belakang, (gue) sih tetep lebih nyaman berkarya di atas kertas," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (31/1/2022).

Sebagai seorang ilustrator yang terbiasa menggambar di kertas, The Broy mencoba beradaptasi dengan era yang serba digital seperti sekarang ini dengan mulai menggambar dalam format digital. Tapi meski begitu, ia juga tidak menyangkal kalau dirinya masih lebih nyaman menggambar di atas medium kertas.

"Kita kan bikin satu ilustrasi itu kan pengen nyampein pesan ke orang-orang, ya karena sekarang cepetnya berformat digital, yaudah gue begini," jelasnya.

Seperti cara The Broy dalam menyikapi perkembangan teknologi yang menuntutnya untuk berkarya dengan serba digital, ia juga mengaplikasikan hal itu ketika dihadapkan dengan medium baru yang belum pernah ia coba sebelumnya.

Seperti dalam salah satu karya terakhirnya, ia menggunakan medium kain daur ulang yang kemudian ia respons dengan menggambar ilustrasinya di atas medium kain tersebut. Meski medium kain merupakan medium yang baru untuknya, tapi The Broy tetap berusaha untuk membawa formula rutinnya ke dalam prosesnya berkarya.

"Kain recycled itu kan memang medium yang berbeda. Dan waktu itu tools yang gue pakai itu tools yang sama dengan yang biasanya gue pakai waktu mural di dinding. Tapi kan emang namanya drawing itu kan gimana caranya kita menggambarkan suatu elemen visual di benda atau medium yang dipakai. Waktu itu gue coba pakai cat, walaupun ternyata hasilnya ada esensi yang berbeda," ucap The Broy.

"Yang pasti sih dalam beradaptasi dengan medium baru kita harus menyesuaikan sama era juga. Karena mungkin orang kan juga nggak langsung paham dengan medium itu," tambahnya.

Beradaptasi dengan medium baru terkadang merupakan hal yang mengintimidasi, tapi hal itu tidak menghambat The Broy dalam mencoba untuk berkarya dengan medium baru. Ia tetap menjaga spirit rasa penasarannya untuk tetap mau mempelajari dan mengeksplor ide-ide baru untuk diterapkan dalam karya-karyanya.



Simak Video "Melihat Penafsiran Keberagaman Lewat Pameran Karya Seni di UIN Yogyakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(fhs/ega)