Cerita Pendek

Hadiah-Hadiah Gustam untuk Istriku

Erwin Setia - detikHot
Minggu, 16 Jan 2022 11:07 WIB
ilustrasi cerpen
Foto: iIustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Rumah itu memiliki pagar yang besar dan tinggi dengan dua pilar di bagian luar yang catnya telah terkelupas. Sejak Simon Arfiandi-pemilik rumah itu-bercerai dengan istrinya, rumah itu benar-benar tak terurus. Sudah tiga tahun waktu berlalu dan kini rumah itu tampak lebih jelek daripada rumah kontrakanku. Dulu kupikir rumah Simon adalah rumah terbagus di lingkunganku. Tapi hanya perlu waktu tiga tahun-bahkan kurang dari itu-untuk membuat bangunan terbaik menjadi tak berharga. Cara kerja waktu memang mengesankan. Ia tak pandang bulu, ia akan menghancurkan apa saja yang sudah dilupakan dan diabaikan.

Tapi ceritaku bukan soal rumah itu. Ini adalah cerita tentang diriku sendiri. Kebetulan aku sedang berada di rumah itu, tepatnya di balik pagarnya yang sudah rusak karena potongan-potongan besinya dicuri orang, berdiri sambil memandangi rumah mewah yang kini kelihatan menyedihkan. Sebelum aku pergi ke rumah itu --yang menjadi kebiasaanku selama beberapa hari terakhir-- Gustam datang lagi ke rumahku. Ia datang dengan membawa bungkusan plastik berisi gaun. Ia menyerahkannya kepada istriku.

Tentu saja istriku mengucapkan terima kasih kepada Gustam. Ia menyanjung Gustam setinggi langit, memandangi gaun itu dengan mata berbinar. Ketika aku keluar dari kamar karena geram mengetahui kedatangan Gustam, istriku berseru sambil memperlihatkan bungkusan berisi gaun, "Gustam memberikanku hadiah lagi."

Istriku mengatakan itu tanpa sedikit pun rasa bersalah. Malah matanya seperti ingin menangis saking bahagianya.

"Kenapa kamu masih mau menerima hadiah darinya?"

"Gustam menghadiahiku gaun yang indah. Aku sudah lama mengidamkan gaun ini. Aku sangat suka gaun ini."

"Aku bisa membelikanmu gaun yang lebih bagus dari itu."

"Kamu selalu bilang begitu. Kemarin kamu bilang akan menghadiahiku tas yang lebih bagus, rok yang lebih bagus, kerudung yang lebih bagus dari yang Gustam berikan kepadaku. Tapi mana buktinya? Kalau cuma ngomong, semua orang juga bisa!"

Istriku benar. Dan karena kebenaran sangat pahit, aku mengambil sweter usangku, berjalan cepat ke luar rumah, dan berbelok ke rumah Simon yang pagarnya terbuka.

Aku tidak akan mengulangi lagi cerita soal rumah Simon. Aku ingin memberi sedikit penjelasan tentang Gustam. Dia adalah tetanggaku, dia tinggal persis di sebelah rumahku. Dia tinggal di sana setahun setelahku. Aku tidak tahu apa pekerjaannya. Yang jelas dia tampak lebih sejahtera daripadaku, hidup sendirian, dan tidak pernah memperlihatkan sikap yang aneh. Dia memang pendiam dan jarang bergaul. Tapi bagiku itu bukan sesuatu yang aneh, itu hanya perilaku biasa seorang manusia, dan hanya karena kebanyakan manusia cerewet dan suka bergaul, bukan berarti yang memiliki perilaku lain adalah orang aneh.

Soal penampilan lahiriah, Gustam nyaris tidak memiliki suatu ciri khas menonjol. Hidungnya lebih mancung dari kebanyakan orang di lingkunganku dan rambutnya tak pernah melewati telinga. Ketika berjalan ia terlihat seperti seorang turis-santai dan suka mengamati sesuatu. Ia tersenyum kepada siapa saja dan kapan saja. Kadang kupikir ia terlalu berlebihan dalam urusan senyum. Dan kalau mengingat senyumnya, aku jengkel setengah mati, terutama ketika ia tersenyum kepada istriku sewaktu menyerahkan hadiah pertamanya-sebuah tas berwarna ungu.

Hubunganku maupun istriku dengan Gustam sebagaimana lazimnya hubungan antar tetangga. Tidak pernah ada ketegangan berarti antara aku dengan dia. Semua berjalan baik-baik saja, karena ia sebenarnya bukan tetangga yang buruk. Kadang ia mengirimkan kue ke rumahku sebagaimana aku atau istriku juga pernah mengirimkan kue ke rumahnya. Hal-hal lumrah semacam itu.

Segalanya menjadi berbeda sejak dua minggu lalu. Itu bertepatan dengan pertengkaran besar pertama antara aku dan istriku. Kami jarang bertengkar, apalagi sampai membuat keributan yang didengar oleh tetangga-dan itulah yang kumaksud pertengkaran besar, pertengkaran yang sampai membuat tetangga mengetahuinya. Saat itu aku baru pulang dari pabrik tempatku bekerja-dan tidak akan pernah kembali lagi ke pabrik itu.

Aku dipecat karena tempat kerjaku sedang mengurangi jumlah karyawan. Yang lebih buruk dari itu, aku kehilangan dompetku ketika berada dalam angkot. Itu adalah hari paling nahas dalam hidupku. Aku masuk ke dalam rumah dan istriku langsung menodongku dengan pertanyaan, "Bagaimana, Mas, mana hadiah ulang tahun untukku?"

Hari itu hari ulang tahun istriku. Aku sudah berjanji akan membelikannya sebuah tas sebagai hadiah. Tapi aku sama sekali tidak mengingat soal itu, terutama selepas atasanku mengumumkan pemecatanku dan hanya menjanjikan pesangon yang entah akan dibayarkan atau tidak.

"Tolong jangan bicarakan itu dulu!"

"Tapi kamu sendiri yang sudah janji, Mas."

"Aku bilang, jangan bicarakan itu dulu! Kamu bisa diam nggak?"

"Aku cuma menagih janjimu."

Suaraku semakin keras. Begitu pula suara istriku. Dan begitulah asal-muasal pertengkaran besar pertama antara aku dan istriku. Karena aku tidak mau keadaan makin memburuk, aku cepat-cepat keluar dari rumah dalam keadaan masih memakai seragam kerja. Di luar pintu rumah kontrakanku yang tak berpagar aku melihat Gustam sedang berdiri dengan wajah kikuk. Ia baru saja mendengar pertengkaranku dengan istriku.

Aku tersenyum ke arahnya sambil menahan malu. Kemudian aku berjalan terus sampai akhirnya berhenti di depan pagar rumah Simon. Itulah kali pertama aku memasuki halaman rumah kosong itu dan memutuskan berdiam di balik pagarnya yang tinggi sampai hatiku lebih tenang.

Keesokan harinya Gustam mengetuk pintu rumahku dan membawa bungkusan berisi tas kepada istriku.

"Sebagai hadiah ulang tahun untukmu," kata Gustam.

Istriku menerima hadiah itu dengan gembira. Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa selain melongo melihat kejadian itu. Istriku tersenyum penuh kemenangan kepadaku. Aku memang merasa kalah. Kejadian itu masih bisa kumaklumi meskipun sedikit menyinggungku. Yang menjengkelkan adalah apa yang terjadi dua hari kemudian. Gustam kembali datang mengetuk pintu rumahku. Kali ini ia membawa bungkusan berisi rok.

"Untuk apa ini? Kemarin kan kamu sudah menghadiahiku tas," ucap istriku.

"Tidak apa-apa," kata Gustam sambil memasang senyum yang aneh.

Begitu Gustam pergi, aku menghardik istriku yang terlalu sembarangan menjemur rok.

"Kamu seharusnya tidak menjemur rok-rokmu yang warnanya sudah pudar dan banyak jahitannya itu dengan mencolok!"

"Kenapa kamu menyalahkanku, Mas? Seandainya kamu bisa membelikanku rok-rok yang bagus seperti yang barusan Gustam berikan kepadaku, pasti tidak akan ada rok jelek di jemuran."

"Jangan kamu sebut-sebut lagi nama itu!"

"Biarkan! Memangnya kenapa? Apa salahnya aku menyebut nama orang yang sudah berbaik hati kepadaku?"

Aku tidak mau bertengkar lagi dengan istriku, apalagi kalau sampai Gustam mendengar pertengkaranku. Jadi, aku pun segera keluar dari rumah dan menuju rumah Simon. Aku berdiam saja di balik pagar itu sendirian, memandangi gerakan awan di langit yang kadang diramaikan oleh burung-burung, atau menatap dengan masygul tembok rumah Simon yang sudah berlumut dan retak-retak. Suhu di sekitar rumah itu terasa lebih dingin daripada tempat-tempat lain di lingkunganku. Itulah kenapa pada hari-hari berikutnya aku mengenakan sweter sebelum pergi ke rumah Simon. Aku merasa nyaman berada di sana, sendirian, dan hanya memikirkan hal-hal di sekitarku.

Aku memikirkan apa yang pernah terjadi di teras rumah besar itu, kenapa Simon dan istrinya-yang hidup bergelimang harta dan kelihatan bahagia-bisa bercerai, kenapa Simon tidak menjual rumah itu, hewan apa yang menghuni kandang kayu di pojok tembok sebelum Simon pergi, dan semacamnya. Ada beberapa rumpun bunga yang masih bertahan di halaman rumah itu yang kadang aromanya mampir di hidungku saat angin cukup kencang. Aku merasa takjub bagaimana bunga-bunga itu masih bisa bertahan di sebuah rumah yang kelam.

Ketika aku kembali ke rumah, istriku tidak pernah bertanya aku dari mana dan aku juga tidak mau repot-repot menceritakan apa yang kulakukan saat aku pergi. Dalam rentang waktu itu aku belum mendapat pekerjaan lagi. Aku dan istriku memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan sehemat mungkin, dengan sedikit uang tersisa di celengan. Pada hari-hari itu Gustam beberapa kali mengantarkan makanan kepada kami, yang disambut istriku dengan tangan terbuka.

Aku tidak marah ketika Gustam mengantarkan makanan. Tapi ketika pada hari kesepuluh setelah aku tidak lagi bekerja ia datang sambil membawa bungkusan berisi kerudung-setelah tas dan rok-aku marah besar kepada istriku.

"Kenapa kamu memarahiku, Mas? Kalau mau marah, marahlah kepada Gustam!"

"Aku akan memarahinya," kataku.

Sesaat setelah mengatakan itu, aku langsung ke luar rumah. Alih-alih mengetuk pintu rumah Gustam dan memarahinya habis-habisan, aku malah pergi ke rumah Simon dan menatap sekeliling dengan gamang. Aku tidak mungkin marah kepada Gustam. Aku juga seharusnya tidak memarahi istriku. Satu-satunya orang yang harus kumarahi mungkin adalah diriku sendiri.

Aku mengingat hari-hari yang sudah berlalu tanpa tahu apa yang seharusnya kulakukan. Setelah hatiku cukup tenang, aku beranjak dari rumah kosong itu. Aku masih bertanya-tanya kenapa Gustam memberikan gaun kepada istriku. Apa sebenarnya motifnya? Apakah ia jatuh hati kepada istriku? Apakah ia kasihan kepada istriku yang hampir tidak pernah mengenakan gaun? Atau ada alasan lain di balik itu yang tidak kuketahui?

Aku memikirkan semua itu sambil berjalan kembali ke rumah. Sebelum masuk ke dalam rumah, aku memperhatikan pintu rumah Gustam yang persis di sebelah rumahku. Pintu itu tertutup rapat. Aku mendengarkan suara-suara di dalamnya. Ya, bukan hanya satu suara! Bukan hanya suara Gustam. Aku mendengar suara perempuan di dalamnya. Apakah Gustam sudah punya kekasih dan sedang membawa kekasihnya ke dalam rumah? Ah, aku ragu soal itu. Aku belum pernah melihat dia membawa teman perempuan sebelumnya.

Aku membuka pintu rumahku dan masuk. Rumahku terasa lebih lengang daripada biasanya. Tercium sisa-sisa aroma parfum murahan yang biasa dipakai istriku. Aku menjelajah ke kamar, dapur, dan kamar mandi. Istriku tidak ada di rumah. Tiba-tiba aku merasa dadaku sesak. Dengan langkah-langkah cepat aku keluar dari rumah, berbelok ke kiri ke rumah Gustam, dan mengetuk pintu rumah itu.

"Buka pintunya!"

Tak lama berselang Gustam muncul dari balik pintu.

"Mana istriku?"

Seorang perempuan yang mengenakan kerudung, gaun, dan rok yang masih terlihat baru muncul dari balik punggung Gustam. Perempuan itu terlihat sangat cantik, bagaikan seorang ratu. Perempuan itu memandangiku dengan tatapan tajam dan bertanya, "Kamu mau apa?"

Aku mengenal dengan baik suaranya. Aku mengenal dengan baik semua hal tentang perempuan itu. Seharusnya aku marah dan berteriak. Tapi sebagai jawaban atas pertanyaan itu, aku hanya berkata, "Tidak, aku tidak mau apa-apa."

Tambun Selatan-Bekasi, 2 Desember 2021

Erwin Setia lahir tahun 1998; menulis cerpen dan esai, dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Jawa Pos, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, dan detikcom

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Hujan Tak Surutkan Antusiasme Pengunjung Java Jazz Festival"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)