Sambut Hari Wayang, Mantra hingga Sesaji Disiapkan untuk Ritual

Eko Susanto - detikHot
Jumat, 05 Nov 2021 15:04 WIB
Ritual memperingati Hari Wayang di Grojogan Kapuhan Sawangan, Kabupaten Magelang.
Padepokan Seni Budi Aji melakukan ritual Gunungan dan Batara Kala di grojogan yang airnya bersumber dari Gunung Merapi.Foto: Eko Susanto/ detikcom
Magelang -

Padepokan Seni (PS) Budi Aji melakukan ritual untuk memperingati Hari Wayang Nasional di Grojogan Kapuhan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dalam ritual ini membawa Gunungan dan Batara Kala di grojogan yang airnya bersumber dari Gunung Merapi.

Adapun dalam ritual ini diikuti sekitar 20 orang dari PS Budi Aji. Sebelum memulai ritual, mereka membaca mantra-mantra disertai sesaji berupa nasi tumpeng, ingkung, jajan pasar, dan lainnya. Untuk Hari Wayang Nasional sendiri jatuh pada tanggal 7 November.

Kemudian, mereka berjalan menuju bawah grojogan. Seorang di antaranya membawa Gunungan dan Batara Kala, kemudian sesampainya di grojogan yang membawa wayang tersebut duduk di atas batu sambil memainkan wayang. Sedangkan pengikut lainnya melakukan ritual dengan menari di atas bebatuan maupun di air.

Ketua PS Budi Aji, Kikis Wantoro mengatakan, PS Budi Aji memperingati Hari Wayang ini dengan melakukan ritual di Grojogan Kapuhan. Alasannya dipilihnya bukan karena grojogannya, melainkan Sungai Pabelan ini airnya bersumber dari Gunung Merapi.

Ritual memperingati Hari Wayang di Grojogan Kapuhan Sawangan, Kabupaten Magelang.Ritual memperingati Hari Wayang di Grojogan Kapuhan Sawangan, Kabupaten Magelang. Foto: Eko Susanto/ detikcom

"Ritual peringatan Hari Wayang. Kami juga memperingati sebetulnya bukan grojogannya, tapi kalinya (sungai) yang kala (waktu) tadi, terus air bersumber dari Gunung Merapi. Identik permulaan pagelaran wayang itu pasti dengan gunungan di tengah sebelum dimulai dan setelah selesai gunungan ke tengah, itu maksudnya," kata Kikis saat di temui di lokasi ritual di Grojogan Kapuhan, Sawangan, Kabupaten Magelang, Jumat (5/11/2021).

Menurut Kikis, nenek moyang saat menciptakan wayang tidak semata-mata asal senang saja, tapi pasti ada tapa brata. Selain itu, laku prihatin dan sebagainya.

"Kaitannya Hari Wayang, waktu nenek moyang menciptakan wayang itu kan tidak semata-mata waton seneng gawe (asal senang dibuat), pasti ada laku tapa bratanya, pasti ada laku prihatin dan sebagainya pakai perhitungan yang sangat memet. Lha itu, maka dalam hal ini, kami juga mengambil Batara Kala tadi, Batara Kala itu adalah waktu," ujarnya.

Dalam ritual tersebut mengambil tema, tepung alam, eling purwa. Adapun eling purwa, katanya, ingat dengan permulaan. Untuk itu, jika sudah tidak ingat dengan waktu menjadi repot.

"Maka ambilnya Batara Kala dan kita ritual di Sungai Pabelan ini, sungai i ini sumbernya dari Merapi, dari pegunungan. Simbolkan gunungan," tuturnya.

Ritual memperingati Hari Wayang di Grojogan Kapuhan Sawangan, Kabupaten Magelang.Ritual memperingati Hari Wayang di Grojogan Kapuhan Sawangan, Kabupaten Magelang. Foto: Eko Susanto/ detikcom

"Gunungan dan kala waktu itu, tadi waktu permulaan pagelaran atau sebuah cerita dimulai, gunungan menancap di tengah. Terus setelah mulai gunungan geser ke pinggir, pertengahan (cerita) ke tengah lagi, selesai cerita (tangkep kayon) gunungan ke tengah," katanya.

Ritual yang dilakukan tersebut, kata dia, juga dilakukan untuk memperingati erupsi Gunung Merapi yang terjadi 11 tahun yang lalu. Untuk erupsi Gunung Merapi tepatnya pada 26 Oktober 2010.

"Itu kenapa saya barengke bersamaan ritual erupsi Gunung Merapi pas Hari Wayang karena itu. Ritual ini adalah peringatan erupsi Gunung Merapi, 11 tahun yang telah berlalu, kita tetap mengingat agar ada lindungan dari Tuhan," pungkasnya.



Simak Video "Pria di Yogya Gasak 6 Motor Milik Jamaah Masjid"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/tia)