Cerita Pendek

Pertanyaan-Pertanyaan tentang Takdir

Michael Dwi Harjanto - detikHot
Minggu, 10 Okt 2021 09:15 WIB
ilustrasi cerpen
Foto: iIustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -

Tiap embun kelam datang; gelap jadinya. Tiap sinar mentari menyapa; kokokan jadi tanda. Tiap matamu terbuka; kau bergegas melihat dua tumbuhan kacang hijau yang baru kau tanam belum lama di atas kapas basah atau tanaman lavender berbunga ungu -di sebelah akuarium lonjong dalam kamar; antara ambin kita. Kemudian kau lari segera, memeriksa dua ikan koki campuran warna suci dan pemberani di akuarium bola di ujung kanan ruang keluarga, samping televisi -depan sofa monokrom tempat kita bercengkerama.

Sesuai kebiasaan setelah kewajiban mengurus flora-faunamu usai, kau pasti anjak bergegas masuk kamar mandi dan keluar makan pagi bersama denganku, ayah, dan bunda. Lagi-lagi hal yang kau bicarakan di atas meja adalah permintaanmu. Seperti pada hari itu kau ingin membeli tujuh belas ikan badut, karena kau sangat tak suka angka ganjil dalam akuarium yaitu angka tiga. Maka ayah dan bunda pasti seia sekata. Selanjutnya, bunda pasti akan melempar tanya; benda, flora atau fauna apa yang aku inginkan. Aku bergeming nanar. Aku tak ada keinginan. Itu jawabku.

***

Sedari awal, kita memang dua bocah yang tumbuh bersama. Lahir pun beriringan. Hanya, aku lima menit lebih dulu daripada kau. Tapi suara tangismu lebih cepat keluar dibanding aku. Cerita bunda, tangisku menunggu kau keluar dulu; agar kita bisa menghabiskan malam dengan tangisan yang membuat ayah dan bunda kelabakan.

Satu hari, dua hari, tiga hari, dan hari-hari selanjutnya kita tumbuh seperti anak pada umumnya. Namun aku dan kau saling keterbalikan. Kau anak yang ceria. Aku tak terlalu. Kau selalu meminta. Aku lebih suka diberi nan bungkam. Kau banyak mimpi. Aku bingung soal mimpi. Kau banyak kata. Aku tanpa kata. Mungkin ini yang dinamakan kembar tak identik. Tapi bagi ayah dan bunda, itu membuat kita saling melengkapi. Mungkin jika kita sama-sama ceria dan sama-sama berisiknya, ayah dan bunda tak sanggup meladeni di tiap harinya.

Namun nyatanya tidak. Seperti kala itu, kau menyuruhku untuk lebih banyak berbicara dan kau mengurung suara; supaya ayah atau ibu kebingungan mana Tika dan mana Tisa. Aku pun hanya menurut, lalu mempraktikkannya benar-benar. Dan hasilnya betul. Mereka bingung mana aku dan mana kau. Sore itu kita tertawa sepuasnya, sambil aku dipeluk hangatnya tubuh ayah seraya berbisik, "Tika, ayah suka kalau kamu banyak berbicara," itu ujarnya sampai satu hari membuat aku berbicara terus-menerus sebab yang aku pikirkan tak benar terjadi.

Ya, semenjak itu aku mulai sedikit-sedikit suka berbicara karena tertular kau juga. Aku belajar banyak sekali darimu. Tapi sampai detik ini, aku selalu bingung tiap kali kau melempar tanya.

"Kapan ya, Tik tumbuhan di kebun belakang itu layu?"

Pasti aku kebingungan, karena kau selalu mempertanyakan tentang ajal dari sebatang atau seekor makhluk hidup. Dan, saat aku tak menjawab, kau sekali lagi mengatakan, "Coba kamu tebak, kapan tumbuhan itu akan layu!?"

Itu serumu dengan mata yang bulat penuh binar memandang wajahku. Kontan aku berpikir keras lalu spontan memberi jawab asal. "Mungkin saat kita tak memberi nutrisi atau menaruhnya tak terkena dengan cahaya mentari?"

Kau sangat kagum dengan jawabanku.

"Betul juga kamu!"

Sore itu usai. Kita berdua bergeming. Tak ada suara dan entah apa yang kau pandang dari kaca transparan belakang ruang keluarga (tempat kita berteka-teki hari itu) yang langsung terpandang panorama kebun tempat ayah; bunda menghabiskan waktu mengurusi floranya.

Tak lama setelah sore itu. Kau sekali lagi menghujani pertanyaan padaku yang tak jauh berbeda. "Tik, anak ayam itu sisa dua! Kira-kira apa mereka akan tumbuh bersama dan saling meninggalkan suatu saat nanti?"

Aku diam. Dan kau terus bersuara. "Coba tebak, Tik siapa dari mereka yang akan hilang terlebih dulu karena diambil penjual ayam warna?"

Sungguh aku tak tahu. Tapi kau sekali lagi melanjutkan dengan senyum ramah yang selalu aku suka darimu. "Sudah tebak saja!"

"Coba tanyakan pada ayah, aku belum bisa menjawab pertanyaanmu ini, Sa," sambungku diiringi tawamu sambil berjalan saling bertaut pulang ke rumah dari sekolah.

Sampainya di rumah. Kau benar-benar bertanya pada ayah. Ayah pun ikut nanar. Ia entah harus menjawab bagaimana. Tapi kau tetap ingin tahu, sambil menarik-narik pelan baju ayah. "Hahaha pikiranmu sangat luar biasa, Sa! Ayah sampai bingung harus memberi jawab apa."

Kau terlihat sedikit murung karena pertanyaanmu tak terjawab. "Ayah benar tak tahu?" lanjutku memastikan -agar senyummu segera merekah kembali. "Bukan ayah tak tahu, tapi ini soal takdir, Nak dan ayah bukan peramal, coba kalian tanyakan langsung pada pemiliknya," jawab ayah tersenyum sedikit cengir melihat bunda.

"Nah, itu ide bagus! Tisa, kalau kau mau besok kita cari pemilik ayam tersebut!" jawabku pura-pura bersemangat, agar aku bisa segera melihat senyum gemasmu di hadapanku.

"Apa kau serius, Tik? Sepertinya ini misi yang susah," jawabmu dengan wajah berpikir keras dengan sedikit senyum yang mulai merekah. Malam itu, kita semua tertawa sekali lagi karena pertanyaan aneh yang terus kau tanyakan tentang takdir.

***

Hari itu. Setelah kami makan pagi bersama, kami anjak menuju pasar ikan. Lagi-lagi tentang takdir yang kau ributkan. "Bun, Yah, coba kalian tebak, kapan ikan koki di ruang keluarga kita akan meninggalkan Tika dan aku?"

Bunda hanya geleng-geleng. Ia sama bingungnya dengan ayah -yang beberapa waktu sebelumnya -dipertanyakan tentang kapan anak anjing dari Marko (anak tetangga, sejawat dengan kami) akan pergi meninggalkan dirinya. Saat itu sama. Ayah hanya geleng-geleng kebingungan. Dan lagi-lagi kau mulai muram.

"Aku tahu, Sa! Sampai kita lulus sekolah tinggi!" balasku daripada hening yang memakan momen kita di dalam kendaraan roda empat.

"Emmm... sepertinya itu terlalu lama bukan?" jawabmu layaknya pemegang takdir.

Tapi ya, itu tak salah. Ikan koki juga sedikit mustahil kalau hidup lebih dari 17 tahun. Apalagi seorang bocah seperti kami yang merawatnya.

"Sepertinya betul kata Tika, Sa. Bunda juga yakin umur ikan koki milikmu akan bertahan lama. Doakan saja supaya dia panjang umur," jawab bunda tersenyum cukup lebar; terlihat dari cermin di atas dashboard mobil ayah.

Selama perjalanan kami sekeluarga berirama; sambil sedikit bercanda gurau dari keributanmu yang terus membuat ayah dan bunda bingung.

Satu pohon dan pohon-pohon selanjutnya di trotoar; terlihat berjalan selayaknya kilat. Aku jadi ingat saat usia kita dua tahun; pertanyaan konyolmu dilontarkan sambil kepala kau dan aku berada di luar jendela mobil.

Kau bertanya mengapa pohon-pohon itu berjalan dengan sangat cepat, sambil mulutmu terbuka kemudian tertutup mengikuti gerak-gerik kalimat itu. Aku geming. Pasalnya aku pun kurang paham mengapa hal itu terjadi. Kemudian kau ikut geming. Wajah kita saling berhadapan; memandang lalu kita menertawakan si pohon yang masih berlari-lari sambil memakan angin kencang.

Tibanya di rumah, kau malah jatuh sakit akibat memakan angin jalan terlalu banyak. Malamnya aku pun ikut keluh rasa sakit. Itu jadi kali pertama kau dan aku lemah secara bersamaan. Aku kira kita ini benar-benar 'kembar tak identik'. Rupanya, saat kau sakit aku pun ikut. Tapi mengapa saat kau pergi, aku tak ikut? Aneh! Aku benar-benar tak paham.

Tiga hari sebelum kau anjak tak kembali; kau masih selayak hari biasanya. Senyummu masih merekah seperti bunga matahari yang dapat segera dipanen dan dijadikan kuaci. Badanmu juga segar bugar seperti sayur mayur bergizi. Pastinya pertanyaan-pertanyaan tentang takdir masih keluar juga dari bibir penuh senyummu.

Seperti, "Tika? Aku rasa ikan koki itu akan segera pergi," itu ujarmu dengan bibir manyun dan tangan menyangga kepala di depan akuarium bola. Lagi dan lagi aku dibuat kebingungan. Karena terlihat ikan koki itu masih segar, hanya saja cara berenangnya sedikit melemas -terhuyung-huyung.

"Mungkin ia ingin tidur, Sa," itu jawabku dengan alasan masih sama. Ingin melihat rekah di bibirmu.

"Apa iya? Aku baru sekali ini melihat ikan tidur!" Benar. Kau tersenyum juga akhirnya.

"Iya, seperti itu ikan tidur!" jawabku sangat meyakinkanmu. Padahal aku sendiri tak tahu bagaimana ikan tidur.

****

Dua hari sebelum kau tiada. Kau bergegas menautkan jemarimu ke jemariku. Kita berdua naik ke kamar. Aku kira kau hendak mengajakku ke loteng. Tempat biasanya kau tiba-tiba merinai untuk angin. Entahlah aku tak paham apa maksudmu, tapi kau bilang ini adalah upaya membuat dunia tersenyum. Katamu, jika manusia bersenandung di ruang terbuka; angin akan membawa nyanyian itu naik ke awan lalu ke langit dan disampaikan pada bola bumi. Setelah itu bumi akan tersenyum melihat manusianya pandai berinai.

Namun tiba-tiba, "Tika, lihat!" kau menangis. Ternyata ikan badutmu mati tiga ekor. Kembali lagi dalam akuarium itu berjumlah ganjil. "Tenang, Sa! Mungkin ia hanya tertidur," jawabku berusaha menenangkanmu seraya cepat-cepat mengambil tangga kecil untuk menggapai permukaan akuarium. Aku senggol pelan ikan itu. Rupanya kau benar. Ikan itu sudah gugur. Tangismu jadi kencang.

"Sudah, Sa tidak apa-apa. Percaya sama Tika! Pasti di dalam terumbu karang itu sudah ada telurnya, jadi akuarium ini tak akan ganjil lagi. Cukup tunggu satu atau dua minggu lagi ya!"

Belum sampai kau tunggu satu minggu, kau sudah pergi lebih dulu. Terakhir, yang aku ingat permintaanmu; kau tiba-tiba menitipkanku dua buah tanaman kacang hijau -yang satunya sudah sedikit melemas tanda hampir gugur. Kau bilang, kau hendak menitipkan padaku agar tumbuh subur sampai kita sama-sama jadi dewasa dan rupanya ini juga terakhir kali kau bertanya soal takdir.

"Tik, dua kacang hijau itu layaknya kita. Mereka tumbuh bersama. Tapi siapa layu dulu?" Aku nanar.

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Tom Holland Beri Isyarat Pensiun Jadi Spider-Man?"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)