Cerita Pendek

Kambing Bapak

Indarka P.P - detikHot
Minggu, 18 Jul 2021 10:10 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Suara petir membelah malam membuat aku terpental dari tempat pertemuanku dengan bapak. Aku bangkit dari pembaringan. Kuusap mata berkali-kali sampai tersadar aku baru saja kembali dari alam mimpi. Hujan deras dan desau angin membuat tubuhku terasa begitu dingin. Kutarik selimut yang telah tanggal. Aku berusaha mengingat mimpi singkat itu.

Di sebuah tempat mahaluas yang dipenuhi rerumputan, aku melihat bapak berjarak sekira sepuluh langkah di depanku. Anehnya, ketika aku berupaya mendekat, jarak antara kami seakan bertambah. Satu langkah yang kulakukan menyebabkan jarak aku dengan bapak bertambah satu langkah pula. Begitu seterusnya, hingga akhirnya aku berhenti ketika bapak sudah jauh di ujung sana.

Meski aku dan bapak berjarak cukup jauh, ketika bapak berbicara, suaranya terdengar jelas. Karenanya aku menjawab bapak dengan ringan saja, sebab dari suaranya ia benar-benar seperti sangat dekat.

"Betapa jauh perjalanan yang harus bapak tempuh, Zam," ucap bapak.

"Maksud Bapak apa?"

"Bapak tertatih menempuh garis takdir ini. Lihat sekelilingmu, Zam nyaris tiada jalan bagi bapak untuk sampai di titik akhir. Begitulah bapak melewatinya sepanjang waktu."

Aku tak sempat memperjelas maksud bapak. Raganya lebih dulu raib, tepat ketika petir menggelegar, yang kemudian membuatku terjaga. Aku yang tak ingin larut memusingkan kejadian itu, berusaha untuk kembali tidur. Namun, sampai azan Subuh mengalun dari musala, mata ini tak bisa kupejamkan barang semenit saja.

Pada hari-hari berikutnya, sosok bapak kerap membayangi pikiranku. Di setiap kegiatan yang kulakukan, mimpi itu kembali mengemuka. Namun ingatan mimpi itu akan sangat jelas kehadirannya saat aku melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kambing peninggalan bapak yang sekarang kupelihara.

Misalnya pada hari itu, sewaktu aku pulang dari mencari pakan kambing. Saat sedang berjalan menyunggi rumput, perkataan bapak seperti halnya dalam mimpi terdengar di telinga. Aku buru-buru berhenti. Kulempar rumput dari atas kepala, lantas duduk di bawah pohon akasia, menahan pening. Aku menundukkan diri menatap ujung kaki yang rasanya kaku. Sementara pohon-pohon kecil di sekitarku tampak bergerak mengelilingi ragaku yang lunglai.

Hingga akhirnya perasaan aneh itu sedikit kabur ketika kudengar seseorang berteriak memanggil. "Zam, kenapa kamu?" tanya Lik Digal, tanpa kusadari ia sudah berada persis di hadapanku.

"Capek, Lik," jawabku sambil memegangi kepala.

"Biasanya kan juga begini pekerjaanmu." Entah apa alasannya, Lik Digal tiba-tiba membandingkan aku dengan bapak. Katanya, aku harus seperti bapak, pekerja keras dan tangguh. Pada saat itu aku tak menanggapi perkataan Lik Digal.

"Gimana, masih kuat tidak?" tanya Lik Digal lagi, setengah meremehkanku.

Aku hanya mengacungkan satu jempol. Memberi isyarat bahwa aku masih sanggup menyunggi rumput itu-meski pening belum sepenuhnya mereda. Lik Digal kemudian berlalu.

Tidak hanya itu. Ada kejadian yang menurutku jauh lebih parah, tepatnya saat aku berurusan dengan Pak Budi. Pak Budi adalah sosok yang begitu karib dengan bapak, termasuk urusan judi. Dahulu mereka memang kompak kalau menyangkut hal itu. Akan tetapi saat ini Pak Budi sudah berubah. Ia menjalani masa tuanya dengan profesi jual-beli kambing. Sebab itulah beberapa waktu lalu aku menawarkan kambingku padanya, karena menjelang hari kurban begini harga kambing memang sedang meroket drastis.

Sehari berselang, Pak Budi pun datang ke rumah untuk melihat kambingku. Tak perlu waktu lama untuk Pak Budi menyetujui harga, ia menyatakan kambingku sangat pas untuk hewan kurban.

Karena sudah saling sepakat, Pak Budi memintaku mengeluarkan kambing itu dari kandang. Pada saat itulah hal yang kumaksud kembali terulang. Ketika hendak mengalungkan tali tambang ke kambing, kepalaku mendadak pusing. Ingatan mimpi bersama bapak menyeruak di seisi kepala. Aku yang tak kuat menahan sakit seketika roboh. Spontan Pak Budi menolongku, membantu aku berjalan keluar kandang.

Di tengah menahan sakit, timbul pertanyaan dalam diriku. Mungkinkah bapak tidak rela jika kambing peninggalannya akan kujual? Sebab bila kuingat-ingat, apa pun yang menyangkut kambing itu pasti ingatan mimpi bertemu bapak selalu menerorku.

Maka, karena tak ingin mengambil risiko berkepanjangan, terpaksa kuurungkan niat menjual kambing itu. Aku menerangkan pada Pak Budi perihal yang kualami akhir-akhir ini. Hal tersebut kumaksud agar ia tidak marah atas keputusanku.

"Kabari saya kalau kamu berubah pikiran, Zam." Pak Budi pun pergi meninggalkan rasa teramat malu dalam diriku.

Begitulah. Mimpi itu serupa isyarat yang belum kuketahui maknanya. Di hari lain, jika biasanya mimpi itu datang tiba-tiba, kali ini aku sengaja menghadirkannya. Pelan-pelan kuingat perkataan bapak dalam sebuah perjalanan jauhnya yang hampa. Saat itu aku memang tak melihat jalan yang dapat bapak lalui. Hamparan luas itu dipenuhi rumput sedemikian liar, sehingga membuat bapak seolah bingung menapaki garis keabadiannya.

Menghadirkan mimpi itu membuat aku teringat hal lain tentang bapak. Bapak yang meninggal setahun lalu menggenapkan ketiadaan sosok yang dapat kupandang saban waktu. Soal ibu, ia entah ke mana rimbanya sejak aku masih usia sebelas. Tak ada yang tahu pasti keberadaannya. Bapak-ah yang bertindak menggantikan peran ibu. Bertahun-tahun. Hingga raganya tak mampu menopang peran ganda yang ia jalani. Sakit mulai menjangkiti bapak. Masa-masa berat aku lalui dengan merawatnya. Dan yang selalu kuingat adalah pesan bapak sepekan sebelum ia pulang ke haribaan Ilahi. Bapak berwasiat supaya aku merawat seekor kambing miliknya itu.

Tentu aku menjalankan wasiat itu sepenuh hati. Merawat kambing baik-baik. Setiap hari aku mencari pakan, membersihkan kandang, bahkan sesekali memandikan kambing itu. Jadi, soal keinginanku untuk menjualnya menurutku tak lantas aku ingkar dengan wasiat bapak. Aku merasa sudah menjalankan semuanya. Justru aku berencana memakai uang hasil penjualan kambing itu untuk membeli sepasang kambing lagi yang ukurannya lebih kecil. Sepasang kambing itu akan kurawat sampai beranak-pinak. Bukankah itu tak menyalahi wasiat bapak?

Namun, berdasarkan kejadian-kejadian yang kualami setelah mimpi malam itu, aku menduga kalau niatku tak direstui bapak. Semula aku menepisnya, aku anggap itu wujud kerinduanku belaka, tetapi karena berulang-ulang terjadi barangkali benar apa yang kupikirkan.

Perasaan gelisah akhirnya mengantarkanku sampai di pusara bapak. Kutaburkan kembang di sekujur nisan dengan harap semoga bapak dihiasi wewangian. Kusiramkan air putih sebotol supaya raga bapak diliputi kesejukan. Saat menyentuh tulisan namanya, serasa aku tengah membelai wajah bapak yang teduh semasa dulu. Perziarahanku lantas kututup dengan membaca tahlil sembari mencabuti rumput-rumput kecil. Aku yakin bapak mendengar permohonan maafku.

Setelah selesai, aku pun pulang. Setibanya di rumah aku langsung melihat kambing peninggalan bapak itu, sedang menikmati pakan yang tersedia di kandang.

Menyaksikan hal tersebut, tentu saja-seperti biasanya-membuat ingatan mimpi bertemu bapak menguat di benak. Aku memejam sejenak. Dan setelah membuka mata, aku mengambil tali tambang. Aku lilitkan tali tambang itu ke leher kambing, lalu menuntunnya. Kambing itu berjalan di belakangku tanpa suara, tanpa perlawanan. Aku menuntun kambing menyusuri jalan kampung, dan berhenti ketika Pak Budi menyapa saat aku melintas di depan rumahnya.

"Wah. Sudah berubah pikiran, Zam?" tanya Pak Budi, ia tersenyum bangga. "Langsung saja masukkan ke kandang sana ya."

Aku membalas senyum Pak Budi. "Mohon maaf, Pak. Kambing ini tidak saya jual." Seketika Pak Budi beralih raut heran.
"Lho, terus mau kamu bawa ke mana?"

"Rumah Ustaz Sidiq," terangku, lantas melanjutkan perjalanan.

Setiap kali kakiku melangkah, aku merasa ingatan mimpi itu perlahan melebur dari kepala. Dan benar-benar hilang ketika akhirnya aku sampai di tujuan. Di hadapan Ustaz Sidiq aku menerangkan maksud kedatanganku yaitu ingin mengurbankan kambing yang kubawa.

"Kelak, saat hari kurban tiba, semoga Ustaz berkenan menyelipkan nama Bapak pada rapalan doa penyembelihan kambing ini."

Ustaz Sidiq tersenyum. "Semoga Allah mengampuni bapakmu, Zam. Amin," ujar Ustaz Sidiq seraya meraupkan telapak tangannya ke wajah.

Mendengar ucapan itu membuat air mataku meleleh. Sungguh aku merindukan bapak. Atas kerinduan tersebut dengan lirih aku melangitkan harap. Semoga aku mimpi bertemu bapak lagi, di tempat yang bersih dari rerumputan, di mana saat itu bapak tak lagi bingung menuju titik keabadiannya.

Indarka P.P lahir di Wonogiri, alumni Fakultas Syariah IAIN Surakarta, bermukim Kartasura dan bergiat di Komunitas Kamar Kata



Simak Video "Ivan Gunawan Gelar Vaksinasi Corona Gratis untuk Masyarakat Umum"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)