Cerita Pendek

Lamaran

Fahrul Rozi - detikHot
Minggu, 04 Apr 2021 11:42 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Jika tidak dipaksa ibu untuk menerima lamaran Yuda, aku pasti sudah sampai di Jawa. Sebab aku tidak mengenal baik lelaki itu, hanya saja, menurut kabar --hanya sebatas kabar-- dia sangat tampan. Maksudku bukan itu. Di Kampung Mawar tempatku tinggal banyak lelaki tampan, tetapi Yuda --satu-satunnya lelaki berdarah Arab-- memiliki hidung sempurna. Perempuan mana yang tidak tertarik dengannya, dan hanya perempuan bodoh yang menolaknya.

Namun, aku sudah berjanji minggu lalu pada seorang kawan untuk mengunjunginya-mungkin akan menetap pula. Tetapi lamaran ini benar-benar mendadak dan jiwaku seperti didorong --rasanya, aku ingin kembali ke rahim ibu dan terlahir sebagai Dewi Drupadi. Tapi keinginan itu mustahil. Aku tidak bisa menolak desakan ibu untuk menerima lamaran Yuda, sebab aku sudah banyak melukai hatinya.

Sedikit aku kumpulkan informasi tentang Yuda dari pembicaraan dengan teman, saudara, keluarga, dan tetangga Yuda. Dari informasi itu aku bayangkan Yuda adalah Nabi Yusuf. Tapi Yuda bukanlah seorang nabi. Bisa saja ia berubah. Tapi dari penjelasan tetangga Yuda dan kabar yang kudengar, Yuda tidak memiliki alis mata.

Saat Yuda datang ke rumah dan melamarku, aku tidak diperkenan keluar kamar karena ada tamu laki-laki. Aku di kamar bersama ibu, sementara bapak menemani Yuda di teras depan rumah. Ibu belum lama mengenal Yuda; ia pun mengenalnya dari mulut tetangga, jadi agak heran kenapa ibu begitu yakin soal Yuda.

Seperti biasa, setiap ada lelaki datang melamarku, aku tidak ambil pusing perihal itu. Karena sudah pasti mereka aku tolak. Mereka hanya menyombongkan diri di depan keluargaku, mengeluarkan kalung emas dan berlian serta motor besar. Walau bapak tahu jawabanku, ia akan tetap menerima si pelamar dan menyambutnya seperti raja.

Ia suruh istrinya membuat kopi. Jika si pelamar tidak ngopi, maka dibuatlah teh, dan jika si pelamar tidak ngeteh, maka disediakan air putih. Awalnya si pelamar basa-basi, lalu sedikit memancing obrolan soal pemilu, lingkungan, peristiwa yang baru terjadi di Kampung Mawar, dan pada akhirnya tiba melamarku.

Dan aku bisa menebak wajah lelaki itu memerah mendengar jawabanku. Dan bapakku hanya bisa diam, melihatnya sambil senyum terpaksa.

Tapi setelah Yuda datang ke rumah dan bapak meminta Yuda menantikan jawabanku lusa, aku terhenyak. Ibu menuntunku ke ruang tengah dan di sanalah mereka mendorongku agar menerima lamarannya. Dan mengalirlah cerita-cerita tentang Yuda.

***

Siapa yang tak kenal dengan Yuda di Kampung Mawar. Namanya begitu harum seperti bunga mawar. Wajahnya sempurna, bersinar disambut matahari, dan rambutnya licin oleh minyak yang disisir ke belakang. Yuda memiliki tubuh ideal; dada bidang, tinggi badan sempurna, dan kulit putih Arab sedikit Madura.

Dia menjadi primadona Kampung Mawar dan di sekolahnya. Bukan hanya dikagumi karena fisiknya saja, akan tetapi kedermawanan, kerendahan dan senyum tulusnya membuat semua orangtua sangat mempercayainya dan memuji layaknya Sri Rama.

Eti, sepupuku yang tinggal tidak jauh dari rumah Yuda, berkata bahwa lelaki itu memiliki perempuan lebih dari satu. Eti pernah sekali memergokinya berduaan dengan gadis desa sebelah di pinggir sungai. Mereka melempar senyum. Eti keberatan jika aku menerima lamarannya, sebab kata Eti, lelaki itu memiliki perempuan simpanan.

Aku bertanya padanya apa benar ia tidak memiliki alis, dan Eti tertawa.

"Tentu saja dia punya...tapi kau jangan menerima lamarannya."

"Aku dengar dia tidak memiliki alis mata."

Eti tertawa lagi.

"Itu bukan masalah besar," kelakarnya. "Tapi masalahnya, dia banyak mendekati perempuan. Kau harus menolaknya."

Aku mengangguk karena mendapat jawaban "alis gundul" dan jika dia suka mendekati perempuan, itu masalah serius.

Jika Eti melarang, beda dengan Kasim.

Kasim sahabatku. Dia mendukung sepenuhnya keputusanku, kalau itu yang terbaik. Tapi ia menyarankan agar tidak terburu-buru untuk menikah. Sebab pernikahan adalah komitmen. Aku tahu Kasim peduli padaku. Ia akan selalu mendengarkan ceritaku jika aku ingin. Dan tidak seperti teman-temanku, Kasim orang yang bijak.

Sampai di sini cerita soal Yuda.

Besok aku akan ke pergi Kantor Pos untuk mengirim surat pada kawan di Jawa. Kutulis dalam surat bahwa masalah yang tak terduga telah terjadi. Aku menunda keberangkatan setelah masalah ini selesai. Dan aku meminta solusi padanya untuk menyelesaikan masalah.

Seharusnya aku mengirim surat kemarin. Mungkin surat ini akan sampai besok atau lusa, tetapi besok aku harus memutuskan "tidak" atau "iya" pada Yuda.

Hari sudah gelap dan sisa beberapa jam untuk besok yang mendebarkan. Mengapa mendebarkan? Karena ini menyangkut hidupku, dan hidup hanya mencari kebahagiaan, bukan kegelisahan. Kurasa, Yuda terburu-buru melamarku-aku belum cukup mengenalnya dengan baik-dan ini membuatku gelisah.

Dan, apa benar yang dikatakan Eti tentang Yuda? Jangan-jangan Eti adalah salah satu perempuan Yuda, makanya Eti melarangku agar tidak menerima lamarannya. Tapi apa benar pikiranku yang liar ini? Bagaimana aku bisa suudzan pada sepupuku sendiri?

Bagaimana kalau itu semua hanya omong kosong? Aku benar-benar gelisah.

Dan, aku tidak diperbolehkan ngobrol sebelum menikah. Inilah mengapa aku jadi gelisah.

***

Aku tidak bisa tidur malam ini. Sesungguhnya dengan memejamkan mata aku bisa tidur, tetapi malam ini, walau mataku terpejam, namun suara-suara di luar membuatku terjaga. Aku tidak bisa tidur, dan pikiranku mengembara ke antah berantah.

Awalnya, pikiranku sampai pada gubuk di tengah-tengah padang rumput, malam yang dingin, dan hamparan jutaan komet. Di sana kudengar suara seruling mengalun melankolis, sepertinya pemain seruling tahu kegelisahan hatiku. Aku mencari pemain seruling itu, tetapi di tengah padang rumput aku tidak menemukan satu pun manusia selain diriku sendiri dan gubuk kecil beratap rumbia.

Kini padang rumput itu menjadi awan yang seperti kapas-lembut dan halus-aku meloncat dan tubuhku melayang lalu jatuh di bantalan awan. Di sana tidak ada siapa pun selain diriku sendiri. Kemudian ada pusaran angin seperti manusia, dengan suara bising mendekat ke arahku, namun angin itu tiba-tiba menghilang sepuluh senti sebelum sampai.

Kemudian awan itu berubah menjadi rumahku sendiri. Banyak orang di sana dengan riasan, parfum, dan baju terbaik. Mereka semua duduk di kursi di bawah tarup merah muda, melihat panggung kecil dengan sofa mewah keemasan, serta hiasan bunga-bunga plastik yang cerah.

Ada dangdut yang mengentak. Semua orang bahagia dan bernyanyi ria, mengikuti lagu kecuali satu perempuan, yang duduk di sofa di atas panggung dengan seorang lelaki tampan; wajahnya murung, matanya sayu memandang ke depan, namun ada kilatan di matanya, seperti air mata.

Perempuan itu sangat mirip dan bisa bilang kembaranku. Ya, Tuhan!

***

Hari itu tiba juga; hari yang tidak kuinginkan. Pagi-pagi sekali ibu membangunkanku yang baru terlelap. Mata perih seperti baru disiram air garam. Kaki penat seolah habis berjalan berkilo-kilo meter. Aku ke kamar mandi, membasuh wajah, dan tidak sengaja melihat wajahku di genangan air. Di sana aku tampak lebih tua.

Jika Yuda melihatku sekarang apa dia akan kaget? Aku tidak tahu. Aku akan sangat senang jika ia kaget dan membatalkan lamarannya. Aku berterima kasih pada Tuhan jika itu yang terjadi.

Namun aku tidak ingin mengecewakan orangtua. Aku berdandan dengan semangat. Kububuhkan bedak di pipi, rona merah sedikit, dan gincu. Kurasa ini sudah cukup. Ibu dan bapakku akan senang melihatku tampil begini. Yuda pun pasti terpesona. Tapi aku tidak berniat begitu. Aku hanya ingin memberi kesan baik.

Yuda datang tepat waktu, dan kali ini dia bersama orangtuanya dengan dua adik perempuan yang memakai pakaian terbaiknya. Yuda membawa kado. Mereka semua duduk di ruang ruang tamu. Aku di dalam kamar. Kulihat dari lubang kecil.

Yuda berbeda dengan tanggapan orang. Dia bertubuh kecil, dan mungkin lebih kecil dariku. Dia memiliki hidung mancung yang bengkok, serta sedikit bintik-bintik merah di pipinya. Ya Tuhan, inikah Yuda yang dipuji-puji orang Mawar, atau mataku yang salah?

Ibu masuk. Aku sudah berdiri di depan pintu menyambutnya.

"Sebelum aku menjawab, bolehkah aku bertanya pada Yuda secara langsung?"

"Sampaikan pada ibu saja,"

"Tapi ini benar-benar penting,"

"Aku tanya bapakmu dulu."

Tapi aku sudah tahu jawaban bapak. Jadi aku langsung keluar kamar, seolah melompat dari dunia lain-mereka melihatku seperti makhluk luar angkasa-sekonyong-konyong bertanya pada Yuda, yang terpesona denganku.

"Apakah kau Yuda Kampung Mawar?

Mereka termenung. Ada guratan di dahi seperti sedang berpikir. Tapi mereka tidak berpikir. Semenit kemudian mereka melingkarkan telinga kanan, dan mengharap dengan mata agar aku mengulang yang kukatakan. Maka, aku ulang dengan keras, dan mereka tetap termenung. Apakah mereka tuli atau pura-pura tuli?

Sewon, 12-11-2020

Fahrul Rozi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, belajar menulis di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Rio Reifan Polisikan Henny Mona, Sandy Tumiwa Tuntut Rp 10 Miliar"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)