Cerita Pendek

Nauli dan Soripada

Radja Sinaga - detikHot
Minggu, 28 Mar 2021 10:18 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Akan mudah diterka seorang jemaat malas beribadah tiap Minggu jika tak mengetahui di dipan paling depan adalah tempat Nauli. Tepatnya ada dua baris dalam gereja, setiap baris berisi 12 dipan, Nauli di baris kiri jika ditelisik dari pintu masuk, di dipan paling depan, menjorok ke kanan itulah Nauli duduk. Kalimat ini sengaja diurai agar pembaca mudah mereka dalam kepala di mana Nauli duduk.

Namun Minggu ini, ketika beberapa ibu-ibu mengenakan kebayanya paling cantik-menarik-menampakkan lekukan tubuhnya yang sebenarnya, maaf, membuat jemaat yang duduk di belakangnya risi-sebab anaknya dibaptis; dan di baris sebelah, anak muda memakai pakaian serba putih untuk Peneguhan Sidi --bagian dari pengakuan iman dalam gereja-gereja Protestan-- dan Perjamuan Kudus di akhir ibadah, Nauli tidak ada di tempatnya.

Barangkali Nauli akan terlambat. Itu sudah biasa sebab terlambat dan Nauli adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Mengenai terlambat, sedikit diperjelas, bukan lewat dari waktu yang ditentukan. Terlambat yang dimaksud ketika lima belas menit lagi ibadah akan dimulai, Nauli baru datang. Pembaca mungkin mengira ini aneh. Tidak soal. Hanya saja Nauli seorang istri kepala sintua. Seharusnya ia datang bersamaan dengan suaminya, namun itu mustahil sebab Nauli butuh waktu berdandan dan melengkapi keperluan suaminya yang mengidap stroke. Suaminya juga tak mungkin menunggu Nauli.

Tetapi ini sudah lebih dari 15 menit sebelum masuk ibadah, bahkan sudah masuk ke akhir ibadah, tinggal pendeta tercinta mengucapkan 'amin' setelah khotbahnya, menyanyikan satu lagu sambil mengumpulkan persembahan, masuk ke acara Baptis dan Peneguhan Sidi dan Perjamuan Kudus dan diakhiri dengan melantunkan doa persembahan dan Doa Bapa Kami, lalu song leader mengatakan 'amin' sebanyak tiga kali yang diiringi dengan alunan musik, Nauli tak ada di tempatnya. Mungkin ia tak bergereja? Mustahil, sebab Minggu ini Perjamuan Kudus.

***

Sebelum masuk ke bagian ke mana hilangnya Nauli, ada baiknya mesti diketahui bahwa kepada para lelaki tanggung yang tiap sore menghabiskan waktu dengan mengocek-ngocek bola itulah --yang mengabarkan kali pertama pulangnya Soripada-- kau berterima kasih. Lapangan bola mereka berada di samping gereja tempat Soripada ditemukan berpulang. Memang sulit dicerna akal ketika kabar itu tersiar kepadamu dan orang banyak. Karena berjauhan, tentu para orang tua yang tak jauh berkumpul di sebuah lapo menjadi pihak kedua atas berpulangnya Soripada. Para orang tua itu sempat memarahi para lelaki tanggung tersebut.

Kadang kala anak-anak muda gila pikirannya ketika berbicara meski sedang tak menenggak alkohol. Sempat dari salah seorang para lelaki tanggung itu, yang paling depan menghadap para orang tua digampar, namun diurungkan kemudian karena sedikitnya para orang tua itu mengenal orang tua para lelaki tanggung itu. Kemudian....

Diceritakan, Soripada berpulang di depan gereja sambil memeluk lututnya, terdengar aneh dan melankolis, seperti kawula muda yang depresi karena beragam soal. Soripada merebahkan punggungnya di pilar kanan bila dipandang dari gerbang gereja-gereja itu memiliki dua pilar berbentuk kubus. "Kami pikir, tertidur dia," serempak para lelaki tanggung itu menjawab mula-mula bagaimana Soripada ditemukan berpulang.

"Bagaimana kalian tahu Soripada meninggal?"

"Seperti kebanyakan orang."

"Kalian berani!"

"Jika kami tahu sebelumnya, tak mungkin kami berani melakukan."

"Apa yang dilakukannya di sana?"

Para lelaki tanggung itu bergeleng. Tetapi salah seorang dari mereka, katakanlah aku, beranggapan bahwa Soripada sedang menunggu murid-muridnya.

"Murid apa?"

"Marguru malua."

"Darimana kau tahu?"

"Tahun lalu begitu. Aku tamat tahun lalu."

Para orang itu saling menatap, muncul pertanyaan. Beragam tentunya. Tetapi dari sekian banyak, pertanyaan ini memiliki indikasi tinggi: berselang dua jam lebih sedikit --tentu tidak ada yang tepat waktu, azan magrib berkumandang, dan kebaktian tentunya sudah usai tiga jam lebih yang lalu, lantas mengapa Soripada masih di sana?

Maka, Soripada dibawa. Petang itu terpaksa membikin meja-meja lapo dikosongkan. Pemilik lapo mungkin kecewa, tetapi ia berbesar hati setelah mendengar Soripada yang meninggal. Bagaimana pun, pemilik lapo dan Soripada bersaudara, ditelisik dari marga istri Soripada. Dan kau mengira pemilik lapo itu yang menggerakkan kaki para orang tua segera mengantarkan Soripada ke rumah duka?

***

Pada mulanya kau mengira Soripada terjatuh dari motor. Sering sekali kau tahu Soripada terjatuh berkendara. Kau ingat setelah enam tahun lalu, stroke menggerogoti saraf-saraf, Soripada terlihat payah melakukan macam aktivitas. Kau sering mengutuk diri ketika ia terjatuh berkendara. Mengapa kau tak ikut juga ke mana ia pergi agar kau yang memboncengnya? Tetapi kau punya tugas dan ia tak keberatan mengendarai motor sendiri. Tidak mungkin ia menunggumu atau kau menelantarkan tugasmu.

Soripada dibaringkan dan matamu melirik jauh ke halaman. Pintu menganga, terlihat seseorang menurunkan cagak motor yang kau kenali. Motor itu pulang seperti ia pergi dibawa Soripada. Dan kau bertanya dan kau sedikit mengendurkan rutuk.

Apa yang terjadi, begitu terlihat di matamu meski kau tak bersuara. Entah bagaimana kata-kata sulit dilafalkan. Namun mata adalah bahasa yang tak terbantahkan. Para orang tua itu hanya menatapmu, menatap lantai, menatap langit-langit, menatap lainnya yang bisa dijangkau mata. Dan para lelaki tanggung itu di luar. Dari sekat-sekat jendela yang katakanlah beruntung sebab tidak ditutup tirai atau dari pintu sehingga menyesakkan udara, melihat ke dalam rumah.

Kemudian keheningan pecah. Salah seorang dari para orang tua itu menyuruh masuk. Dan sialnya, entah mengapa Aku yang mesti maju. Mungkin wajahku yang paling jelas di depan pintu atau aku yang terlalu banyak bicara ketika menerang di lapo tadi?

Aku mendekat, terpaksa. Aku tahu akhirnya bagaimana ketika disuruh duduk. Menjelaskan ulang kepadamu, bagaimana Soripada berpulang. Tetapi menjelaskan kepadamu dan kepada para orang tua pengecut ini tidak sama. Kepada para orang tua, aku tak perlu memikirkan kata-kata yang tepat seperti debat capres.

Beritahu kepada Inang ini, kata salah seorang dari pengecut itu.

Aku menatap sekeliling. Dan dunia berhenti. Sekali lagi para pengecut itu berkata kepadaku. Dan dunia berhenti, kedua kali.

***

Setelah kalian --para pembaca-- menghabiskan tiga plot di atas, sudah bisa diterka kemudian apa hubungannya tokoh Kau-Soripada dan Nauli. Para pembaca adalah orang-orang cerdas. Maka lebih baik aku terangkan saja mengenai maksud Soripada menunggu di gereja meski ibadah sudah usai, berjam-jam lalu.

Seperti yang kukatakan di atas, tahun lalu aku mengenyam sedikit pelajaran agama dari Soripada. Pelajaran itu biasanya dilakukan lebih enam bulan. Pelajaran untuk Peneguhan Sidi. Pelajaran dilakukan tiap sore minggu.

Pada tahun ini, perubahan terjadi, pelajaran tidak dilakukan tiap sore minggu setelah tiga minggu berturut-turut para muridnya yang hendak Peneguhan Sidi tidak seorang pun datang. Itu menyebalkan. Pembaca mesti tahu bahwa Soripada mengajar tanpa dibayar. Bukankah itu sudah sewajarnya sebagai pelayanan? Ya, sangat wajar, namun sebelum pembaca tahu kebenaran kewajaran sebagai pelayanan hanyalah omong kosong dalam sistem gereja.

Sebelum Minggu para murid Soripada mendapat Peneguhan Sidi, pendeta akan memberi mereka sedikit imbauan, agar mudah katakan saja geladi resik. Omong kosong terjadi dalam geladi resik. Para orangtua murid akan menyelipkan uang kepada pendeta sebagai jasa terima kasih telah bersedia melakukan Peneguhan Sidi untuk anaknya. Di beberapa daerah, jasa terima kasih itu bisa berbentuk berkaleng-kaleng beras, yang terpenting esensi tercapai: membayar atas kewajaran dalam pelayanan adalah omong kosong.

Lantas bagaimana mungkin, Soripada yang mengajari lebih 6 bulan tidak mendapatkan jasa terima kasih hanya karena kedudukan pendeta lebih tinggi? Pembaca boleh menyalahkan para orang ua karena tidak adil, namun pembaca mesti menyalahkan pendeta karena menerima sesuatu yang tidak mesti ia terima dan pembaca boleh menyalahkan Soripada karena tidak meminta. Pada opsi ketiga sebaiknya tidak perlu dilakukan sebab di plot kedua tertera nasib Soripada. Buruk sekali menyalahkan seseorang yang sudah wafat bukan?

Mengetahui 3 minggu berturut-turut tidak datang, Soripada membuat pengajaran selepas ibadah. Malangnya, sampai berjam-jam menunggu, tidak ada satu pun murid yang datang. Bahkan para muridnya itu melenggang begitu saja ketika ibadah selesai, entah menuju ke mana --Soripada belum sempat pulang, ia menggantikan baju di bilik ruangan khusus para sintua. Padahal selepas ibadah, pihak gereja sudah mengimbau. Ini menyebalkan yang kedua.

***

Dan ini menyebalkan yang ketiga: setelah para pengecut itu menyuruhku menceritakan yang terjadi atas Soripada kepadamu. Aku, meski sudah selang beberapa plot dan dunia berhenti dua kali, tak kunjung kudapatkan bagaimana menceritakan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya kepadamu. Demikianlah kuceritakan ulang sebagaimana kepada para pengecut ini.

Seperti yang tak diduga, kau hanya bergeming --tak kau sangka ia pulang dengan cara paling tenang, dalam tunggu yang panjang, yang diangan-angannya, mungkin.

***

Setelahnya Soripada dikubur dengan keadaan sari matua --keadaan wafat seluruh anaknya menikah dan ia memiliki cucu.

Kini kemudian pembaca bertanya ke mana hilangnya Nauli setelah jenuh membaca potongan-potongan cerita ini? Aku tentu tidak tahu, namun aku bisa membuat daftar kemungkinannya, hanya saja cerita ini akan semakin panjang. Kendati, sehari setelah penguburan Soripada, rumah mereka tak memiliki cahaya kehidupan. Bahkan pendeta kita tercinta yang mendapat jasa terima kasih dari kerja keras Soripada tak sempat mengunjungi rumah mereka dan memberi penghiburan dari ayat-ayat Alkitab dan barangkali jika pendeta itu datang, maka berakhir dengan jasa terima kasih dalam esensi yang berbeda?

Rantau Parapat, Oktober-November

Radja Sinaga mahasiswa PBSI Universitas HKBP Nommensen Medan, alumni Kelas Menulis Prosa Balai Bahasa Sumatera Utara. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit berjudul Lantai Dua (2019)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Desiree Ingin Damai dengan Hotma Sitompul, Tapi Ada Syaratnya"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)