Cerita Pendek

Nyonya Rumah

Mochamad Bayu Ari Sasmita - detikHot
Minggu, 14 Mar 2021 10:08 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Nyonya Rumah yang salah satu kamarnya kusewa untuk indekos telah kehilangan putrinya yang baru berusia dua tahun. Nyonya Rumah itu, yang dulunya merupakan perempuan yang sehat, berangsur-angsur mengalami kemunduran secara fisik. Semenjak meninggalnya putrinya yang berusia dua tahun itu, dia tidak pernah lagi merapikan rambutnya. Rambutnya yang hitam dan panjang itu dibiarkan tergerai begitu saja. Dia jadi jarang tidur.

Setiap malam selalu kudengar dia menangis sesenggukan di kamarnya. Para pembantunya tidak diperbolehkan mengganggunya. Untuk meyakinkan para pembantunya itu, dia mengatakan bahwa dia tidak akan bunuh diri. Dia hanya butuh sendirian untuk saat ini. Akibatnya, kantung matanya mulai menghitam. Kedua pipinya yang dulu seperti ungkapan lama, bagai pauh di layang, telah cekung. Wajahnya terlihat lebih tua daripada usianya yang sebenarnya. Tubuhnya menjadi kurus. Lebih kurus daripada sebelumnya.

Aku tidak tega melihat pemandangan semacam itu. Tapi, aku juga dipenuhi dengan ketidakmampuan. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana caranya menghiburnya. Bagaimanapun aku sangat berterima kasih karena telah diperbolehkan tinggal di tempat ini selama aku menempuh pendidikan tinggi. Jadi, aku harap aku dapat membalas budi, meskipun sangat sedikit.

Saat-saat makan malam dan sarapan di pagi hari adalah sesuatu yang begitu menyiksaku. Tidak ada percakapan yang bahagia atau ceria di meja makan seperti sebelum meninggalnya putrinya. Sekarang, Nyonya Rumah hanya mengunyah makanannya dengan tatapan kosong. Bahkan, jika diperhatikan baik-baik, dia enggan makan. Kunyahannya begitu pelan. Makanan di piringnya pun seringkali tidak habis.

Suami Nyonya Rumah adalah seorang pelaut. Dia hanya pulang setahun dua kali atau kadang tidak pulang sepanjang tahun. Dia menghadapi kematian putrinya seorang diri, tanpa suami di sisinya yang akan menguatkan batinnya.

Pada suatu pagi, seorang pelayan perempuan membawa sebuah surat yang dibungkus amplop cokelat dan menyerahkannya kepada Nyonya Rumah.

"Nyonya," kata salah satu pelayannya, "Ada surat dari Tuan."

Nyonya Rumah hanya menerima surat itu, tetap tanpa semangat hidup. Dia membuka amplonya. Mengeluarkan surat yang terlipat dari dalam amplop. Membuka lipatannya dan membacanya tanpa bersuara. Setelah beberapa saat, dia pun menyuruh pelayannya untuk menyimpan surat itu di tempatnya. Jika dugaanku benar, suaminya tidak akan pulang.

Dia kemudian memanggil salah seorang sopir dan berkata bahwa dia akan keluar hari ini.

Mendengar hal itu, hatiku sedikit lega.

Benar, Nyonya, kataku dalam hati, matahari di luar sana itu memberikan kehidupan. Nyonya harus mencobanya meskipun sekarang musim dingin sedang berlangsung. Mengurung diri di rumah besar ini hanya akan membuat hati Nyonya bertambah sedih dan semakin merasakan kehilangan itu.

"Aku pergi dulu ya," katanya kepadaku yang sedang duduk di dekat perapian yang tidak dinyalakan sambil membaca buku tebal yang sudah agak lapuk.

Mendengar itu, aku lekas menutup bukuku dan berdiri.

"Iya, Nyonya. Hati-hati di jalan," jawabku kemudian mengantarnya sampai pintu.

Seorang pelayan membawakan mantelnya dan mengenakannya kepada Nyonya Rumah. Seorang pelayan yang lain membawakan topi yang bahannya bisa menghangatkan kepalanya. Dia tetap membiarkan rambutnya terurai. Seorang pelayan dengan setelan lengkap dan sarung tangan hitam membukakan pintu untuk Nyonya Rumah. Kemudian, seorang sopir pribadinya menuntunnya menuruni tangga yang licin akibat hujan semalam secara perlahan-lahan.

Ke mana perginya Nyonya Rumah, sama sekali tidak kuketahui.

Pukul dua siang pelayan bersetelan lengkap membukakan pintu. Aku masih duduk di kursi yang dekat dengan perapian. Buku yang kubaca terlalu menarik sehingga aku dibuat tidak beranjak. Mengetahui Nyonya Rumah datang, aku menutup buku itu sejenak untuk menyambutnya. Aku terkejut-sekaligus bahagia, karena wajahnya kali ini lebih baik daripada sebelum dia ke luar rumah. Dia masuk sambil membawa sebuah benda yang dibalut dengan kain seperti anak bayi yang baru lahir. Caranya menggendong benda itu sama persis dengan ketika dia menggendong bayinya.

"Selamat datang, Nyonya," sapaku.

"Oh, Tuan Dokter," disebut seperti itu membuatku tersipu karena masalahnya aku masih jauh sekali untuk menjadi seorang dokter. Aku bahkan baru menempuh pendidikan ini selama satu tahun, "Tuan belajar dengan sungguh-sungguh ya. Tuan sepertinya terus berada di kursi sambil membaca buku selama saya keluar tadi."

Mendengar pujian semacam itu hatiku lebih malu lagi. Sebenarnya yang kubaca hanyalah sebuah novel tua yang kebetulan kutemukan di toko buku bekas. Tidak ada sangkut-pautnya dengan studiku. Tapi, untuk saat ini hal semacam itu tidak begitu merisaukanku lagi. Senyum Nyonya Rumah yang mengembang seperti bunga yang bermekaran setelah musim dingin berlalu itu membuatku lega.

"Nyonya terlihat sangat bahagia," kataku memuji.

Nyonya Rumah tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan ujung jari-jarinya.

"Nah, Tuan Dokter, tahukah Anda bahwa tidak boleh ada kekosongan di dunia ini?"

Aku menggeleng. "Bagaimana itu, Nyonya?"

"Begini, Tuan Dokter," dia berkata sambil berjalan ke tempat duduk dengan tetap menggendong benda yang berbalut kain itu selayaknya bayi yang sangat rentan, "Jika kita kehilangan sesuatu, harus ada sesuatu lain yang segera mengisi kekosongan itu. Kalau tidak, kehidupan akan berantakan. Kurasa itu menjelaskan sesuatu yang disebut sebagai rumah berhantu. Ketika manusia yang menempatinya sudah tidak ada, hantu-hantu akan datang entah dari mana untuk menempati rumah itu. Mengisi kekosongan timbul. Itu bukan pemikiran saya sendiri. Penjual boneka di pusat kotalah yang mengatakannya kepada saya. Kami bercakap-cakap cukup lama sampai dia menawari saya makan siang bersama."

"Penjual boneka?" tanyaku setengah terkejut.

"Ya, saya pergi ke toko boneka di pusat kota dan membeli boneka ini," Nyonya Rumah mencondongkan boneka ke arahku, meskipun hal itu masih belum bisa membuatku melihat sosok di balik balutan kain itu. "Silakan mendekat, Tuan Dokter!"

Aku pun beranjak dari kursiku dan mendekati Nyonya Rumah. Aku melihat sebuah kepala boneka itu yang matanya sedang terbuka lebar. Aku merasakan kejeniusan pembuatnya. Boneka itu dibuat dengan begitu teliti, semirip mungkin dengan manusia, dalam hal ini mirip sekali dengan bayi. Itu adalah boneka perempuan. Rambutnya pirang dan pendek. Matanya berwarna biru. Kedua pipinya memerah, mungkin dibuat seperti itu karena sekarang sedang musim dingin.

"Bagaimana, Tuan Dokter?"

"Dia terlihat mirip sekali dengan bayi sungguhan. Jika saya melihatnya pada suatu malam yang tanpa penerangan, barangkali saya akan menganggapnya bayi sungguhan." Aku mengucapkan kata-kata itu sambil hatiku bergidik. Entah mengapa saat itu aku membayangkan sesuatu yang mengerikan.

Pada malam itu, aku melihat sekali lagi wajah yang berbahagia dari Nyonya Rumah di meja makan. Namun, perasaan ngeri juga terlintas dalam benakku. Setelah makan malam, dia lekas kembali ke kamarnya dan menyenandungkan lagu pengantar tidur. Untuk siapa pula dia melakukan hal itu?

Aku pergi ke rumah kecil di samping rumah besar. Itu adalah tempat khusus si sopir. Aku mengetuk pintunya. Dia membukanya dengan wajah berwarna merah. Sepertinya dia mabuk berat.

"Maaf mengganggu, Tuan," kataku.

"Tidak apa-apa, Tuan Dokter," karena Nyonya Rumah memanggilku seperti itu, seisi rumah pun memanggilku seperti itu juga. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya ingin bertanya tentang suatu hal. Apa yang terjadi dengan Nyonya? Saya bersyukur bahwa dia tersenyum kembali. Tapi, saya rasa ada yang tidak wajar."

"Saya sendiri juga tidak begitu mengerti, Tuan Dokter. Saya hanya mengantarkan Nyonya ke toko boneka. Saya disuruh menunggu di kafe atau tempat yang lain yang dekat dengan toko itu. Nyonya berada di sana cukup lama. Tahu-tahu, dia menggendong sebuah boneka bayi."

Menanyainya lebih lanjut pun tidak akan membuahkan hasil. Aku pun mengucapkan terima kasih kepadanya kemudian kembali ke rumah utama.

Aku kembali naik ke kamarku. Tapi, begitu aku menginjak tangga, aku mendengar suara tawa riang Nyonya Rumah. Suatu tawa yang menyayat hatiku. Kemudian, aku mendengar juga dia membacakan salah satu dongeng dari Grimm Bersaudara. Pembacaannya diiringi dengan nada seperti seorang pendongeng ulung yang sedang menuturkan sebuah kisah kepada anak-anak di sekelilingya.

Aku pernah membaca beberapa dongeng dari Grimm Bersaudara. Semua yang kubaca kebetulan berakhir bahagia. Tapi, membayangkan Nyonya Rumah berbahagia dengan boneka itu membuatku ngeri. Sebuah kekosongan telah tertutupi. Namun, ada harga yang begitu besar untuk membayar penutup itu. Malam itu, aku tidur di kamarku dengan perasaan sedih.

30 Januari 2021

Mochamad Bayu Ari Sasmita lahir di Mojokerto, 17 Agustus 1998. Sedang menempuh kuliah di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Kata Ardhito Pramono Sempat Kecewa Lagunya Digunakan di Acara TV Korea"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)