Cerita Pendek

Sarip dari Tambak Oso

Dadang Ari Murtono - detikHot
Sabtu, 07 Nov 2020 11:00 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Asal-Usul

Masa kecilnya, sebagaimana akhir hidupnya, adalah misteri yang nyaris mustahil diterangi. Sejumlah aktor ludruk dari generasi kedua atau ketiga, yang sebagian di antaranya pernah bersinggungan dengan Cak Durasim, yang rata-rata lahir pada dekade dua puluhan atau tiga puluhan abad dua puluh, mengaku pernah melihatnya pada masa kecil mereka. Ia berkeliaran di sekitar Kali Sedati dengan tapak-tapak kaki telanjangnya yang besar dan menggentarkan.

Kalangan akademisi, yang berbicara berdasarkan bukti-bukti empiris, menyebut ia berasal dari awal abad ke-19, lahir dari rahim seorang perempuan biasa, dan berasal dari benih yang ditabur seorang pengikut setia Diponegoro yang mangkat setelah Perang Jawa selesai pada tahun 1830. Pada tahun 1930-an itu, ingatan pertamanya masih samar-samar.

Satu hal yang disepakati semua orang adalah bawa ia, pada masa bayinya, pernah menelan segumpal tanah merah. Ayahnya mendapatkan tanah itu dari sebuah gua lembab ketika bertapa, dan mengisinya dengan doa-doa, serta membaginya sama rata untuknya dan ibunya. Sejak itu, ibu beranak tersebut terikat hubungan yang lebih kuat ketimbang kuasa ajal.

Ayahnya memiliki tambak luas di Tambak Oso. Ibunya terlalu lemah untuk mengelola tambak itu sendirian sepeninggal ayahnya. Ridwan, pamannya, mengambil alih pengelolaan tambak itu dan berjanji akan berbagi hasil dengan ibunya.

Namun, seperti takdir setiap harta waris, kerakusan dan keserakahan yang dibawa olehnya akan merusak hubungan darah. Ridwan tunduk pada takdir itu. Dan janji tinggal janji. Tak seekor pun ikan dari tambak itu yang pernah singgah di dapur ibu beranak tersebut.

Masa Remaja

Ia, yang diberi nama Sarip dan karena berasal dari Tambak Oso maka kerap kali disebut sebagai Sarip Tambak Oso itu, mengisi masa remajanya dengan segala hal yang dibutuhkan untuk membangun reputasinya sebagai legenda. Awalnya, terdorong oleh lapar, ia menyelinap ke rumah orang-orang kaya, mengeruk harta benda mereka, dan menjadikannya sarana penyambung hidup.

Pada perkembangannya, sadar bahwa harta benda jarahannya terlalu berlebih untuk dihambur-hamburkan sendirian, ia membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin di sekitarnya.

Lurah Tambak Oso melindunginya. Kepada serdadu kolonial Belanda, lurah itu mengatakan pencurian-pencurian yang dilakukan Sarip bukanlah sebuah dosa, lantaran ia melakukannya demi kebaikan lebih banyak orang. Orang-orang kaya jelas tidak setuju dengan pendapat itu. Dengan bertopang pada kedua lutut, mereka beringsut ke hadapan mantri polisi kolonial, menuntut agar orang-orang berkulit putih itu melakukan apa pun yang mereka bisa untuk menghentikan tindakan barbar Sarip.

Pajak

Selama kepentingannya tidak terusik, pemerintah kolonial memilih menahan diri dari laporan-laporan yang dihaturkan orang-orang kaya Sidoarjo yang menderita karena ulah Sarip. Namun itu tak lama. Dari Lurah Gedangan, mereka mengetahui bahwa ibu Sarip, selaku pemilik tambak luas di Tambak Oso, menunggak pembayaran pajak.

Pada suatu hari buruk, beberapa orang mengatakan itu Jumat yang gerah, beberapa yakin itu Minggu yang sedih, sekompi serdadu kolonial dengan menyelempang senapan disertai Lurah Gedangan datang ke gubuk janda tua itu.

Ibu itu mengatakan tidak akan membayar pajak karena dua alasan. Pertama, ia tidak memiliki cukup uang. Kedua, pengelola tambak dan penikmat hasil tambak itu adalah Ridwan, adik almarhum suaminya.

Lurah Gedangan mengulurkan surat-surat, menyebut bahwa dalam surat-surat itu, tambak luas tersebut diatasnamakan si ibu.

Si ibu tetap menolak.

Beberapa menit kemudian, ketika Lurah Gedangan beserta sekompi serdadu kolonial meninggalkan gubuk tersebut, si ibu terkapar di lantai. Bibirnya robek dan matanya bengap. Wajahnya lebam dan badannya biru-biru.

Ia menyambat nama anaknya, sedikit terbata-bata, namun gaungnya menembus ruang-ruang fisik yang jauh, hingga ke sanubari Sarip yang sejatinya begitu dekat, sedekat urat di jantung si ibu sendiri.

Pembunuhan

Tidak ada yang bisa mengatakan di mana Sarip ketika ibunya dipukuli hari itu. Namun semua orang tahu, sebelum rombongan penagih pajak itu meninggalkan Tambak Oso, Sarip telah mengadang jalan mereka. Ia bergerak seperti angin. Namun ia bukan sembarang angin. Ia angin dengan parang tajam di tangan. Dan sebagai angin berparang tajam, ia mengirim semua anggota rombongan itu, termasuk Lurah Gedangan, ke alam kelanggengan, menjerumuskan mereka ke siksa neraka yang kekal.

Gagak-gagak dan anjing-anjing liar berpesta bangkai hari itu. Dan binatang-binatang itu bisa tidur nyenyak setelahnya. Namun tidak dengan Sarip.

Setelah pembunuhan itu, ia pergi ke rumah pamannya, dan menghadiahi si paman dengan kepalan-kepalan tinju. Segala hal buruk yang menimpa ibunya adalah tanggung jawab si paman. Si paman, dengan terpincang-pincang, kabur ke seberang Kali Sedati, menemui Paidi, jagoan barat kali, saingan abadi Sarip, lelaki yang memendam cinta pada Saropah, anak si paman. Kepada Paidi, Ridwan berkata akan memberikan Saropah kepadanya hanya bila ia bisa membunuh Sarip.

Sore itu, Kali Sedati berwarna merah. Mayat Sarip mengambang di permukaannya. Paidi, dengan pusaka jagang dokar, Jagang Baceman, berhasil meneguhkan posisinya sebagai penguasa kawasan, sekaligus selangkah lebih dekat meraih cintanya.

Paidi tidak tahu ada cinta yang lebih kuat ketimbang cintanya kepada Saropah, cinta ibu kepada anak yang dikuatkan dengan sekepal tanah merah.

Penebusan

Luka-luka tak menghentikan si ibu dari kewajiban mencuci pakaian. Di Kali Sedati, sewaktu membilas baju, ia melihat air yang berwarna merah, dan mayat yang mengambang. Tahu bahwa mayat yang mengambang tersebut adalah mayat putranya, ibu itu meraung, menyambat nama putranya, dan mayat itu bergerak, menentang arus, seperti orang berenang, menepi ke bantaran.

Mayat itu, nyaris seperti zombi, bangkit dari alam baka, kembali menemui Paidi, dan menyelenggarakan ronde kedua duel mereka.

Jagang pusaka bernama Jagang Baceman mungkin mangkus mencabut nyawa orang hidup, namun ia sia-sia ketika berulang menikam dada orang yang telah mati, atau lebih tepatnya, dada orang yang pernah mati. Capek menikam, Paidi merelakan dadanya remuk dihantam kepalan tangan Sarip, si orang yang kembali dari mati itu.

Buronan

Hari-hari ketika Sarip leluasa menjarah harta orang kaya berakhir bersamaan dengan akhir hidup Lurah Gedangan beserta sekompi serdadu penagih pajak. Pengaruh Lurah Tambak Oso tak lagi kuasa melindunginya.

Setiap hari, orang-orang melihat sekelompok serdadu bentrok dengan Sarip. Mereka menghujani pemuda itu dengan peluru. Dan setiap kali Sarip jatuh tersungkur, suara ibunya menggema panjang, lantas membangunkannya kembali, memanggilnya dari alam orang mati.

Pertarungan-pertarungan tak adil itu berlangsung lama. Diawali dengan terpergoknya Sarip, dan berakhir dengan sejumlah serdadu yang tumbang sebelum pemuda itu melesat dan lenyap di balik gerumbul semak.

Suatu hari, Ridwan, masih tergenangi dendam akibat ulah Sarip yang memermak mukanya, memasuki gerbang tangsi serdadu kolonial.

"Saya tahu kelemahan anak itu," katanya. "Sebab saya pamannya, sekaligus saudara seperguruan bapaknya."

Kematian Terakhir

Angin pergi dari timur Kali Sedati ketika sebutir peluru menembus batok kepala si ibu. Sejumlah sumber mengatakan bahwa Ridwan tersenyum dari kejauhan ketika peristiwa itu terjadi, mengekalkan posisinya sebagai tokoh paling menyebalkan dalam rangkaian cerita ini. Sarip si buron tidak ada di sana sehingga ia tak kuasa mencegah hal itu.

Tanpa berkah kasih sayang sang ibu, tanpa suara parau ibu yang menyambat namanya, Sarip hanyalah orang biasa. Kesimpangsiuran kemudian mengiringi hari-hari terakhirnya. Beberapa orang meyakini bahwa ia tertangkap tak lama kemudian, lantas ditimbun hidup-hidup, bukan dengan tanah, melainkan bongkahan batu.

Barangkali lantaran cara kematian semacam itu terlalu sadis dan fakta tak terelakkan bahwa kubur batu itu hingga hari ini tak berbekas, sejumlah orang menyangkalnya dan bersaksi bahwa Sarip menemui ajal lewat guyuran peluru para serdadu, dalam pertarungan yang serupa dengan pertarungan-pertarungan sebelumnya, kecuali kali ini tak ada lagi suara ibu yang membawanya kembali dari alam kematian.

Dengan guyuran peluru itu, tubuh Sarip berubah menjadi saringan santan, penuh lubang. Mayat rusak tersebut kemudian dilarung di Kali Sedati, sebagai pelajaran bagi setiap penduduk di bantaran kali.

Bertahun-tahun kemudian, sosoknya dihidupkan kembali oleh orang-orang ludruk di atas panggung. Kali ini bukan melalui sambat seorang ibu, melainkan perintah dari sutradara, dan diejawantahkan lewat lidah seorang laki-laki yang menyaru perempuan. Dan dengan begitu, ia memperoleh keabadiannya.

Dadang Ari Murtono lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020).

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Status Masih Saksi, Artis Terduga Prostitusi Online Dipulangkan"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)