Pelopor Astronomical Art Asal Yogyakarta Pamer Karya ke Jepang dan Thailand

Pradito Rida Pertana - detikHot
Rabu, 02 Sep 2020 10:08 WIB
Seniman pelopor astronomical art, Venzha Christ, asal Yogyakarta
Seniman asal Yogyakarta Venzha Christ (di tengah) memamerkan karya di Jepang dan Thailand saat pandemi CoronaFoto: Istimewa
Yogyakarta -

Seniman asal Yogyakarta, Venzha Christ mengikuti dua acara internasional yakni Yokohama Triennale 2020 di Jepang dan Bangkok Art Biennale 2020 di Thailand.

Dia membuat simulasi penangkap frekuensi dari luar angkasa dan tiga konstruksi metal berbentuk globe dan disusun bersama dengan dimensi ukuran 4 meter.

Venzha mengatakan, keikutsertaannya dalam dua pameran bergengsi itu karena ISSS (Indonesia Space Science Society) bersama v.u.f.o.c Lab mendapat undangan. Dia menyebutkan keduanya adalah event berkala berskala besar yang pada masa pandemi tetap menyelenggarakan perhelatan.

Ia melanjutkan seniman dari berbagai penjuru dunia yang diundang juga harus menyiapkan karyanya dengan pertimbangan masa pandemi. Ada yang mengirimkan karyanya dan ada pula yang harus menunggu untuk menunggu kabar diberlakukannya kembali jalur penerbangan internasional.

Hal ini menjadi unik ketika Indonesia atau sebuah negara yang angka populasi terinfeksi dengan jumlah yang terus bertambah juga menerima dampaknya. Yaitu ketidakpastian tentang jalur penerbangan internasional dan pertanyaan apakah diperbolehkan untuk memasuki negara tertentu.

Seniman pelopor astronomical art, Venzha Christ, asal YogyakartaSeniman pelopor astronomical art, Venzha Christ, asal Yogyakarta Foto: Istimewa

"Untuk Yokohama Triennale 2020, dengan artistic director Raqs Media Collective ini, saya membuat simulasi penangkap frekuensi dari luar angkasa yang berupa antena dengan tinggi 3,5 meter dan berbentuk trapesium ganda, yang diberi judul "Evolution of The Unknown #07"," katanya melalui keterangan tertulis, Selasa (1/9/2020).

"Antena ini menyaring berbagai frekuensi yang ada di tempat di mana instalasi interaktif ini terpasang," imbuh Venzha.

Pendiri dan inisiator dari HONF Foundation ini menjelaskan, karyanya mengibaratkan frekuensi yang sudah sampai ke bumi akan diubah sehingga menghasilkan suara yang terdengar ke telinga manusia. Visualisasi berupa gambar grafik dari modulasi frekuensi juga bisa disaksikan oleh audiens secara langsung tanpa ada proses rekam.

"Sedangkan untuk Bangkok Art Biennale, dengan artistic director Prof. Dr. Apinan Poshyananda ini, Venzha Christ membuat tiga konstruksi metal berbentuk globe dan disusun bersama dengan dimensi ukuran 4 meter, yang diberi judul "MARS IS (NOT) A SIMULATION - a terraforming paradox after the mission"," ucapnya.

Seniman pelopor astronomical art, Venzha Christ, asal YogyakartaSeniman pelopor astronomical art, Venzha Christ, asal Yogyakarta Foto: Istimewa

Karya ini adalah hasil riset dari perjalanan panjang Venzha setelah mengikuti Simulasi hidup di MARS, bersama MDRS (Mars Desert Research Station) pada tahun 2018. Serta simulasi pesawat ruang angkasa pada SHIRASE (Simulation of Human Isolation Research for Antarctica-based Space Engineering) pada 2019.

"Karya ini bertujuan untuk membuat pemikiran kritis tentang kondisi alam di planet MARS bagi rencana ekspansi manusia bumi untuk membuat koloni manusia, serta mengajak audiens untuk membayangkan masa depan MARS melalui perkembangan teknologi terkini yang dipunyai manusia," katanya.

Venzha merupakan satu-satunya seniman yang diundang kedua event tersebut. Kedua karya yang diusung adalah hasil dari beberapa riset yang dibuat sejak tahun sebelumnya dan hasil kolaborasi beberapa astronom dan astrophysics dari beberapa negara.

Terkait dengan dua undangan pada kedua acara tersebut, Venzha Christ dan ISSS juga mendapat tantangan bagaimana membawa sebuah karya instalasi interaktif yang berukuran besar untuk bisa dipasang dan diinstal tanpa kehadirannya. Karya yang bertema DIY Radio Astronomy ini sangat komplek dan terkesan rumit.

Banyaknya komponen elektronik beserta ratusan kabel yang harus disusun satu persatu itu akan menjadi hal yang tidak mudah bagi para teknisi yang belum pernah melihat atau merakitnya. Konsep dasar karya-karya ini adalah sebagai wahana perbelajaran untuk audiens melihat dan memahami alam semesta melalui gelombang suara dan visualisasi frekuensi yang tertangkap oleh sebuah "DIY Radio Astronomy".



Simak Video "Kemdikbud Gelar Catatan Sejarah Peradaban Seni di Masa Pandemi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/tia)