detikHot

Cerita Pendek

Helden

Minggu, 02 Agu 2020 10:24 WIB Sarita Rahel Diang Kameluh - detikHot
ilustrasi cerpen Iustrasi: M Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta -

Berlin, 1976

Jemarinya nan lentik masih meniti di lengan sofa. Dengkulnya tak bisa diam bergemerutuk, bahkan ketika ia sudah menyilangkan betisnya. Dipandangnya lagi tangan kanannya yang jemarinya masih menjepit puntung rokok yang terbakar --masih menggigil, dan pucat bak bunga bakung.

"Fraulein, di mana kopiku?" ia menggerutu pada pintu apartemen yang setengah terbuka itu, berharap babu Jermannya mendengar. Tetapi hanya seruan dan bincang-bincang orang imigran Turki yang terdengar dari luar jendela yang dibuka miring ke dalam. Gorden beludru warna marun yang baru dibelikan oleh sopirnya di toko perabotan elit KaDeWe disingkapkan untuk mengundang sinar mentari.

Di luar, para imigran berambut legam yang belum lancar berbahasa Jerman itu lalu-lalang mengejar waktu. Bau daging panggang döner kebab dari tungku yang berputar mulai merebak, asap dari knalpot mobil, bau aspal yang baru mengeras, kemenyan arab, bawang bombai dan paprika segar di kios depan apartemennya, kepul asap rokok dan tengik Pilsner, serta bir masam Kindl Weisse yang beraroma jerami nan manis adalah bau lazim Schöneberg yang sesak oleh pendatang berselendang Kurdish.

Kios-kios kecil dan bar mulai dibuka. Para anak muda melambaikan tangan pada mentari di ufuk barat. Terdengar penjaga gerbang berseragam militer memperingatkan warga dengan megafon supaya tidak terlalu mendekat ke tembok.

Terdapat dua dunia yang terlalu kontras karena terpisahkan tembok beton itu. Sudah tiga dekade ia didirikan. Satu dunia yakin bahwa hidup sederhana dan komunal memancarkan jiwa Jerman sebenarnya. Yang lainnya berkiblat ke Amerika, menjual jati diri, dan mengaku bahwa negeri bedebah ini kalah perang.

Pemuda yang duduk lemas dan gelisah di sofa itu adalah tahanan westernisasi yang sedang mencari suaka di negeri di mana tiada yang mengenal. Ia juga korban dari pesona Hollywood dan top charts Inggris yang seringkali membunuh. Menghadaplah ia ke cermin, dipandangnya wajah tirus pucatnya. Tulang pipinya menonjol dengan dagu yang lonjong itu. Pupil matanya yang berbeda warna itu membesar; dahinya klimis oleh titik-titik keringat. Rambut lurus emasnya berantakan menutup kuping. Tak ada yang perlu dikhawatirkan olehnya --ia masih tampan dan cantik di mata para produser yang memberinya kontrak.

"Namaku David," ucapnya seakan dirinya sudah mati, menahan risau ke cermin itu. Dua hal yang mengintai dirinya sepanjang malam: menjadi tua dan keriput, serta kehilangan suara emasnya yang menyihir para penonton. Sudah empat bulan ini ia menderita sakit.

"Dasar bedebah kau!" Dilepasnya sandal bakiak model Gibson di kakinya. Di tumit sepatunya terdapat sebungkus kecil obat penawar nyerinya. Rasa nyeri akibat sepi, trauma, serta keinginan untuk meledakkan kepalanya. Disedotnya obat itu melalui lubang hidungnya. Dunia terasa berputar. Ia kembali merasa seperti makhluk dari planet lain yang jatuh ke bumi.

Beberapa menit kemudian, benaknya tak menyadari bahwa ia sudah menyetir Volkswagen 76 miliknya dengan sempoyongan, menyusuri daerah Kreuzberg yang kumuh dan ramai. Petang menghadang. Langit sudah hampir padam. Udara dingin musim gugur menggigit kulitnya yang mati rasa. Radio ZDF berkoar-koar tentang kerusuhan di New York setelah Ronald Reagan menyatakan perang terhadap narkotika. Ia mengecilkan volumenya, bersenandung himne di stasiun radio BBC ketika Neil Armstrong berhasil mendarat di bulan.

"Can you kill me, Major Tom? Can you kill me, Major Tom?" nyanyinya sambil mengubah lirik yang disesuaikan dengan suasana hatinya. Tak disadari bahwa ia sedang berkendara menyusuri Nürnberger Straße seperti mayat. Ia tak ingat bahwa ia masih hidup.

Di samping trotoar, ia memperhatikan seorang pria berambut cokelat tampan, berkacamata dengan bingkai hitam tebal, sedang berlari terbirit-birit. Wajahnya pucat dan dilanda ketakutan. David menepi ke trotoar itu, menghentikan mobilnya,

"Wollen sie mitfahren?" serunya keras dengan bahasa Jerman seadanya. Tak pernah ia bersuara sekeras itu, bahkan ketika di hadapan mikrofon. Pria itu menengok-nengok sekitar. Pancaran matanya was-was dan dahinya berpeluh keringat. Tepi bawah jas overcoat dan celananya bernoda tanah dan kerikil. Ia menarik koper besar. Pemuda itu langsung mengisyaratkan untuk masuk.

Pria itu langsung membuka pintu dan meloncat masuk duduk di kursi penumpang, melempar kopernya ke jok belakang. Napasnya terengah-engah.

"Danke dir," ucapnya lega. David berkendara lebih cepat karena tampaknya pria itu sedang melarikan diri dari sesuatu. "Orang Inggris, ya?" tanya pria itu dalam bahasa Inggris. Pemuda itu mengangguk halus. Ia tersenyum sambil mendengus-dengus karena hidungnya gatal.

"Jangan khawatir, aku bukanlah mata-mata." Bicaranya terpotong karena ia tiba-tiba terbatuk keras. Tenggorokannya radang sejak semalam.

"Kau seorang bintang?" tanya pria itu girang. Tampaknya ia penggemar Amerikanisme dari seberang tembok, oleh karena itu ia dikejar-kejar polisi negara. Pemuda itu terkekeh-kekeh sambil mendengus. Pria yang tadi tegang itu merasa hangat seketika. Manis sekali tawanya itu. Sayang ia tirus dan pucat.

"Kau mau ke mana, tampan? Mau kuantarkan ke Dschungel?"

"Oh, menemui istri dan anakku di daerah Postdamer Platz." Pria itu tertawa lepas pada sopirnya yang tampak mabuk itu. Ia menaruh iba padanya,

"Dunia yang kejam, ya, ketenaran? Apa kau sakit juga?"

David memilih tidak menjawab. Mereka berbincang-bincang tentang Hollywood dan album terbarunya. Rupanya pria itu mengaguminya di film di mana dia menjadi alien yang jatuh ke bumi, dan mode pakaiannya yang menentang jenis kelamin itu.

"Aku sempat dipenjara oleh Stasi karena menyetel filmmu itu, Tuan. Negeri di balik tembok sungguh menindas seni yang kucintai. Tetapi tidakkah kau takut mati jika ketahuan menyelamatkanku?"

"Aku? Sesungguhnya aku berharap sudah mati, tetapi karena masih banyak yang perlu diperjuangkan, aku masih menolak pergi. Dan aku akan menolak melihat kalangan pencinta seni terpuruk karena Stasi. Betapa disayangkan! Andai kau dilahirkan di sisi tembok yang berbeda, kau sudah menjadi seorang manusia seutuhnya".

Mobil pun menepi di suatu rumah susun di tepi Postdamer Platz, di sinilah mereka berpisah. Ia pun berkendara pulang dan memasuki apartemennya. Malam berikutnya ia mengemudi lagi secara setengah sadar, dengan rasa nyeri yang sama, tetapi lalu tak sadarkan diri.

Ketika ia membuka mata, kepalanya berkunang-kunang dan nyeri. Lampu neon berpijar di atas kepalanya. Ia mendekam duduk di ruangan dengan tembok besi dan lambang Bundesrepublik, dengan dua petugas kekar berseragam polisi mengawasinya sejak tadi. Tak ingat kapan ia pingsan, dan mengapa ia diseret ke ruang interogasi tanpa sadar.

"Tuan David Jones...sejak kau sudah siuman, kami ingin menanyakan beberapa hal. Kau tertangkap kamera pengawas mengemudi dalam keadaan teler dua malam lalu, dan berkendara menyusuri sepanjang tembok ketika petugas penjaga perbatasan bahkan sudah memperingati. Lalu mengarah ke jalan Nürnberger. Apa yang kau lakukan di sana? Apa kau membawa muatan dari Negeri Timur? Menyelamatkan orang? Tak ada bukti dari CCTV akan hal ini! Kami mengharapkan kerja samamu sekarang juga."

Petugas ini berbicara bahasa Inggris dengan logat Jerman yang kental. David mencemooh kesal, "Kau tahu aku sedang teler, jadinya aku cenderung berkendara tak tentu arah...apa yang kalian takutkan?"

"Kami takut akan mata-mata yang menyusup bersama engkau, yang memanfaatkanmu demi menyelinap Negeri Barat ini."

"Sungguh, jika pun ada orang bersamaku aku tak ingat, karena benakku sedang di atas awan."

"Dasar pembual! Kami bisa mencabut izin tinggalmu sekarang juga."

"Tampaknya kalian warga Barat juga takut akan satu hal, seperti saudaramu di seberang tembok sana." Ia berdehem, menaruh kedua betisnya di atas meja tanpa mempedulikan keberangan mereka. "Apa itu?" tanya petugas itu.

Pemuda itu menatap sang interogator dengan tajam, "Amerikanisme...kalian takut jika kami manusia yang begitu menjunjung tinggi kebebasan mengakui hak orang yang hidup di negeri yang mengekang...Apa kalian benar-benar sekutu kami? Prasangka buruk itu lebih beracun daripada pembunuhan. Tak semua manusia yang terlahir di dunia yang demikian berjati diri yang sama. Dunia ini dilanda perang karena prasangka buruk. Aku menghancurkan diriku sendiri karena prasangka buruk!"

Ia terdiam kaku tiba-tiba, memandang kosong tak berkutik ke lampu pijar di atas. Kedua petugas itu khawatir.

Beberapa saat kemudian, seorang terapis memasuki ruangan, memeriksa denyut nadi dan respons pupil pasien. Ia menuliskan laporan bahwa sang tersangka mengalami katatonia akut, yang kemungkinan juga dideritanya saat berkendara semalam. Dari laporan ini, kedua petugas itu setuju untuk memberi pembebasan tanpa syarat padanya. Dokter itu pun mengantarnya pulang dengan menaiki trem listrik, karena mobilnya masih disita.

Trem itu menelusuri Böse Brücke yang ramai dengan ribuan orang lalu-lalang dan penuh papan komersial Amerika. Coca-Cola, McDonnald telah menginvasi Berlin yang beberapa tahun silam luluh lantak oleh kebencian.

"Namaku Bruno. Aku sengaja menyuntikmu dengan sedatif sebelum mereka masuk menginterogasimu," akunya setengah berbisik pada David yang bersandar lesu di pundaknya.

"Terima kasih sudah menyelamatkanku."

David tertegun, rupanya dokter itu adalah pria yang menumpang mobilnya dua malam lalu. Pelarian dari negeri seberang tembok yang ingin menemui istri dan anaknya.

"Kau tak perlu repot-repot. Aku hanyalah bintang yang meredup...besok-besok aku tak akan bersinar lagi," candanya dengan lemas. Tetapi Bruno tersenyum.

"Tidak, Tuan. Kau bisa menjadi pahlawan, walaupun hanya sehari."

Ia menuntun pemuda itu turun dari trem, lalu berjalan mengantar masuk ke apartemennya di Hauptstraße.

Keterangan:

Helden: pahlawan

Fraulein: Panggilan informal untuk "nona muda". Di masa kini, panggilan ini dianggap kasar dan merendahkan.

Wollen Sie mitfahren?: Apakah kau ingin menumpang?

Danke dir: Terima kasih

Dschungel: Diskotek ternama di Berlin yang menyediakan bar untuk orang-orang gay dan transgender

Stasi: Badan keamanan negara resmi Jerman Timur. Badan intelijen dan polisi rahasia negara yang mema-matai dan mengawasi gerak-gerik penduduk

Lambang Bundesrepublik: Lambang pemerintahan Jerman Barat

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Niat Diet, Cita Citata Malah Kena Infeksi Lambung"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com