detikHot

Cerita Pendek

Ranah Danau Rana

Sabtu, 13 Jun 2020 10:18 WIB Raudal Tanjung Banua - detikHot
ilustrasi cerpen Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom
Jakarta -

Lepas senja, mobil hulux yang kami tumpangi berhasil masuk kampung Waegrahe di tepi Danau Rana, pedalaman Pulau Buru. Perjalanan menembus hutan dimulai sejak petang karena mengejar waktu harus tiba tengah malam pun! Kabar kunjungan Duta Komunitas Adat (KAT) datang terlambat dan persiapan menyambutnya teramat singkat.

Semua bergegas. Pak Masbait, Kasi di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Buru beserta seorang stafnya, buru-buru melompat ke bak belakang. Mereka bergabung dengan tiga atau empat orang lain beserta tas dan barang-barang. Saya disuruh masuk ke kabin tertutup, berdempetan dengan empat orang pula. Saya merasa mendapat kehormatan.

Ada untungnya kabar terlambat dari ibu kota. Kami-saya, Pak Masbait dan seorang staf-jadi berada di waktu dan tempat yang tepat. Memang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tak punya kaitan dengan kunjungan Duta Komunitas Adat --yang ditaja Dinas Sosial-- tapi sesama "orang dinas" yang bertemu di lapangan, semua akrab, tahu sama tahu.

Kami datang dari Namlea naik oto Avanza sewaan yang disopiri pemiliknya, Iqbal Alkatiri. Kami akan ke Danau Rana. Sebenarnya lebih tepat kunjungan saya sendiri, seseorang yang sedang residensi 3-T di Buru. Tapi Pak Masbait enggan melepas saya sendirian. Ia seorang Kasi yang ditugaskan Pak Kadis dan Pak Kabag untuk menemani saya.

"Ada apa-apa hubungi dia, sudah!" kata Pak Kadis waktu pertama saya bertamu.

Saya telah menjelajah tempat-tempat bersejarah di seputar Namlea bersamanya. Mulai gedung bekas kantor residen Belanda, markas perjuangan Buru yang dikunjungi Soekarno, sampai bunker Jepang dan dermaga tentara Australia peninggalan perang dunia kedua. Untuk wilayah luar Namlea, seperti Benteng Kayeli, hutan kayu putih Batuboi sampai Waeapo di mana dulu para tapol dibantarkan, saya datang sendiri. Bahkan sampai ke Namrole di Buru Selatan.

Nah, untuk ke Danau Rana saya juga ingin sendiri. Saya mendatangi Pak Masbait untuk minta beberapa data. Tapi saat itulah ia tak izinkan saya jalan sendiri. Tempatnya jauh di pedalaman dan medannya berat, katanya. Saya bilang tak masalah. Akhirnya Pak Masbait yang baik, balik mengatakan bahwa Danau Rana bukan danau sembarangan. Ia khawatir ada apa-apa menimpa saya.

Begitulah, ia menemani saya dengan mengajak serta seorang stafnya, meski ongkos perjalanan semua tanggungan saya, apa boleh buat. Di perjalanan terungkap bahwa ia ngotot mengantar saya karena sebagai orang Buru asli asal Ilat, ia belum sekalipun sampai ke danau yang disebut titik tengah Pulau Buru itu. Toh tak mengurangi rasa hormat saya, bahkan keikutsertaannya bersama staf membuat saya terharu.

Pak Masbait menyarankan menyewa oto langganan kantornya. Pemiliknya, Iqbal Alkatiri tinggal di Namlea, tapi ia asli Air Buaya, 15 km selepas simpang jalan ke Danau Rana di Wamlana. Dulu Wamlana masuk Kecamatan Air Buaya, sebelum dimekarkan jadi Kecamatan Fenaleisela. Setelah menurunkan kami di Wamlana, Iqbal lanjut ke rumah orangtuanya, dan jika kami sudah turun gunung, ia akan jemput kami. Sewa mobil disepakati dua hari.

***

Masih terbayang, lepas siang di Wamlana, tak ada lagi angkutan ke Danau Rana. Kami makan di warung sambil berpikir akan cari penginapan di Air Buaya (ini kota kecamatan lumayan ramai di barat pulau), dan paginya barulah melanjutkan perjalanan.

Saya menyuap nasi terakhir, saat ibu warung berkata, "Itu ada oto, mereka mau naik!" Pak Masbait langsung keluar, bertepuk tangan memanggil dan orang di bak belakang memukul dinding memberitahu sopir. Mobil berhenti agak jauh di halaman sebuah toko.

Saya bayar tiga porsi makanan-untung saya sudah disuap terakhir, sang staf selesai dan Pak Masbait tak menyelesaikan makannya-lalu kami berlari mengejar. Seorang lelaki muda turun dari bak, sudi hati memberitahu kami sesuatu melalui gerak tangannya. Pak Masbiat mengartikannya tak usah lari. Ia menahan saya, lumayan mengurangi tekanan perut sehabis makan. Sebagai gantinya kami melangkah panjang, bagaimanapun takut ditinggal. Ternyata memang, rombongan hanya meluangkan sedikit waktu membeli keperluan di toko yang cukup lengkap itu: batrei, kopi, gula dan rokok.

Lega, kami berangkat. Ban besar oto dan kembang bannya yang bergerigi lumayan nancap di bekas jalan logging yang mengular di lereng gunung. Jurang menganga kiri-kanan. Sungai-sungai tanpa jembatan. Atau jembatan darurat yang harus ditempuh dengan keahlian sopir pegunungan. Saya pikir, perusahaan kayu itu ibarat kolonial. Mereka menebang pohon, menguras isi hutan, tapi meninggalkan jalan logging yang bisa digunakan. Hutan sepanjang jalan juga masih utuh. Mungkin dulu mereka menebang jauh ke dalam. Sebagai taktik menyisakan bagian luar, padahal di dalam sudah bolong-bolong, gerowang. Taktik ini konon lazim di hutan mana pun dan baru ketahuan setelah izin berakhir.

Hutan lebat dengan sarang lebah sebesar perut kerbau hamil tergantung di dahan-dahan pohon sawulaku dan meranti. Uniknya, puncak Gunung Dati selalu terlihat sejauh mana pun kami berjalan. Tanda gunung itu memang besar.

Perjalanan cukup mencekam. Untunglah bersama saya duduk seorang lelaki tua yang selalu bercerita, Pak Jait. Ia punya anak di Sleman karena dulu si anak kuliah di UGM. Menurutnya, jalan ini dipakai juga oleh para penambang emas. Sebelum ada oto, warga di sekitar Danau Rana harus jalan kaki berhari-hari kalau ingin ke pantai. Karena itu, Buru punya dua raja, raja pantai dan raja gunung.

Kini mereka bisa naik oto hulux yang dijadikan kendaraan penumpang.

"Apakah kedudukan raja berubah, Bapak?" saya bertanya seasalnya.

"O, tentu tidak. Raja tetap raja sampai kapan pun dunia ada!"

Laki-laki di samping sopir terbahak dengan tubuh terguncang. Sopir tetap awas dengan ketekunan seorang pencari kutu.

Di tengah jalan, hujan turun. Tas berisi pakaian, spanduk dan banner dioper ke kabin. Barang-barang tahan air dibiarkan tetap di belakang. Termasuk para penumpang. Jas hujan dalam tas yang saya pangku, saya serahkan kepada Pak Masbait tapi tak mempan melindunginya dari deras hujan. Saya lihat dari kaca laki-laki bertubuh pendek gempal itu mengkuret dengan dagu menempel ke dinding --inilah momen keterharuan saya.

***

Bunyi suara tifa berketipung-tipung sejak pagi buta. Saya keluar dari rumah Bapak Kepala Soa tempat menginap. Lantai ruang tamu rumah itu dialasi banner lebar bergambar calon gubernur Maluku tahun lalu beserta ketua partai yang mengusungnya. Saya agak sungkan menginjaknya. Tapi Pak Soa yang datang dari belakang langsung menginjak persis di hidung calon gubernur. Saya tersenyum sebagai bentuk menyapa Pak Soa. Ia mendengus berlalu ke luar, menengok sesuatu ke ujung jalan, lalu masuk kembali sambil bergumam tak jelas.

Saya keluar-bagaimanapun terpaksa menginjak foto orang terhormat di lantai. Lampu tenaga surya sudah dimatikan dan matahari muncul dari balik Gunung Dati. Cahaya berkilau menyepuh pohon sawulaku yang berwarna putih cerlang di atas perbukitan.

Rumah di Waegrahe berderet seperti perumahan di kota. Bahannya papan setengah permanen. Sekilas persis studio. Jarak rumah diatur sedemikian rupa, dicat seragam, termasuk sekolah, dan baleo dari mana suara tifa berasal. Beginilah suasananya sekarang, rumah-rumah rapi dan teratur, tapi terasa kurang berjiwa. Lagi pula, suara tifa terdengar lebih sebagai perintah. Tak bisa ditunda. Berulang-ulang, mendera. Ini beda dengan yang saya temukan di Kubalahin, Waeapo. Bunyi tifa dari baleo terdengar nikmat dan tak memburu. Semoga perasaan saya salah.

Tapi benar saja. Tak berapa lama, seorang lelaki sebaya Pak Masbait berjalan keliling kampung sambil berteriak-teriak. Matanya merah. Tangannya menunjuk-nunjuk, dan seandainya ia pegang benda panjang niscaya tampak sedang mengacung parang. Ia seperti membangunkan orang-orang. Ketika Pak Masbait ikut keluar mendengar keributan itu, saya tanya apa arti semua ini. Ia marah sebab bunyi tifa tak segera direspons warga padahal waktu persiapan menyambut Duta Adat dari Jakarta makin mepet, jelas Pak Masbait.

Pak Soa ikut keluar. Ia yang mengunyah sirih terkekeh melihat laki-laki itu marah-marah sepanjang jalan yang mulai gerimis. Tampaknya ia sudah terbiasa menghadapi situasi itu. Konon semenjak kampung mereka ditata Dinas Sosial, sering sekali ada acara dan orang kampung diperintahkan menyambut dan membuat acara ini-itu, mulai kunjungan kerja, pendataan, kunjungan KAT sampai kampanye pemilu.

Pak Soa meminta kami masuk. Kami duduk di bangku yang mengitari meja panjang. Di atasnya sudah terhidang kopi dan makanan ringan.

Kami bercerita sambil ngopi.

"Jadi kau mau ke tepian danau he?" tanya Pak Soa padaku.

"Iya, Bapak," jawab saya sehormat mungkin. "Danau Rana yang keramat. Saya diberi tahu danau inilah titik tengah pulau. Juga sumber mata air lembah Waeapo sehingga orang-orang tapol bisa membuka sawah dan orang-orang trans merawatnya."

"Tak ada yang antar," kata Pak Soa tanpa rasa bersalah. Saya kaget dan merasa sia-sia telah bercerita dan memberi alasan. "Kau lihat sendiri kepala keamanan marah-marah karena mau ada acara kan? Jadi kami semua musti ke baleo."

"Tapi, Bapak, kami sudah di sini, dan sebentar saja," mohon Pak Masbait dalam kesantunan orang asli Bumi Bupolo.

Diam sebentar. Pak Kepala Soa menyemburkan air sirihnya.

"Leeenaaa!!" ia berteriak memanggil istrinya yang sibuk memasak.

Perempuan itu muncul dari dapur. "Panggil Kepala Tere!"

Perempuan itu bergegas.

"Kalian akan diantar Pak Puji. Ia Kepala Tere, juru kunci danau."

Pak Puji yang menyandang gelar Kepala Tere datang dari pintu depan. Pak Kepala Soa langsung menyambutnya dengan berkata, "Mereka mau ke danau."

Kemudian Kepala Soa beralih menatap saya, "Harus jelas berapa kau beri sumbangan karena musti ada upacara kecil dibuat Kepala Tere."

Saya keluarkan lembar uang yang sudah disiapkan, "Ini, Bapak, termasuk biaya makan dan menginap," kata saya tangkas.

Tanpa sungkan Pak Kepala Soa mengambil uang itu, disimpannya dalam wadah sirihnya yang terbuat dari rotan. Ia menoleh kepada Pak Tere, "Antar mereka!"

Wajah Pak Tere ragu-ragu. Ia seperti akan mengatakan sesuatu tapi urung. Sebagai gantinya ia mengangguk tanda setuju.

"Leeenaaa!!" Pak Soa memanggil kembali.

Perempuan itu muncul lagi.

"Sudah selesai? Hidangkan mie rebus saja sudah. Kepala Tere tak bisa lama-lama. Sebentar ia harus pimpin doa di baleo."

Perempuan itu bergegas. Sudah ada masakan yang selesai ternyata. Semua dihidangkan di atas meja. Kami dipersilahkan makan. Pak Tere tidak ikut makan. Ia merokok sambil menunggu di depan. Wajahnya saya lihat masih gelisah. Sesekali ia lihat langit yang mendung bergerimis. Apakah langit telah menyusahkan hatinya?

***

Pak Tere bertongkat dan kepala terbebat kain, mendahului kami menembus hutan lewat jalan setapak yang becek. Gerimis memuntal dingin. Ternyata tepian danau terletak tak kurang 5 km dari pusat kampung. Dulu, kata Pak Tere, kampung mereka persis di bibir danau, sehingga apa-apa lebih mudah. Cari ikan, mandi, atau pergi ke kampung-kampung seberang: Waereman, Kaptuan dan Aerdepa.

Atau jika mau menempuh jalan setapak tanpa menyeberang, akan bertemu kampung Waru Jawa, Wamanbuli dan Waemiten. Semua kampung masih berdiri seperti sediakala. Hanya kampung mereka sendiri digeser "orang pemerintah" ke tempat sekarang, menjauh dari tepian. Katanya akan ada penataan wisata danau dalam proyek "Rana Menyapa Dunia".

Akibatnya mereka terpisah dari danau, dan yang merepotkan hampir tiap waktu orang Namlea, Ambon bahkan Jakarta datang dengan terlebih dulu mengeluarkan perintah. Minta bikin acara penyambutan. Mengumpulkan orang-orang dari kampung seberang. Menari. Baca ikrar. Atau menunjukkan tata cara kepercayaan mereka sebagai penganut Pamali. Tentu ada koordinator dan sedikit dana, tapi selalu jadi bahan pertengkaran dan membuat orang enggan datang ke baleo. Dulu, begitu mendengar tifa dipukul, tak jenak, orang sudah melangkah, yang laki-laki berkain sarung dan perempuan-perempuan meludah sirih sepanjang jalan tanah.

"Sekarang sapa dang mau perentah-perentah," napas Pak Tere tetap teratur. Padahal kami yang hanya mendengar, sejak tadi dibuat mati langkah dan ngos-ngosan.

Beberapa kali kami berselisih jalan dengan orang membawa hasil ladang. Sesekali perempuan dan anak sekolah yang bergegas.

"Mereka dari kampung seberang. Sekolah hanya ada di Waegrahe."

Tiba-tiba Pak Tere menghentikan langkahnya. Ia menatap saya lekat-lekat.

"Jadi semua uang diserahkan kepada Pak Soa, he? Kita perlu upacara supaya tak diganggu dewa danau."

Sigap saya keluarkan dompet. Ini di luar anggaran. "Tidak semua, Bapak. Khusus untuk Kepala Tere saya berikan setelah sampai di danau. Tapi sebaiknya saya serahkan sekarang."

Ia tersenyum ganjil. Saya serahkan uang dan ia masukkan ke dalam tas rotan yang disandangnya. Sekalian ia keluarkan segenggam koin dan sejumput beras dalam plastik, "Kita akan sembahkan ini ke danau, baru kalian orang boleh minta restu."

Ia lanjutkan perjalanan. Danau Rana tampak sekarang. Tenang disaput kabut dan gerimis. Tepiannya berupa daratan rawa penuh bakung. Pak Tere membawa kami masuk melalui muara sungai kecil tempat perahu-perahu kayu ditambatkan.

Di dalam air selutut, Pak Tere mulai berdoa sebagaimana orang Pamali. Doanya dalam bahasa Alfuru yang tidak saya mengerti. Semua kami menekur. Setelah itu ia lempar koin dan beras ke tengah danau. Lalu ia bolehkan kami melakukan yang dimau.

Pertama-tama saya cuci wajah dengan air danau. Sejuk sekali. Pohon-pohon di seberang tampak anggun, dan satu dua perahu mengapung, meluncur dari seberang.

"Anak sekolah dari Aerdapa. Pagi berkayuh, pulang kembali dengan perahu," kata Pak Masbait, nyaris serupa desis. Uap dingin keluar dari mulutnya.

Saya merasakan cukup berat bagi anak sekolah itu bolak-balik dari seberang danau ke Waegrahe, tempat dua sekolah didirikan. Satu SD dan satu SMP. Untuk SMA, silakan turun ke pantai. Harus diakui, kampung Waegrahe paling maju. Dalam arti, punya sekolah, baleo, rumah-rumah semi permanen yang teratur, dan tenaga surya malam hari. Tapi jika melihat bagaimana amarah kepala keamanan sepagi hari tadi, hasrat meminta Kepala Soa serta Kepala Tere yang meminta jatahnya pula, saya merasa ada sesuatu yang hilang, entah apa.

"Kalau Bapak merasa ini semua penting diceritakan dan ditulis, silakan saja," kata Pak Masbait ketika kami telah kembali ke kampung, melewati kandang babi dan beberapa laki-perempuan yang mulai menghilir ke baleo. Entah kenapa pula, ucapan Pak Masbait yang tiba-tiba itu untuk pertama kali saya rasakan agak pahit.

"Kita butuh promosi baik buat Danau Rana," sang staf menimpali, itu kalimat paling lengkap dan tegas yang saya dengar sejak ia ada bersama kami.

Saya tak menjawab. Sengaja saya lewat di muka rumah Pak Kepala Soa, berjalan terus ke baleo. Orang-orang sudah ramai berkumpul mengambil pekerjaan. Menghias tempat acara dengan janur kelapa dan bunga hutan. Sebagian memasang spanduk selamat datang yang dikeluarkan dari oto hulux yang saya tumpangi kemarin.

Sebuah banner lebar juga dibongkar dari oto. Sekelompok pemuda memasangnya seperti mendirikan baliho. Dalam sekejap terpampanglah foto artis ibu kota yang disebut Duta Komunitas Adat. Tersenyum dengan latar hutan, jalan setapak, dan rumah-rumah seragam.

Saya ingin bergabung, tapi urung. Mata saya tiba-tiba melihat seorang gadis semampai berjalan menuju gedung sekolah. Saya berbelok mengikutinya, menyejajarkan langkah dan mulai mengeluarkan jurus wawancara.

Ia guru muda bernama Maira. Gadis Bugis dari kampung Kaki Air, Namlea. Lulusan sebuah universitas keguruan di Makassar. Sudah hampir dua tahun ia bertugas di SMP Waegrahe. Matanya kurasakan hangat, rindu bercakap-cakap.

Tapi, dari baleo, saya lihat ketua keamanan itu menunjuk-nunjuk kepada saya.

Namlea-Yogya, 2018/2020

Catatan:
- Kepala Soa: kepala kampung
- Kepala Tere: kepala/juru kunci danau
- Baleo: balai pertemuan
- Pamali: kepercayaan asli orang Alfuru (Buru)
- Bumi Bupolo: sebutan lain untuk Pulau Buru

Raudal Tanjung Banua lahir di Lansano, 19 Januari 1975. Buku cerpennya Parang Tak Berulu (2005) dan Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai (2018). Ia mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia di Yogyakarta

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Vernita Syabilla Buka Suara Perihal Tarif Kencan Rp 30 Juta"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com