detikHot

Cerita Pendek

Tando

Minggu, 22 Mar 2020 11:08 WIB Muhammad Nanda Fauzan - detikHot
ilustrasi cerpen Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Gerombolan lalat terbang rendah mengitari betis kirinya yang semula dibungkus bulu halus kini menjadi aus oleh segores borok. Ia berusaha mengusir dengan beberapa kali guncangan tubuh, tetapi sekompi lalat itu sangat keras kepala dan terus memburu --mereka tak sudi kehilangan mangsa. Enggan mati sebagai pecundang, ia mengirap sayap untuk lepas landas, lalu ambruk sebelum mendarat tepat di tujuan.

Kau tahu ada sembilan lubang kecil seukuran peluru di bentangan sayapnya. Kau tahu, cepat atau lambat, sekompi lalat akan kembali menyerang hewan malang itu. Kau tahu ia begitu mudah diringkus. Kau tahu, di sore yang indah ini, kau tidak akan pulang dengan tangan hampa. Sebelum ujung kakimu menapak beranda rumah, kau mengetahui cukup banyak hal, kecuali nasib buruk yang sedang kau undang untuk bertandang dalam garis hidupmu.

Tepat di muka pintu, tulah telah membuka tabir lebih dini --membenamkan serentetan ancaman yang kelak menyingkap sahap nasibmu--- ewat amuk Ibu. Amuk yang mula-mula kau duga tak jelas musababnya.

"Untuk apa kau membawa pulang hewan ini. Kau ingin menyusul nasib ayahmu, heh?"

***

Dua bongkah batu dibariskan sejajar, jarak antar keduanya sekitar setengah lengan pria dewasa, terlalu sederhana untuk disebut tungku. Di antara ruang kosong itu tergeletak beberapa arang kayu yang membumbungkan kepul asap menuju udara. Enam gelas beras telah rampung ditanak, delapan tusuk daging sudah kempu hawu telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.

"Apa kubilang, daging tando itu legit bukan kepalang," cerocos Badri. "Bahkan, jika diberi tawaran, aku akan merelakan tiga kuali sup ayam kampung atau sepanci paha kintamani untuk ditukar dengan setengah potong daging tando," ia melanjutkan ucapannya. Di sela kumis yang luput dicukur, satu butir nasi bersarang tanpa ia sadari.

Sulaiman Jango menatap lekat wajah Badri, untuk kemudian menghamburkan tawa. "Dan jangan pernah lupa, tidak semua orang mahir meloloskan hewan ini dari kulitnya. Bahkan tukang jagal paling berpengalaman sekalipun."

Bukan semata bualan, ketangkasan Badri menguliti tando memang benar adanya. Sulaiman Jango tak punya nyali untuk sekadar membantah. Menguliti tando tak ubahnya pertaruhan; ia memiliki perawakan mungil, dan bobot si mungil ini akan semakin menyusut jika hamparan bulu telah terpisah dari tubuhnya. Sedikit saja kekeliruan, ia akan berubah menjadi seonggok daging yang tak membangkitkan selera makan.

Satu pisau kecil yang masih basah --baru diangkat dari batu asah-- Badri gunakan untuk menghunjam tengkuk hingga burit, lalu berkelok menuju pergelangan kaki. Tak terlalu dalam, hanya goresan kecil yang sebentar kemudian menyemburkan darah segar. Di masing-masing pergelangan kaki Badri membuat sayatan melingkar yang sempurna. Setelahnya, seperti gerak tangan seorang bocah mengupas pisang, Badri merobek kulit mengikuti pola yang telah ia rangkai, lalu tando berhasil tersingkap dari bungkusnya.

Setelah urusan menguliti usai, mereka membagi kerja. Sulaiman Jango beranjak menuju tengah hutan untuk mencari kayu bakar dan merancang hawu sementara Badri menimba air di sumur kecil seberang empang. Badri hendak menyamak kulit --tidak ada salahnya mengabadikan bagian terbaik dari hewan ini, pikirnya. Kelak, ia berkeinginan membentangkan kulit tando di ruang tamu, persis di samping kiri foto pernikahannya, lalu membubuhkan sebaris kalimat dengan aksara Arab, tentu saja sebagai penolak bala.

Abah Fuad, tetua kampung, menggantung tiga kepala harimau di ruang tengah rumahnya, dan pada setiap tamu yang mengajukan pertanyaan mengapa ia bisa beroleh umur panjang, Abah Fuad selalu mengacungkan jari telunjuk pada tiga pasang mata hewan buas yang malang itu. Semua orang percaya --atau, lebih tepatnya, selalu meyakini setiap ucapan Abah Fuad. Sampai kemudian tubuh Abah Fuad berkalang tanah, tiga bulan setelah desas-desus pendirian Cagar Alam menyeruak di teras-teras rumah warga, semua orang tetap kukuh pada pendirian dan berlomba-lomba meniru Abah Fuad; membuat azimatnya sendiri.

Sebab kepala harimau sukar didapat, mereka memutar akal dan menggantinya dengan bagian tubuh hewan tertentu, mulai dari ekor pari --yang konon menyimpan racun di tiap ujung geriginya-- hingga tanduk rusa. Badri sendiri memiliki azimat berupa benang hitam yang telah melilit di pinggang semenjak ia bayi. Tetapi kali ini lain. Ia tidak berkeinginan sekadar menjaga dirinya dari demit dan mambang, dari bala dan kutuk. Badri ingin menjaga rumahnya. Lebih jauh lagi, Badri berharap jabang bayi yang tengah dikandung istrinya terhindar dari malapetaka.

Kini Badri beranjak dari sumur menuju pematang tambak. Lumpur-lumpur memperlambat gerak kakinya. Sementara Sulaiman Jango memanggil namanya berkali-kali, membawa warta bahwa makanan sudah siap dikudap. Badri mempercepat langkah. Tiba di muka saung, ia hamparkan kulit tando di lantai beralas tikar pandan, mengusap-usap dengan cermat agar tak ada kerut dan gelombang di permukaan kulit yang tipis itu.

Sebentar kemudian Badri telah duduk bersila bersama kawannya, menyendok bakul nasi dengan sangat gesit, mengapit irisan daging di antara ibu jari dan telunjuknya, dan pada suapan ketiga ia mulai berseloroh, "Apa kubilang, daging tando itu legit bukan kepalang."

***

Setelah kain yang membebat matanya dibuka, penglihatan Sulaiman Jango langsung tertuju pada lukisan badak bercula satu yang menggantung di tembok. Sekian detik kemudian, dari arah belakang, kasar jemari terasa menggenggam rambutnya. Dengan mata yang belum sepenuhnya awas ia mendongakkan kepala dan menyemburkan ludah, jelas tak kena sasaran. Ia tak kuasa mengelak. Cairan itu berpusing di udara, dan tak butuh waktu lama untuk mendarat tepat di mata kirinya.

Seperti petani memperlakukan batang singkong siap panen, rambut Sulaiman Jango bernasib demikian: digenggam dan di cerabut begitu erat. Tawa mengejek segera menyerangsang di daun telinganya, berbarengan bersama satu tinju yang merontokkan dua gigi depan.

Tak pelak lagi, saat ini Sulaiman Jango tengah berhadapan dengan seorang berseragam hijau muda. Seragam kerja gerombolan orang asing yang mahir mengacaukan segalanya. Ia tak ingat semenjak kapan orang-orang asing ini tiba di desanya. Yang jelas, saat ia kecil dulu, tiba-tiba banyak berdiri pos jaga di sekitar hutan, lalu tiga bulan kemudian Abah Fuad wafat secara misterius dan keluarganya pindah ke desa jauh.

Seperti laron di musim penghujan, pos-pos jaga selalu bermunculan setiap melihat remang cahaya. Mereka berpatroli setiap malam, mengamankan hewan nun jauh di hutan dari sergapan pemburu, dan menyatroni pembalak liar. Sulaiman Jango dan seluruh warga Desa akan turut gembira seandainya para bajingan ini tak ikut campur pada urusan mereka. Tetapi orang-orang asing ini lancung tak ada banding.

Bukan sekali-dua mereka menyarangkan peluru di betis atau dada seseorang dengan tuduhan membalak, atau mendaku tanah orang lain dengan alasan tanpa surat kepemilikan yang sah. Dini hari tadi, Sulaiman Jango dan Badri menjadi sasaran berikutnya. Mereka digelandang dengan mata dan mulut yang dibebat. Peluru muntah dari sarangnya disusul pekik kesakitan Badri di udara.

Saat itu Badri melawan dan mampus oleh dua luka tembakan. Masing-masing di dada kiri dan kening. Mayatnya dibiarkan teronggok di beranda saung.

Kini, Sulaiman Jango terduduk di pos jaga, dengan tambang yang menjerat tubuhnya. Ini bukan mimpi, denyut di gusi yang mengucurkan darah benar-benar nyata. Sikap biadab si seragam hijau muda berkepala plontos itu benar-benar nyata.

"Tinju itu hadiah kecil saja, balasan setimpal untuk ludah yang kau tembakkan. Haha...."

Biadab, Sulaiman Jango membatin. Jika si kepala plontos sialan ini tak memulai dengan merontokkan beberapa helai rambutnya, Sulaiman Jango jelas tak akan berbuat lancang. Sulaiman Jango ingin memaki, tetapi urung. Ia tahu, bibirnya yang sekarang remuk-redam hanya akan mengeluarkan suara parau. Dan jika itu terjadi, bajingan tengik di hadapannya akan semakin gembira, lalu tertawa sekencang mungkin, membuat martabatnya lenyap. Setidaknya, Sulaiman Jango tahu menjaga harga diri.

"Aku punya tawaran, Kawan. Kita main bersih saja, main aman. Kau pulang ke rumah, cium kening anakmu, lalu minta istrimu untuk menghidangkan segelas kopi. Kemas barang-barang dan segera enyah dari desa ini. Tetapi sebelum itu, kau bawa selembar surat tanah, dan kita atur pertemuan. Kami akan membelinya dengan harga setimpal."

Sulaiman Jango masih diam, ia tetap berusaha menjaga harga diri dengan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia tak bisa melawan, dan berpangku pada keheningan adalah satu-satunya cara mempertahankan diri yang bisa ia lakukan saat ini.

"Jika kau menolak, kami akan menuntutmu ke penjara. Bagaimanapun, memangsa satwa yang hidup di Cagar Alam ini adalah kurung penjara hukumannya." Ia bersungut-sungut sambil menunjuk kulit tando yang dihamparkan di meja. "Dan selama kau berbaring di lantai dingin di balik jeruji besi, aku pastikan, keluargamu akan selalu dibuntuti bahaya."

Si kepala plontos itu menyelipkan sebatang rokok di sela bibirnya, membakar dengan korek kayu, lalu asap menguar di udara. Sulaiman Jango masih diam. Saat ujung bara rokok menyentuh pelipis Sulaiman Jango, barulah benteng pertahanannya runtuh. Kalimat pertama yang keluar dari mulut Sulaiman Jango adalah persetujuan.

Sulaiman Jango pulang tergesa. Ia menuruti semua perintah yang diajukan. Tetapi, sebelum bertemu dengan bajingan itu, di tempat yang telah mereka sepakati, Sulaiman Jango terlebih dahulu berbelok ke rumah Badri, bertemu istri kawannya yang bernasib buruk itu.

Di hadapan perempuan yang tengah hamil tua, Sulaiman Jango menceritakan apa yang terjadi, dengan suara parau, dengan tangis yang tak tertahankan. Ia selipkan beberapa lembar uang, "Untuk mengurus jasad Badri," ucapnya.

Setelah peristiwa hari itu, Sulaiman Jango tak pernah kembali ke desa. Semua warga tahu apa yang terjadi, tetapi mereka hanya berbisik-bisik di teras rumah, atau di tempat-tempat yang mereka rasa aman. Persis seperti tiga bulan sebelum kematian Abah Fuad, saat pos jaga pertama berdiri, saat rencana pembangunan Cagar Alam mula-mula mulai menyeruak.

***

Kau masih ingat bagaimana delik mata tetangga tertuju padamu, lebih tepatnya pada hewan yang tengah kau jinjing. Kau masih ingat bagaimana amuk ibumu, dan makian pertama yang ia lontarkan. Kau masih ingat bagaimana air matanya jatuh. Kau masih ingat bagaimana tiba-tiba, untuk pertama kalinya, kau merindukan sosok ayah.

Segalanya masih tersimpan baik di kepalamu. Segalanya.

Saat ini, di tengah-tengah ingatan itu, lukisan badak bercula satu tergantung elok di tembok, tepat satu pelemparan batu dari kursi yang kau duduki. Kau memicingkan mata, dari arah belakang, terasa jemari merenggut kepalamu dengan sangat kencang. Lalu ada bisik lembut di telingamu, lembut sekali, "Aku punya tawaran, Kawan. Kita main bersih saja, main aman."

Pandeglang, 2018

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com