Studio PFN Jadi 'Surga Kelam' di 'the Last IDEAL PARADISE'

Tia Agnes - detikHot
Sabtu, 29 Feb 2020 18:44 WIB
the Last IDEAL Paradise
Foto: Goethe-Institut Indonesien

Studio PFN Jadi 'Surga Kelam' di 'the Last IDEAL PARADISE'Foto: Goethe-Institut Indonesien

'the Last IDEAL PARADISE' merupakan karya seni visual dan performa lintas disiplin. Di dalam pementasan, ada karya instalasi, koreografi, dan performans.

Berdurasi 2,5 jam penonton juga diajak menyelami berbagai permasalahan. Misalnya saja teritori yang selama ini jadi masalah krusial, satu per satu pemain memasang kawasan masing-masing dengan terpal.

Berada di tengah penonton, teritori itu dibuat. Tak lama berselang, pemisah kawasan dibuka. Pemain berganti menceritakan ruang personal tentang kenangan kelam tahun 1965 sampai adanya propaganda yang diteriakkan pemain lewat toa.

"Saya sengaja mengemukakan isu-isu global dalam pementasan ini. Sampai kapan soal teritori ini bahas, atau masa kelam yang terjadi di tahun 1965? Hal itu akan terus dibicarakan menjadi sebuah sejarah bangsa yang kelam," tutur Claudia Bosse.

Studio PFN Jadi 'Surga Kelam' di 'the Last IDEAL PARADISE'Foto: Goethe-Institut Indonesien

Adaptasi yang sebelumnya pernah digelar di Kairo dan Athena diriset kembali oleh Claudia sepanjang dua tahun belakangan. Bekerja sama dengan seniman-seniman lokal dari 5 kota, karyanya didukung oleh Goethe-Institut Indonesien.


(tia/aay)