Cerita Pendek

Dinah Washington dan Matahari Terbenam di Jalan Raya Pos

Sulung Pamanggih - detikHot
Sabtu, 29 Feb 2020 11:25 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Jo membawa mobilnya melaju di Jalan Raya Pos Daendels bersama lagu-lagu Dinah Washington yang terus mengalun ketika matahari perlahan-lahan terbenam di balik cakrawala. Langit di ujung matanya berwarna merah, sebagian yang lain masih tertutup awan. Jo sudah cukup sering melihat senja, tapi baru kali ini ia memandanginya sehabis membunuh seorang perempuan.

Ia meninggalkan mayatnya di kamar hotel di sebuah kota kecil di pesisir pantai utara. Namun begitu perjalanan sudah demikian jauh, hatinya justru mulai diserang gelisah. Sekarang petugas hotel barangkali sedang mengetuk pintu kamar no 19 untuk mengingatkan waktu check out. Mereka akan mengetuk-ngetuk pintu dengan suara keras, tapi sampai gravitasi bumi naik tiga kali lipat pun, tidak ada yang bakal menyahutnya.

Mereka mungkin akan menemui manajernya dan berdiskusi apakah akan membuka dengan kunci cadangan, mendobrak, atau menunggu sampai setengah jam lagi. Lalu begitu keputusan diambil, mereka masih memerlukan beberapa menit lagi sampai menemukan mayat perempuan yang telah Jo masukkan ke dalam bufet di bawah televisi. Ia menutupi kepalanya dengan handuk yang sudah lembab sperma.

Jo yakin tidak ada yang mengenalinya di kota kecil itu, keduanya juga memesan hotel menggunakan identitas perempuan itu. Hanya sidik jarinya yang mungkin saja tertinggal disana, dan selama dia menjauh dan terus menepikan diri dari kota itu, barangkali tidak ada yang dapat mengendusnya.

Jo berpikir polisi tak mungkin mati-matian mengungkap kasus murahan begitu. Perempuan itu bukan selebgram, fotonya tidak pernah terpajang di media massa, kemungkinan besar ucapannya juga tidak pernah dikutip siapapun. Tapi semakin ia membawa jauh mobilnya ke arah barat meninggalkan kota itu, gelisah terus menikamnya.

"Jadi begini sensasinya memandangi senja yang romantis setelah mencekik leher wanita cantik," Jo membatin.

***

What A Difference A Day Makes kemudian mengalun dengan volume rendah. Matahari sudah tergelincir, tapi belum benar-benar hilang. Ia menampakkan dirinya sebagian dan masih terkatung-katung disana. Untuk beberapa saat waktu seakan berhenti, lantas membeku dan dunia menjadi begitu hening seperti terlelap. Tapi kenyataannya perut Jo semakin lapar, kehidupan masih berjalan normal-normal saja.

Menyalakan sein kiri, ia lalu menepikan mobil untuk menyantap roti sisir sisa semalam yang dibeli dari minimarket sembari meluruskan kaki. Ada lesehan sea food di pinggir jalan tidak jauh dari tempatnya berhenti, dua orang di warung tampak sedang mengelap meja menyambut pengunjung. Tapi Jo masih mendekam di dalam mobilnya.

Mungkin saja sekarang petugas hotel sedang memutar rekaman CCTV untuk memelototi wajahku, lalu seseorang menyebarkannya ke media sosial, begitu Jo menduga. Tapi sebenarnya Jo juga tidak begitu menyukai sea food. Jadi ia lebih memilih mendekam di mobil menghabiskan sisa roti sambil mendengarkan Dinah Washington untuk sedikit menenangkan pikiran.

Pihak hotel bisa jadi masih ribet mengurusi mayat perempuan itu, apa yang harus mereka jelaskan kepada orangtuanya yang mengetahui bahwa anak gadisnya tiba-tiba ditemukan mati tanpa pakaian? Jadi kemungkinan mereka belum sempat menyebarkan rekaman CCTV, paling-paling masih untuk kalangan internal antara polisi dan pengurus hotel, atau bagaimana, Jo tidak benar-benar tahu.

Mereka mungkin mengetahui jenis dan warna mobilku, tapi mata CCTV yang sok tahu itu tidak menangkap plat nomernya. Pikiran Jo terus meracau. Tapi untuk berjaga-jaga dia tidak lewat tol karena dianggapnya terlalu berisiko. Ada banyak sekali jenis sedan seperti yang dia kendarai di negara ini, mereka bertebaran di seluruh pelosok jalanan. Jadi mencegatnya satu persatu hanya untuk menemukan Jo yang sekarang sedang menyantap roti sisir, butuh perjuangan keras.

Polisi pasti sedang mencari motif pembunuhan itu. Sebab pembunuhan mesti punya latar belakang, meskipun sebenarnya Jo tak pernah merancangnya. Sama sekali ia tidak merencanakannya.

Setelah jantung perempuan itu sudah jelas-jelas berhenti berdetak setelah ia cekik, Joe menyembunyikan mayatnya di dalam bufet. Kira-kira butuh waktu dua puluh menit sampai perempuan itu benar-benar tergolek disana. Karena sempitnya ruangan, Jo harus melingkarkan tubuh perempuan itu dengan cara menekuk kakinya hingga menyentuh kepala, dan ia mengakui bagian itu yang paling memakan waktu.

Sebelum meningggalkan kamar ia sempat membawa ponsel teman kencannya itu untuk menghapus jejak digital yang ada di sana. Tapi kalung perempuan itu, juga uang yang ada di dompetnya sama sekali tidak Jo bawa. Jadi yang pasti pembunuhan itu bukan karena ingin menguasai harta benda.

Kondisi keuangan Jo sejauh ini tidak bermasalah. Bahkan cenderung berlebihan untuk ukuran pria lajang. Ia mampu menyewa perempuan yang baru dikenalnya seminggu lewat Facebook buat melayaninya. Ia juga mendengarkan Dinah Washington, Dianne Reeves, ataupun Ella Fitzgerald, jadi dari selera musiknya saja Jo tidak pantas disebut pencuri. Pembunuhan ini, menurut Jo, adalah kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

***

Tak lama setelah roti sisinya habis, Jo membuka ponsel untuk membaca berita. Tapi belum ada peristiwa apapun yang terbaru di kota kecil itu. Mungkin saja pengelola hotel meminta menyembunyikan peristiwa itu dari khalayak demi kebaikan, atau bagaimana persisnya Jo sekali lagi tidak benar-benar tahu.

Diam-diam kedua mata Jo terus melirik spion kanan mengawasi siapapun yang datang. Bagaimanapun dia teramat cemas. Ada pikap yang sempat berhenti di belakang mobilnya, tapi ternyata sopirnya cuma numpang pipis, lalu pergi lagi. Mobil itu terlihat membawa lemari kayu, seorang pria di belakang kemudi sempat menoleh ke arah Jo sambil mengepulkan asap rokoknya dengan tatapan jumawa.

Barulah, ketika Since I Fell For You memasuki detik-detik akhir, Jo melanjutkan perjalanannya. Langit sebentar lagi akan dipeluk gelap, tinggal menyisakan warna merahnya yang perlahan-lahan mulai pudar. Dari depan kemudi, Joe dapat menyaksikan perubahan warna langit dengan sangat jelas.

Sepanjang perjalanan Jo mulai mengenang orang-orang yang pernah memasuki kehidupannya, ia teringat pacarnya yang lari ke pelukan orang lain karena mengaku tidak tahan dengan kelakuannya. Ia membayangkan teman-teman kerja meskipun tidak pernah dikenali secara pribadi namun wajah mereka melintas satu per satu. Tentu saja ia masih terus memikirkan perempuan malang yang dia habisi di sebuah kamar hotel nomer 19.

"Aduh, tiba-tiba aku kesepian," Jo bergumam. Ia benar-benar ingin cepat sampai rumah, lalu tiduran di kamar sambil memandangi ikan-ikan di akuarium.

Jo sudah membayar mahal perempuan itu untuk memuaskan hasrat seksnya. Ia sudah menjelaskan tentang keinginannya dan wanita itu menyetujui hingga kesepakatan pun terjadi. Jo lantas menyambangi ke kotanya untuk berkencan. Tetapi ketika Joe memperlihatkan cambuk, gelang besi, dan perlengkapan lain yang sudah dia siapkan dari rumah, wanita itu mendadak menolak bercinta dengannya. Bahkan menganggap Jo gila, mengira kalau ucapannya saat chatting hanya candaan belaka.

"Dasar kampungan!" Jo yang rupawan itu memaki.

Setelah perdebatan tak juga membuahkan hasil yang saling menguntungkan, Jo akhirnya membekap mulut perempuan itu dengan baju kemejanya, lalu menjerat tangannya dengan gelang besi, sedangkan kedua kakinya dia kaitkan pada kaki ranjang menggunakan tali. Wanita itu sempat melawan tapi tenaga Jo jauh lebih besar, sampai akhirnya dia terbaring sempurna untuk diselami.

Sambil menampari wajah perempuan itu, Jo menjelajahinya. Sesekali Jo melecuti tubuh perempuan itu seperti menunggangi seekor kuda di bukit hijau pada suatu pagi yang cerah. Perempuan itu terus meronta-ronta, tapi sialan, birahi Jo jutru makin memuncak.

Jo membiarkan perempuannya berbaring dalam keadaan seperti itu hingga adzan subuh. Setelah dia coba melepas ikatan mulutnya, perempuan itu tiba-tiba berteriak, seketika membuat Jo kalap dan langsung memukul mukanya. Setelah itu dia melilitkan lehernya dengan cambuk, dan mencekiknya kuat-kuat hingga mengejang, kakinya bergetar, bahkan perempuan itu sempat mengeluarkan kotoran sebelum tubuhnya benar-benar tidak bergerak. Suara adzan melenyapkan teriakannya sehingga tidak seorang pun yang barangkali merasa curiga. Televisi di kamar mereka juga terus menyala dengan suara keras, dan Jo yakin keberuntungan semacam itu pastilah ada campur tangan Tuhan.

Jo tidur bersama mayat perempuan itu, begitu terbangun tahu-tahu hari sudah terlampau siang. Bisa-bisanya ia tidur lelap begitu? Ia menata diri bersikap tenang agar bisa berpikir jernih. Pertama-tama dan yang paling utama dia membuat kopi dengan alat pemanas yang disediakan di kamar itu, menghabiskan berbatang-batang rokok, mengganti beberapa saluran televisi, sebelum akhirnya muncul ide memasukkan mayatnya ke dalam bufet.

Hari Minggu, pantura terlihat lebih banyak diisi truk-truk besar. Lampu-lampu telah sempurna membuka kelopak matanya, membuat jalan yang dia lalui seperti ditumpahi cahaya. Jo membawa mobilnya terus melaju ke arah barat. Ia tiba-tiba membayangkan betapa Daendels sudah membangun jalan penting ini dengan meninggalkan cerita-cerita horor, dan sekarang ia melewatinya dengan perasaan was-was. Apakah ada pembunuh lain yang juga sedang melintasi jalan ini seperti dirinya?

Pemalang, 2019-2020

Sulung Pamanggih jurnalis Radar Tegal; cerita pendeknya dimuat di sejumlah media dan antologi bersama

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Ridho Rhoma Divonis 2 Tahun Penjara Terkait Narkoba"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)