detikHot

Cerita Pendek

Ikan-Ikan di Empang Belakang

Minggu, 09 Feb 2020 11:00 WIB Arienal Aji Prasetyo - detikHot
ilustrasi cerpen Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Di belakang rumah kakek, ada sebuah empang yang cukup besar. Ikan-ikan yang ada di empang itu milik kakek, karena kakeklah yang membeli benih-benihnya dari penjual benih ikan saban selepas Lebaran.

Di empang itu ada ikan nila, wader, tapi mujairlah yang paling banyak menghuni empang itu. Di pinggiran, tak jarang ditemui mujair betina yang sedang mengawasi anak-anaknya dari gangguan ikan-ikan lain, sehingga lambat laun semakin banyak saja ikan mujair yang ada di empang kakek.

Kakek sangat telaten merawat empangnya. Jika sudah banyak rumput yang tumbuh di tanggul, kakek akan membersihkannya sendiri tanpa menyuruh anak atau cucu-cucunya untuk membantu. Rumput-rumput itu dibuang ke empang, agar dimakan ikan. Kadang kala ia juga menyuruh bapakku, anak pertamanya, untuk memotong daun keladi tua di sawah untuk pakan ikan-ikannya. Ia juga memeriksa secara rutin aliran airnya agar air di empangnya tak meluap atau berkurang.

Jika ada anak atau cucunya yang ingin menangkap ikan-ikan itu, maka sebelumnya izin kakek harus didapatkan. Kakek hampir pasti mengizinkannya asal yang ditangkap ikan yang sudah besar dan tidak sedang nyemprol, istilah di desaku untuk menyebut ikan yang sedang merawat anak-anaknya.

Dulu, ketika aku masih kecil, aku sering berada di tanggul empang itu ketika kakek menangkap ikan. Aku bersorak girang ketika seekor ikan kecil diberikan padaku. Ia beralasan bahwa anak kecil harus mendapat ikan kecil, ikan yang besar harus diberikan kepada orang yang sudah besar. Itu curang menurutku. Tapi toh aku cukup bahagia dengan ikan kecil itu.

Menjelang Idul Fitri tiba, kakek akan menangkap ikan-ikan itu untuk dibagikan kepada anak-anaknya atau kepada saudara-saudara di desa. Itu sudah menjadi tradisi di keluarga kakek. Ikan yang besar-besar, kecuali yang sedang nyemprol, harus ditangkap, yang membuat ikan di empang kakek berkurang drastis. Inilah yang membuat kakek akan membeli benih ikan dalam jumlah banyak di bulan Syawal.

Momen inilah yang sangat aku tunggu. Kegembiraan karena mendapat baju baru saat lebaran akan lebih lengkap jika aku ikut menangkapi ikan dengan tangan karena air empang sudah dibuang. Kakek selalu memperingatkanku untuk selalu berhati-hati agar tak terpeleset atau terkena sirip atas ikan mujair yang tajam-tajam itu.

Aku memang sangat suka bermain di empang itu. Biasanya, sepulang sekolah aku akan menangkapi ikan-ikan kecil yang mudah ditangkap dengan jaring dari tanggul tanpa sepengetahuan kakek.

Ada beberapa ikan wader yang ukurannya cukup besar, kira-kira sebesar paha orang dewasa. Aku tak berani menangkap ikan itu karena aku tahu bahwa ikan itu kesayangan kakek. Kata kakek, ikan itu sudah dipelihara sejak ukurannya masih segini. Ia berkata seperti itu sembari mengacungkan jari telunjuknya.

Ikan-ikan yang ada di empang kakek selalu menggoda bocah-bocah untuk menangkapnya di malam hari. Di desaku ada cukup banyak orang yang mempunyai empang, dan bocah-bocah yang ingin mencuri ikan-ikan di empang itu tak kalah banyaknya. Namun demikian, empang kakek hampir selalu aman. Kata bapak, ada sesosok jin yang menunggui empang kakek. Entah mengapa aku cukup kagum dengan perkataan bapak itu.

Suatu malam, ada beberapa anak yang mencoba mencuri ikan di empang kakek. Seharusnya tak ada orang yang mengetahui aksi itu, jika saja kaki kanan salah seorang bocah itu tak menginjak pecahan kaca yang ada di tanggul, dan ia menjerit dan menyebabkan salah seorang temannya kaget, lalu tercebur ke empang. Seorang bocah lagi tentu tak bisa meninggalkan dua rekannya yang bernasib sial.

Bapak lalu keluar rumah, disusul paman dan kakek tentu saja. Mereka tak memarahi ketiga bocah itu yang berasal dari desa tetangga. Dibiarkannya mereka pulang dengan membawa kesialannya.

***


Setiap sebulan sekali kakek mengambil gaji di kecamatan. Dulu ia seorang guru di sebuah Madrasah Ibtidaiyah di desa tetangga yang jarak tempuhnya kira-kira selama sepengisapan rokok. Selepas mengambil gaji, ia juga selalu membawa majalah yang diterbitkan Departemen Agama Jawa Tengah. Rindang, nama majalah itu. Dengan kaca mata tuanya, di ruang tengah, ia membaca satu per satu tulisan di majalah itu. Ia tak pernah berlangganan Rindang lagi setelah pensiun, dan sayang majalah-majalah itu sudah diloakkan.

Kakek adalah orang yang pendiam, dan tidak pernah memaksa anak dan cucu-cucunya untuk melakukan sesuatu sesuai kehendaknya. Maksudku, kakek tak pernah menyuruh anak-anaknya untuk selalu menunaikan solat di masjid, harus bersekolah di tempat di mana ia pernah mengajar, dan hal-hal semacamnya.

Selain Salat Jumat ia memang tak pernah menunaikan salat di masjid. Tapi, setahuku ia selalu menunaikan salat setelah adzan dikumandangkan, dan ia meninggalkan pekerjaan yang sedang ia lakukan. Ia juga selalu menunaikan solat sunnah dan selalu membaca al-Quran selepas menunaikan salat.

Bapakku, seandainya dulu ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, tampaknya kakek sanggup membiayai. Namun bapakku memilih untuk keluar ketika ia baru masuk kelas dua SMA. Dan kata bapak, kakek tak memarahinya atas pilihan itu. Ketika kakek dipanggil ke sekolah pamanku gara-gara pamanku sering tak masuk sekolah, kakek tak sampai memarahi atau berlaku keras terhadap paman.

Kepada lima belas cucu-cucunya, kakek berusaha tak pilih kasih. Tapi perlu kuakui bahwa akulah yang paling kenyang dengan kebaikan kakek, karena aku adalah cucu pertamanya. Selepas menerima gaji pensiun, ia tak jarang memberikan uang jajan kepada cucu-cucunya. Suatu kali, adik-adikku protes pada kakek mengapa uang jajan yang ia terima lebih sedikit dibanding aku. Aku hanya menimpali, anak kecil dapatnya sedikit, kalau orang yang sudah besar dapatnya banyak.

Saking pendiam dan kelewat sabarnya, kakek tidak pernah membesar-besarkan masalah yang menyangkut dirinya. Ketika tanah di sekitar empang yang seharusnya menjadi haknya sedikit demi sedikit dicaplok orang, ia tak pernah menunjukkan sikap ingin melawannya, bahkan ketika anak-anaknya sudah geram dengan kejadian itu. Mungkin kakek hanya tak ingin masalah itu akan membuat keluarga besar kami dianggap serakah. Lama-kelamaan ketika aku perlahan memahami rentetan masalah soal tanah itu, aku juga sedikit geram dan agak kecewa. Aku belum bisa memahami tentang sikap kakek itu, walaupun jika melawan pun, keluarga kakek tak mempunyai kekuatan yang cukup.

Kepulanganku dari Yogyakarta, selain momen lebaran, juga ingin menanyakan kepada kakek tentang masalah-masalah itu. Tapi kakek membawa pertanyaan lain yang entah kutujukan kepada siapa, kenapa kakek pergi semendadak ini? Aku tentu menangis. Hampir semua orang yang ada di rumah kakek menangis.
Mereka tidak siap karena kepergian kakek yang memang sangat mendadak.

Sejauh pengetahuanku melalui cerita-cerita bapak, paman dan bibiku, kakek hanya sekali saja masuk rumah sakit. Itu pun karena jari manis kaki kirinya terjepit pintu angkutan umum dan harus diamputasi. Dan itu terjadi ketika tujuh anak-anaknya belum ada yang menikah. Kakek juga tidak mempunyai riwayat penyakit. Kalau kakek merasa tak enak badan, ia hanya menyuruh nenek membuatkan jamu, yang setahuku terbuat dari jahe, daun sirih, atau bawang dayak. Setelah minum jamu itu, tubuh kakek pun sehat kembali.

Kakek terbujur di ruang tengah, yang menurutku lebih mirip seperti sedang tidur ketimbang sebagai seorang yang telah meninggal. Paman dan bibiku menangis di sampingnya. Bapak pergi ke kamar kakek untuk menangis, karena ia tak mau tangisnya dilihat anak-anak dan adik-adiknya. Semua saudara langsung berkumpul di rumah kakek. Tak ada yang tak menangis. Hanya saja, tangis nenek tak semenjadi-jadi tangis yang lain.

Orang-orang bilang bahwa mereka ingin meninggal seperti kakekku, di malam Jumat selepas ia menunaikan solat isya. Kakek nyaris tak berpamitan secara langsung atau memberi tanda agar anak dan cucu-cucunya siap ditinggalkan olehnya.

Hari kematian kakek adalah hari ketujuh Lebaran. Semua anak dan cucunya masih berkumpul di desa. Tia, adik sepupu pertamaku sekaligus cucu kedua kakek, yang berkuliah di Jakarta, baru sore tadi berpamitan kepada kakek bahwa besok subuh ia harus berangkat. Seperti biasa, kakek memberi uang jajan, dan ketika Tia pamit untuk mempersiapkan keberangkatannya, kakek mengantar Tia sampai ke luar rumah, dan memandangi cucu keduanya itu meninggalkan rumah. Sementara pamanku akan berangkat bekerja lagi ke Jakarta esok lusa. Kematian kakek menunda itu semua.

Kakek seperti telah memilih hari meninggalnya. Ia meninggal ketika anak dan cucunya masih berkumpul. Seperti kebiasaan di desaku, rumah duka menyediakan makanan sepantasnya untuk pelayat yang datang, sehingga nenek dan anak-anaknya tak perlu repot-repot mempersiapkan makanan-makanan itu karena masih banyak sisa makanan lebaran di rumah. Ia juga meninggal ketika Piala Dunia sedang berlangsung di Rusia, sehingga itu bisa sedikit menghibur kami semua yang ditinggalkan, dan keluarga besar kami memang sangat menggandrungi sepak bola.

***

Walau kakek sudah meninggal, tapi empang peninggalannya masih terawat. Di tanggulnya, oleh bapakku ditanami jagung dan buncis. Ibu juga menanam sayur-sayuran lain di sana. Ikan wader milik kakek barangkali tak mengetahui kalau orang yang merawatnya di empang itu sejak masih seukuran jari telunjuk sudah tiada.

Beberapa hari setelah kakek meninggal, ibu bercerita bahwa ia pernah bermimpi bahwa air yang ada di empang kakek berkurang sehingga ikan-ikan yang ada di sana berlompatan tak karuan. Kemudian ibu mencari kakek, barangkali kakek belum mengetahui kejadian itu. Tapi ibu tak menemukan keberadaan kakek. Barangkali itu suatu pertanda, hanya saja ibuku tak menyadarinya. Kematian memang selalu menjadi misteri.

Sekarang, ikan-ikan peninggalan kakek yang ukurannya cukup besar membuat adik-adik sepupuku yang masih kecil tergoda untuk menangkapnya. Aku sering meledek mereka, jika mereka menangkap ikan-ikan itu, nanti kakek akan marah. Agar kakek tak marah, mereka harus ijin dulu ke makam kakek. Mereka tentu takut, dan aku tertawa saja. Mereka belum paham, bahwa aku mencoba mengingat kakek dengan cara apapun, termasuk dengan ikan-ikan di empang belakang.

Arienal Aji Prasetyo mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, bergiat di penerbit Dialog Pustaka

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com