detikHot

Cerita Pendek

"One Lucky Girl"

Minggu, 19 Jan 2020 10:36 WIB Dini Febriani - detikHot
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Orang-orang lalu-lalang, burung-burung bersimpang siur. Petang menghadang mereka yang hendak pulang ke pemalaman.

Mambang kuning selintas mempersolek bumantara Jakarta --sebelum ia kusut muka bersimbur asap sepanjang malam nanti-- membuat siapa-siapa yang menengadah terkena pukaunya. Lamat-lamat terdengar panggilan sembahyang; mukmin dan mukminat yang ingin bersedekap merapat.

Mujur bagi mereka yang pada jam begini telah meninggalkan meja kerja. Tak banyak yang punya kenikmatan angkat kaki dari kantor pada waktu petang, meski itu berarti harus sudi bersemuka dengan keramaian yang nyaris keruntang-pungkang. Ketika tenggat sudah terpenuhi, permintaan revisi belum terjadi, dan order berikutnya masih dalam penangguhan, cukuplah alasan untuk bersiap pulang.

Tokoh utama perempuan di sini bolehlah disebut beruntung. Tampak ia sedang berbanjar dalam antrean yang menanti bus Transjakarta.

Kamidia, lajang, 24 tahun. Bermukim di Pluit sejak diperanakkan oleh maminya. Seorang Account Executive, untuk sebuah biro iklan kenamaan di area Blok M, yang sedang memasuki tahun kedua profesinya. Alumnus kampus bagus. Paras rupawan, nalar berjalan. Luwes dalam perkawanan. Pendapatan sebulan aman. Keluarganya berpunya dan berjenama. Kekasihnya, pegawai perusahaan milik pemerintah, sedang bersiap menunanginya.

Hari ini mobilnya berkendala. Sebab tak bisa meminjam mobil papinya yang bernomor pelat ganjil, ia harus menumpang kendaraan umum.

Pagi tadi ojek daring mengiringinya ke kantor. Petang ini ia menetapkan akan naik bus kebanggaan kota kelahirannya itu. Sungguhpun sejawatnya, Elya, telah mewanti-wanti bahwa itu bukan ide bagus, Kamidia tak mengindahkan.

"Penuh. Kalo lagi sial, lo enggak bakal dapat tempat duduk. Lagian lo tahan sama bau badan yang campur aduk?"

"Gue adalah one lucky girl. Soal bau, gue pakai masker."

Oh, tentu saja aku tak akan memutuskan naik bus ini kalau aku ingin segera tiba di rumah, Elya. Mami sedang menyebalkan sekali. Aku tak mau lagi berargumen tentang ba-bi-bu tentang hari pertunanganku.

Kamidia sejurus bersungut-sungut dalam hati. Tak lama, yang ditunggu hadir.

Pintu bus membentang. Mereka yang di dalam turun teratur. Mereka yang di luar menyambut dengan tabah mereka yang turun: tak satu pun beringsut sampai bus kosong benar.

Ada yang aneh.

Cuma termenung menatap sekitarnya, Kamidia jadi yang canggung seorang. Orang-orang memasuki bus dengan beradab. Ini bukan pemandangan empat tahun lalu, saat ia mula pertama mengantongi kartu bus Transjakarta lantaran iseng dan memperoleh perjalanan perdananya bersama tiga kompanyon kampus yang kini bahkan tak lagi dekat dengannya.

Oh, waktu mengudara, Kamidia. Tentu saja hari ini tak sama dengan empat tahun lalu.

Bersicepat, Kamidia menyongsong kursi kosong yang pertama merenggut pandangannya. Begitu bokongnya mendarat, kontan lega ia.

Hari ini tak begitu merampas energinya, tetapi barang tentu ia lebih suka duduk molek daripada berpayah-payah berdiri sepanjang 20 halte. Kali ini, ia paham: menjadi gesit tak hanya membuatnya dapat menyabet sanjungan klien dan atasan.

Tokoh utama kita hendak menggapai ponsel cerdasnya yang tersisip dalam tas, begitu kupingnya menangkap suara tinggi seorang perempuan yang kedengarannya lebih muda darinya, dari pojok seberang yang berjarak jauh.

"Iya, kebetulan hari ini pulang cepat, Bu."

Oh, sebuah suara yang tak asing bagi kuping Kamidia. Itu Anna, ilustrator yang sedang bermagang di kantornya. Seorang peminat agnostisisme dan pendengar John Lennon.

Sebagaimana biasa, Anna berdandan kasual: sepatu sport putih, jins sobek, kaus motif salur warna monokrom yang di satu sisinya memperlihatkan bahu, dan rambut ekor kuda berwarna oranye. Pada bahu yang terkuak itu pasti kentara rajah bertuliskan namanya yang dibuat terbalik mengikuti cermin; ya, rajah itu pasti kentara bagi kawan bicaranya... seorang suster yang kira-kira berusia empat puluhan tahun.

Anna terleka berbincang dengan suster itu. Ia tak menginsafi kehadiran salah seorang senior kantor di dalam bus itu dan hanya mengangguk sekilat kepada seorang remaja kencur yang memijak di atas sepatu sport-nya yang trendi, kendati ia telah menuturkan maaf.

Apa yang dibahas? Protagoras? Teologi? Kukira Anna tak suka mengobrol dan ia cuma berbicara perihal hal-hal yang menarik atensinya, dan itu bukan yang disukai kebanyakan awam. Tapi menarik juga. Maksudku, mereka bisa berbaur. Ya, itu tidak aneh, cuma....

Kamidia, tokoh utama yang sedang terpinga-pinga ini membayangkan persis di seberang depan Anna dan suster itu seorang gadis milenial sedang mengangkat ponsel cerdas yang berada di mode kamera. Membidik mereka berdua. Mencuri potret.

Sesaat, foto yang boleh jadi menggugah itu bertengger di Facebook, disukai ribuan orang, dan dibagikan ke media-media sosial sebangsa. Dibincangkan warganet. Dijadikan bahan warta oleh pers siber penjilat klik. Semua tersentuh. Semua terharu.

Namun, tak ada yang menjepret, mengunggah, apalagi menuliskannya dalam artikel asal jadi. Entah bagaimana Kamidia pun tahu tak ada yang melakukan itu.
Area khusus perempuan telah sesak. Kamidia sadar bahwa semua penumpang perempuan adalah nonprioritas.

Ketika bus setop sebentar di Halte Dukuh Atas, seorang perempuan sebayanya naik. Ia tak punya pilihan, kecuali berdiam sementara di area umum. Selagi area khusus pria penuh jua, tak ada adam yang menyodorkan kursinya. Sebagian lelap, sebagian bersapaan, sebagian asyik dengan gawai. Perempuan itu bergeming, mengamati ke luar yang sibuk.

Apa lagi sekarang? Apa bakal ada utas tentang bagaimana kaum laki-laki memiliki nafsi, oleh perempuan yang tak ditawari kursi? Perempuan itu bagaimana pun bukan yang patut diberikan ruang duduk. Ah, kurasa ia tak memasalahkan. Aku harap ia sepakat patriarki terkadang bisa menguntungkan perempuan. Dan ia mengecam itu.

Kamidia, kamu benar. Perempuan itu hanya memikirkan perkara camilan apa yang hendak dibelinya nanti di minimarket sebagai teman menyaksikan tontonan serial begitu tiba di rumah. Tak sececah pun ia menanti disodori kursi. Pikirkan hal-hal positif lain.

Menit-menit bergulir. Beberapa orang berkasak-kusuk dengan bayan. Di area umum, kelihatan seorang petugas bus dan pria yang mungkin seangkatan dengannya sedang bercakap. Bisik-bisik sampai di kuping Kamidia.

"Cowok itu benar kok. Bapak itu cukup ditegur saja."

"Iya. Kayak kita, beliau juga pasti lelah. Ketiduran itu manusiawi, enggak perlu dibesar-besarin."

"Untung dia bukan anak medsos yang haus konten, ya. Bisa-bisa bapak itu viral terus pihak TJ minta maaf lewat twit."

"Tipikal."

Ada apa ini? Mengapa sekonyong-konyong orang-orang lebih waras? Apa ini hanya terjadi di bus ini dan pada petang ini? Aku tak tahu naik kendaraan umum bisa semenyenangkan ini.

Semua letih selepas menghadapi hari yang ripuh. Semua mengharap lekas berada di rumah, indekos, atau flat masing-masing. Namun, tak ada yang tebal telinga.

Beberapa jatuh tertidur, bukan karena malas meladeni sekitar. Sebagian melekatkan penyuara telinga, bukan karena tak mau terganggu. Jika harus bercengkerama, mereka melakukannya dengan tulus. Jika obrolan harus selesai, itu karena kedua pihak paham ihwal kenyamanan. Tak ada yang mengundang atau kedatangan mudarat.

Sesal bergelayut di dada Kamidia. Bentala virtual mengaburkan netra, keakuan menyumbat telinga. Sementara itu, membaur-kecuali dengan yang menurutnya patut, selama ini adalah gagasan yang liyan. Ia kini menginsafi betapa ia berjarak dengan kenyataan. Kamidia mengepal tasnya.

Kamu pikir kamu siapa, Dia?

Kekasihnya mengebel, dan ini kali pertama Kamidia tak semenggelegak biasa.

"Kenapa aku enggak dikabarin? Kamu pasti kuantar dulu."

"Karena Mami... Eh, maksudku, aku mau naik bus sekali-sekali."

"Ha?"

Entah bagaimana sambungan berakhir. Kamidia, tokoh utama cerita ini, sama sekali tak menyentuh tombol merah.

Nah, jika ini cuplikan sinema, anggaplah aram temaram mengganti kilauan jalanan malam Jakarta di luar. Kembali ke dalam bus, kita amati Kamidia betul-betul.

Oh, ia terlelap. Sementara bus akan menyamperi Halte Kota, ia masih mendengkur kabur. Biar saja, ia sedang membayar utang tidur.

Namun, ada baiknya kita membangunkan ia sekarang. Ponsel cerdasnya yang gres itu menyembul dari tas yang lalai ia rapatkan. Sebuah tangan yang licin sedang mencoba peruntungan, sedang tiada sepasang mata pun memindai kejadian itu. Ya, siapa pun tak ada waktu.

Sebentar. Sebaiknya ia jangan dibangunkan.

Dini Febriani penulis wara asal Serang, Banten

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com