detikHot

Cerita Pendek

Rumah Kopi

Sabtu, 11 Jan 2020 09:40 WIB Chaery Ma - detikHot
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Tak ada lagi kopi. Tak ada lagi gelas besar itu.

Pun aroma kopi sudah menguap jauh dibawa angin. Kepulan panasnya yang setiap pagi buta lebih dulu menanti tuannya di atas meja besi berkarat telah terbang mengangkasa. Juga, tak ada lagi pemandangan setiap pagi-pagi buta itu emma dengan gelungan rambut ke dalam, sarung batik berwarna usang dengan pakaian dalam yang membungkus bagian atas badannya, menghadap ke arah tungku yang menyala-nyala dengan panci hitam berisi air mendidih yang nantinya dipakai menyeduh kopi.

Rumah kayu dengan dua belas tiang itu menjadi rumah tanpa kopi. Semua menjadi lenyap bersamaan kematian etta pada suatu Selasa, 15 tahun yang lalu.

Emma menghentikan rutinitas paginya sejak kepergian Etta, dan tak pernah lagi menyeduh kopi setelah itu. Gelas besar yang selalu dipakai etta meneguk kopinya sudah dimuseumkan di tempat paling dalam di lemari kaca. Pernah ingin kugunakan sekali, tapi emma meraihnya dengan kalimat yang masih mengambang hingga kini. "Itu punya etta-mu."

Emma menjaga dengan sempurna segala hal tentang etta, tentang kenangan yang barangkali masih utuh tersimpan di kepala, juga hatinya. Pun aku tak pernah benar-benar berhasil menyelami bagaimana cara emma mencintai suaminya. Bertahun-tahun kepergian etta dia masih memelihara kenangan dengan caranya sendiri.

***

Emma, seperti kebanyakan perempuan-perempuan Bugis lainnya telah menghabiskan seluruh waktunya hanya di rumah, pagi hingga pagi kembali. Berpuluh tahun rutinitas itu, berpuluh tahun kutemukan cahaya pada wajah emma. Pun jika pada akhirnya pudar, itu karena kepergian etta. Dan emma tak kutemukan 'hidup' setelah itu.

Sesekali pada kepulanganku, dia masih kudapati duduk lama setiap selesai salat, dan ada isakan tangis terdengar panjang dari sana. Maka ketika saat ini aku dihadapkan pada kenyataan yang berbeda, ke mana didikan itu mengejewantah di hati kami, anak-anak emma?

Ratih, adik yang pas di bawahku membawa kabar tidak baik. Perihal rumah tangga, dan itu mengecewakan. Sudah kuduga, bahwa masalahnya jauh lebih pelik dari yang hanya sekadar terpikirkan. Pertemuan kami sore ini pun lebih banyak menyisakan hening, bahkan dua cangkir kopi dibiarkan berembun dingin begitu saja.

"Akhiri saja." Jawaban itu keluar begitu saja dari mulutku. Dan Ratih ternganga, barangkali bukan kesimpulan seperti itu yang ingin didengarnya. Suara isakan yang dari tadi mengiringi keheningan semakin terdengar berat dari sana. Juga, gulungan ombak kecil di luar sana yang sesekali menghempas seolah menghantam perasaan. Perasaan Ratih, juga perasaanku.

"Kalau kau memikirkan Daffa, jutaan anak di dunia masih bisa hidup dengan bahagia walaupun orangtuanya bercerai." Ada getaran yang terdengar jelas dari nada suaraku. Kulemparkan pandanganku ke lautan lepas yang menggulung di sana. Sekalian mengutuk pernyataanku barusan kenapa bisa keluar dengan seenteng itu. Tentu tidak akan mudah bagi Ratih.

Sejenak memoriku berputar kembali pada peristiwa tiga tahun lalu saat Burhan datang ke rumah untuk melamar Ratih. Lelaki yang menjual kesederhanaan itu jauh memiliki poin lebih dibandingkan beberapa lelaki yang sebelumnya sudah pernah datang melamar. Pun Ratih sejak dulu adalah anak yang paling penurut di antara anak-anak emma yang lain. Dia mengikuti segala hal yang kuputuskan untuknya. Ketika pada akhirnya kemudian pilihanku menyakiti perasaan Ratih, dia seolah menuntut pertanggungjawaban.

"Aku tak menyalahkanmu." Ratih menebak pikiranku, suara isakannya tak lagi terdengar. "Kalimatmu barusan juga tidak benar-benar keluar dari hatimu, bukan?"

"Aku juga tidak pernah merasa bersalah. Perihal rumah tangga tidak akan ada yang mampu menebak bagaimana ujung akhirnya, bahkan orang yang saling mencintai pun bisa mengalami prahara yang jauh lebih rumit dari ini." Alibi klasik untuk membela diri. Aku menarik napas panjang. Pada akhirnya meneguk juga kopi dingin yang sedari tadi masih utuh di tempatnya. Dan itu mengantarku pada kenangan lain yang seperti siluet datang silih berganti.

"Tapi aku tidak bisa berpisah dengan Burhan."

Nah, itu dia masalahnya.

"Mungkin itu mudah bagi sebagian orang tapi tidak buat diriku. Berpuluh tahun emma memberi pelajaran tentang rumah tangga kepada kita." Kalimatnya tertahan.

"Hampir saja aku ingin menyerah, tapi aku akan kuat dengan caraku sendiri, orang yang terlihat kuat di luar sana justru harus ada orang yang menguatkan, awalnya aku memilihmu, tapi ternyata itu keliru."

Aku tak bisa menahan tawa. Hambar. Pun aku penasaran, apa yang akan dia tempuh selanjutnya.

"Mungkin aku akan pulang, menemui emma." Kalimat yang kutunggu itu meleset dengan sempurna. "Dia satu-satunya kekuatan yang kuharapkan. Bukan, bukan hanya sekadar itu, karena aku memang sudah rindu." Ratih meralat kalimatnya.

"Apakah kamu mau pulang bersama?" Mata kami saling beradu. Bukan sekadar ajakan.

Hatiku bergetar hebat. Emma. Rumah dengan dua belas tiang itu berkabut dalam jarak. Tentu saja tawaran Ratih terlalu menarik. Dan aku akan menurut kali ini.

***

Rumah kayu bertiang dua belas itu masih tetap sama. Hanya bagian atapnya yang sempat diganti beberapa kali karena bocor. Pernah kutawarkan pada emma agar direnovasi seperti rumah tetangga lainnya yang sudah menjadi rumah batu. Tapi masih pada pertahanan yang dipegangnya kuat-kuat, tak ada yang lebih nyaman dari rumahnya yang seperti ini. Ketika sudah seperti itu, cerita-cerita saat lahirku, juga keempat adikku, akan sempurna dia urai kembali. Tentang di kamar mana emma mulai merasa ketubannya pecah, dan di kamar mana kemudian dia diangkat untuk bersiap lahiran.

Juga, tentang kepulanganku bersama Ratih. Emma sudah menangkap alamat yang tak baik itu. Tapi, selalunya dia membiarkan kami untuk memulai cerita lebih dulu. Sekali pun, emma tak pernah benar-benar turut campur tentang kehidupan rumah tangga anak-anaknya. Maka dari itu, ketika rumah tangga kami punya masalah, adik-adikku akan lari padaku, sebagai anak tertua. Dan aku yang terkadang memilih untuk tak lari pada siapa-siapa. Memilih sendiri, mendiamkannya sendiri. Jika kini aku pulang, karena dukaku sudah menganga.

Pernikahanku yang sudah terbina selama sebelas tahun pun jauh dari harmonis. Bukan tentang kasus perselingkuhan, kali ini hanya jenuh. Dan kejenuhan itu yang lebih sering mencipratkan api kecil hingga membesar. Mungkin ini yang akan melatarbelakangi munculnya perselingkuhan nantinya. Entahlah. Aku sudah siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

Aku jenuh dengan rutinitasku, juga jenuh dengan kekonyolan lainnya. Alwi terlalu perfeksionis. Kekuatan seperti apa yang dia miliki sehingga mampu meluluhlantakkan perempuan berkepribadian singa seperti diriku, membuatku melepas atribut karier untuk mengabdi sebagai istri yang baik dan ibu yang baik.

Pada mulanya, memang berjalan baik-baik saja. Lagi, aku jenuh. Dia terlalu menjunjung tinggi prinsip sebaik-baik tempat untuk perempuan adalah di rumah. Sayangnya aku bukan emma yang tak mengalir semua itu dalam kepribadianku. Aku yang hidup di abad modern ini dengan sentuhan warna kehidupan lain jelas membuatku berontak dalam keterdiaman. Dia telah salah memilihku.

Sesekali aku melampiaskan kejenuhanku dengan memilih kabur ke kafe-kafe untuk sekadar menyesap secangkir atau dua cangkir kopi menikmati kebebasanku sebagaimana layaknya perempuan single selama tiga puluh menit dan paling lama satu jam di sana. Menikah dengannya seakan membuat segala sesuatunya menjadi terbatas; aku kehilangan teman-teman, juga terlihat tua sebelum waktunya.

Dia mungkin saja mengerti sehari atau dua hari, selebihnya dia kembali menjadi penguasa diktator yang tak kenal pandang bulu. Pun kepulanganku saat ini tanpa sepengetahuannya, hanya memo yang sengaja kutempel di lemari pakaian. Dan anak-anak kutitip pada pengasuhnya. Kepulangan yang berisiko, dan kini pun aku sudah tak peduli.

Aku sengaja menyimpan rapat persoalan keluargaku. Bagaimana pun, di hadapan emma, juga Ratih, aku tentu saja menginginkan hubunganku dengan Alwi terlihat baik-baik saja. Pun jika mereka menangkap alamat yang tidak baik itu, setidaknya bukan aku yang kali pertama membocorkannya.

Kini kami bertiga lesehan di ruang tengah, dengan emma yang masih tajam penglihatannya memasukkan benang ke dalam jarum yang sebentar lagi akan digunakan untuk menambal pakaiannya yang robek. Alwi pasti akan sumringah melihatku melakukan hal demikian, begitu yang tiba-tiba terlintas.

"Rumah ini adalah rumah keluarga, tempat pulang untuk kalian semua anak-anakku. Bukan untuk memulangkan duka, bukan, tapi memulangkan kebahagiaan." Emma memulai wejangannya, tapi sebenarnya lebih dari sekadar itu, kalimat yang mengalir dari mulutnya seperti hujan di musim kemarau yang sudah barang tentu selalu dirindukan.

"Ketika kepulangan kalian membawa duka, maka kembalilah ke tempat duka itu kau ambil, perbaiki dengan sebaik mungkin. Juga mengalahlah."

Air mata Ratih sudah berurai. Pun melihatnya seperti itu, seakan aku juga begitu benci pada diriku, benci pada Alwi, juga pada Burhan. Kenapa persoalan rumah tangga selalu menjadikan pihak perempuan begitu lemah dan selalu mengalah.

"Mengalah bukan karena lemah, tapi mengalah karena kita kuat melewati semua itu." Emma seperti membaca pikiranku. Dan ini argumen klasik.

"Menjadi perempuan berarti memelihara kesabaran, kesabaran menjadi anak, kesabaran menjadi istri dan kesabaran menjadi ibu."

Suara derik papan yang bergesekan karena angin mulai terasa, membuat sekeliling menjadi larut. Aku pun tidak banyak bersuara.

"Ketika perempuan sudah bersuami, terlebih sudah punya anak, perasaan untuk diri sendiri sudah hilang." Jarum emma yang keluar masuk kain seakan tembus pada perasaanku.

Kini angin berembus melalui celah kayu, sampai pada kulitku yang hanya tertutupi daster. Emma, tetap menunduk, kini merapikan jahitannya. Tak sampai mata pelajaran di sekolah selama hidupnya, tapi aku tahu emma telah mempelajari mata pelajaran kehidupan yang jauh lebih bijaksana. Filosofi kehidupan barangkali telah mengakar di hatinya. Dan itu kuat.

"Etta kalian pernah menikah, tak hanya sekali, bahkan beberapa kali selama kami menikah."

Dan, porak-poranda hatiku seketika itu juga.

"Tapi aku tahu, hanya kesabaran yang mampu menaklukkan semua itu. Sabar akan mengembalikan orang-orang yang menjadi milik kita karena kebaikan tak akan tenggelam dan keburukan tak akan mengapung."

Kalimat emma kali ini membuatku ternganga. Ratih juga. Pecah sudah tangis kami. Bukan karena kalimat itu, melainkan keteguhan emma untuk senantiasa selalu memelihara pernikahannya. Bahkan kenyataan tentang pernikahan etta tak pernah sampai di telinga kami-anak-anaknya, saking kuatnya menyimpan semua itu, sendiri.

Emma tak lagi menghadirkan kopi di rumah ini, mungkin untuk mengubur kesalahan etta yang tentu saja terlalu menyakitkan. Tapi dia menghidupkan kenangan yang baik, tentang etta, tentang kami selalu di hatinya.
Keterangan:

emma: ibu (dalam bahasa Bugis)
etta: ayah (dalam bahasa Bugis)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Rey Mbayang Bicara soal Rizky Billar Dikaitkan dengan Dinda Hauw"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com