detikHot

Cerita Pendek

Begu Ganjang

Sabtu, 04 Jan 2020 11:52 WIB T. Sandi Situmorang - detikHot
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Tak seperti biasa, malam ini kedai minum Amang Doan tidak ramai. Hanya ada beberapa lelaki di sana. Para lelaki itu menenggak tuak dan mengisap rokok tanpa suara. Sore tadi, Wardiman, menguburkan anak keduanya. Padahal baru dua hari lalu bayi perempuan itu bisa ia dekap setelah delapan bulan Tuhan menitipkannya pada rahim istrinya.

Rumah Wardiman tidak dekat dari kedai minum Amang Doan. Andaipun lelaki yang berada di sana bermain catur dengan riuh, atau meneriakkan lagu Batak sampai pita suara mereka putus, mustahil suara itu sampai ke telinga Wardiman dan istrinya.

Sebagai teman sekampung, mereka memahami kesedihan keluarga Wardiman. Tidak menimbulkan suara gaduh, bagi mereka adalah turut merasakan kehilangan itu. Sementara bagi lelaki-lelaki lain, memilih bergelung di rumah adalah bentuk paling sempurna dari turut belasungkawa.

Salah satu lelaki di kedai minum itu berbisik pada lelaki di sampingnya. Lelaki-lelaki yang memilih bergelung di rumah itu adalah lelaki pengecut. Mereka pasti takut bertemu arwah anak Wardiman dalam perjalanan menuju kedai minum Amang Doan. Padahal apa yang pantas ditakutkan dari bayi sekecil itu.

Kedua lelaki itu tertawa kecil.

Amang Doan menatap mereka.

Tak ada lagi tawa kecil.

Yang ada hanya teriakan.

Jauh dari sana. Tapi semakin dekat.

Semakin banyak teriakan dan derapan langkah.

***

Sederas air bah kabar itu merata di Pansinaran, sebuah dusun di Kabupaten Tapanuli Utara. Siapa yang tidak kenal Haposan. Lelaki paruh baya itu pemilik toko paling lengkap di sini. Pagi tadi, dia masih sangat sehat, seperti biasa melayani pembeli di tokonya. Dan sore ini Haposan ditemukan tidak bernyawa dalam kamar tidurnya.

Mereka yang sudah melihat jenazah Haposan saling berbisik. Kulit wajah serta leher Haposan yang biru satu bukti bahwa lelaki gemuk itu meninggal tidak wajar.

Orang-orang saling lirik penuh curiga. Siapa gerangan yang tega membunuh orang sebaik Haposan?

Tanya itu membelit kepala mereka. Sayangnya, simpulnya begitu gampang terlepas. Beberapa hari setelah tubuh Haposan tertimbun dalam tanah, Haposan telah terlupakan. Mereka kembali bergelut dengan waktu. Toko Haposan tetap buka, dijaga istri dan sesekali anaknya.

Tak sampai setahun kemudian, toko milik Haposan tutup selama-lamanya dan kios kecil Parulian berkembang menjadi toko.

***

Tujuh tahun menikah. Parulian dan Basaria hidup bahagia bersama tiga anak perempuan. Kebahagiaan itu memang kurang manis tanpa anak laki-laki. Tak lantas mereka putus harapan. Usia Basaria baru menyentuh tiga puluh tahun. Masih ada hari-hari di mana Tuhan berkenan menitip anak laki-laki pada mereka.

Selain itu, tanpa saling mengetahui, Parulian dan Basaria mulai membangun tembok pertahanan dalam hati. Mereka tidak akan patah bila hari-hari yang dinanti itu tak pernah tiba. Kelak, tiga anak perempuan pasti bisa menghiasi hidup mereka. Anak-anak itu akan meringankan beban bahkan membuat hidup mereka bahagia.

Walau toko sangat menghasilkan, sebelum kabut lepas, Parulian sudah membuka pintu belakang rumahnya. Ia dan Basaria mengurus sepetak kopi di belakang rumah, dua kandang babi di sebelah petak kopi, juga sekandang ayam di samping rumah.

Setelah menghabiskan makan malamnya, Parulian bermain sebentar dengan ketiga puterinya. Si kecil Maria selalu tergelak-gelak padahal tangan Parulian belum sampai di pinggang bocah dua tahun itu. Selalu, selalu Parulian yang terlebih dulu terlelap daripada ketiga puterinya.

Malam ini, setelah Parulian lelap, empat perempuan keluar dari kamar. Banyak yang harus Basaria lakukan dalam rumah, sementara ketiga anaknya -Hasianna, Dame, dan Maria duduk menonton tivi. Suara beberapa lelaki terdengar di depan rumah, kemudian menghilang. Beberapa kali setiap malam mereka mendengar itu. Jadi tidak ada yang aneh. Mereka juga tahu lelaki-lelaki itu pergi ke mana.

Yang mereka tidak pernah tahu, malam ini lelaki-lelaki itu membicarakan Parulian.

Entah siapa yang memulai. Di kedai minum Amang Doan.

***

"Semakin banyak saja hartanya."

"Warungnya berkembang pesat setelah kematian Haposan."

"Haposan meninggal mendadak. Ada tanda biru di lehernya. Seperti dicekik bukan manusia."

"Aku masih ingat, Haposan meninggal tidak lama setelah mayat anak perempuan Wardiman hilang dari kuburan."

"Ada yang melihat Opung Mangurat yang mengambil mayat bayi Wardiman."

"Walau sudah renta, dia berlari sangat kencang. Kita kehilangan jejaknya waktu itu."

"Dukun itu masih keluarga jauh Parulian."

"Untuk apanya mayat bayi itu?"

"Dia butuh bagian dalam organ tubuh bayi yang baru dikuburkan."

"Untuk apa?"

"Kau tanya pula untuk apa. Tentu saja menciptakan begu ganjang untuk Parulian. Supaya hartanya menumpuk."

"Mangara pernah melihat hantu yang sangat besar di samping rumah Parulian. Hantu itu berdiri di bawah pohon mangga. Di dekat kandang ayam itu."

"Nai Udut pun pernah melihatnya. Hantu itu sangat tinggi dan besar."

"Waktu pulang dari sini, aku pun pernah melihat seperti ada yang terbang di atas rumahnya. Tidak terlalu jelas karena sangat gelap. Tapi memang sangat besar."

"Ah, kalian terlalu berlebihan. Parulian itu orang baik. Sejak kecil aku kenal dia."

"Aku yakin Parulian pangula-ula, pemelihara begu ganjang. Sampai sekarang dia tidak punya anak laki-laki. Itulah tumbalnya."

"Bisa pula toko Haposan bangkrut. Kios dia yang kecil malah berkembang sangat cepat jadi toko."

"Harus kita selidiki."

"Bagaimana caranya?"

***

Nai Marjuang memang sudah tua. Tetapi masih tampak segar bugar, sampai kemarin. Hari ini wanita gempal itu terbujur kaku di ruang tamunya yang lebar. Menurut anak bungsunya, Nai Marjuang sedang menonton televisi ketika mengeluh nyeri punggung kemudian dadanya. Tidak sampai dua puluh menit setelahnya, buuum, Nai Marjuang meregang nyawa.

"Pasti ada yang mengerjai ibuku ini."

Pasti. Pasti. Pasti.

Semua pelayat berkata dalam hati.

Nai Marjuang peternak ayam dan babi paling besar di sini. Usaha ini telah lama ia rintis bersama mendiang suaminya. Tak hanya sekadar hidup enak, dari usahanya mereka membiayai pendidikan anak-anak hingga jauh ke pulau seberang. Setelah suaminya meninggal dan kekuatan Nai Marjuang diisap waktu, anak bungsunya membantunya mengurus usaha itu.

Mata pelayat menancap di jenazah Nai Marjuang, tapi pikiran mereka terbang ke rumah Parulian. Menengok kandang ayam di samping rumah dan kandang babi agak jauh di belakang rumah. Kemudian pikiran itu berlari semakin jauh ke belakang. Beberapa tahun lalu Haposan juga meninggal mendadak dan tidak wajar. Mereka menengok toko Haposan dan warung kecil milik Parulian.

Tomason menggebrak meja!

Orang-orang tersentak.

"Parulian, kau yang melakukan semua ini!" pekik Tomason.

***

Nai Marjuang orang yang sangat baik. Sepanjang ingatan Parulian sudah mengenalnya. Perempuan itu teman dekat ibunya. Setelah ibunya meninggal, Nai Marjuang sering mengunjungi kios kecilnya. Nai Marjuang tak hanya memberi nasihat, namun juga beberapa ekor ayam dan babi untuk dipelihara. Bila kemudian justru kiosnya berkembang lebih cepat, Parulian tidak punya kuasa menjawab. Semua itu rahasia Tuhan yang sungguh tak layak ia pertanyakan.

Berembun mata Parulian ketika sore tadi berita kematian Nai Marjuang mampir di telinganya. Dia teringat ibunya. Namun yang membuat hatinya seperti diremas, ia lupa kapan terakhir kali bertemu Nai Marjuang. Setelah kios kecilnya menjelma toko yang disemaki pembeli, tidak pernah Nai Marjuang berkunjung.

Setelah menutup toko, bukannya gegas melayat ke rumah Nai Marjuang, Parulian malah mengurung diri dalam kamar. Lelaki berambut keriting itu sibuk menyesali diri. Seharusnya, sesekali ia mengunjungi Nai Marjuang di rumahnya. Bertanya kabar dan berbagi cerita sembari meminum teh ditemani roti yang dia bawa dari tokonya. Bukan mustahil sebenarnya Nai Marjuang datang ke tokonya, namun kembali pulang sebab Parulian terlalu sibuk melayani pembeli.

"Parulian! Keluar kau!"

"Ya, cepat keluar kau."

Gedoran di daun pintu dan teriakan itu membuat Parulian seperti melayang dari kamar menuju pintu depan. Urung dibukanya pintu demi mendengar keributan di luar.

"Keluar kau!"

"Bawa keluar begu ganjangmu itu."

Pintu besi toko digedor dari luar. Teriak kemarahan itu membuat Basaria menggigil sambil memeluk ketiga anaknya.

"Jangan buka pintunya," suara Basaria bergetar.

Tapi Parulian harus membuka pintu itu.

"Bawa anak-anak ke kamar."

Parulian membuka pintu setelah Basaria membawa anak-anak ke kamar. orang-orang yang marah menerjang masuk, membuat Parulian menempel di dinding. Mereka membawa parang, atau sebatang kayu.

Beberapa orang mengobrak-abrik jualannya.

Ada yang membalik meja.

Ada yang menarik paksa tirai jendela.

"Di mana kau sembunyikan begu ganjangmu itu?"

"Begu ganjang apa maksudmu?" Parulian memekik.

"Jangan pura-pura. Begu ganjangmu yang membunuh bapakku."

"Kau juga yang membunuh Nai Marjuang."

Beberapa orang masuk ke kamar, ketiga anaknya menjerit histeris. Emosi Parulian pecah. Parulian hendak menerjang orang itu, tetapi beberapa orang menahan tangannya. menarik kerah bajunya, menarik rambutnya, menjepit lehernya. Memukul kepalanya. Memukul dadanya. Menendang perutnya. Memukul punggungnya. Melempar tubuhnya pada dinding hingga merosot ke lantai.

"Di mana kau sembunyikan begu ganjangmu itu?" Tomason menarik tubuhnya.

Parulian berusaha berdiri sempurna. Namun kakinya sakit, punggungnya ngilu, perutnya perih, matanya berkunang.

"Aku tidak punya be...."

Pukulan Tomason menghentikan suara Parulian.

Darah keluar dari bibir Parulian.

Tomason teringat kematian tiba-tiba ayahnya.

Sebuah pukulannya mendarat di ulu hati Parulian.

Setelah itu, kehidupan keluarga Tomason tak lagi indah.

Ia menunjang perut Parulian.

***

Meskipun suara gaduh berserakan dalam rumah dan tokonya, masih bisa didengarnya tangisan tiga anak perempuannya. Ratapan Basaria mengizinkan orang mengambil apa saja yang mereka suka tapi jangan melukai anak-anak dan suaminya.

Parulian tidak mau tergeletak di lantai seperti ini, ia harus memeluk ketiga anak dan istrinya supaya mereka tenang. Anehnya, tidak sedikit pun Parulian merasakan kakinya sehingga ia tidak bisa menggerakkannya.

Setelah tidak menemukan apapun yang mencurigakan, Tomason dibantu beberapa orang mengikat Parulian pada salah satu tiang di toko. Mereka menggeret istri dan anak-anaknya keluar rumah.

"Ambil minyak."

"Untuk apa?"

"Dia yang mati, atau kita yang mati di tangan begu ganjangnya."

Di halaman depan, tak ada yang peduli pada permohonan Basaria supaya tangannya dilepas. Orang-orang itu dikenalnya dengan baik, namun sekarang Basaria seperti berhadapan dengan iblis.

Api mulai membakar toko. Basaria menerjang namun tak juga lepas. Hingga yang bisa dilakukannya hanyalah meratap memohon ampun.

Dari dalam, Parlin juga berteriak meminta ampun.

Api semakin lahap.

Orang-orang menatap.

Basaria dan ketiga anaknya meratap.

Api berderak-derak. Telah lama suara Parulian lenyap. Orang-orang melepas tangan Basaria. Andai bukan karena anak-anaknya, Basaria sudah menerjang api.
Orang-orang merasa tidak perlu menunggu api menghabiskan rumah, yang penting Parulian lenyap bersama begu ganjangnya.

Basaria merangkum anak-anaknya dalam dekapan. Tubuhnya menggigil. Sungguh ini tidak adil. Teramat mahal bayaran untuk hal yang tidak dilakukan.

T. Sandi Situmorang lahir di tepi Danau Toba pada 10 Desember. Sekarang menetap di Binjai, Sumatera Utara. Menulis cerpennya, puisi, dan novel

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com