detikHot

Cerita Pendek

Pohon Tumbuh di Atas Kepala

Minggu, 29 Des 2019 09:51 WIB Yus R. Ismail - detikHot
Ilustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta - Setiap pulang ke Cihegar, Aini selalu ingat dongeng anak yang di atas kepalanya tumbuh pohon. Bu Erum yang mendongengkannya. Selepas mengaji di surau, anak-anak melanjutkan dengan mendengarkan dongeng Bu Erum di bale-bale rumahnya. Rumah Bu Erum bersebelahan dengan surau. Ustad Soleh, yang mengajar mengaji, adalah suami Bu Erum. Tapi Ustad Soleh tidak pandai mendongeng. Hanya Bu Erum yang bila mendongeng selalu membuat anak-anak terpesona. Suami-istri setengah baya yang menyukai anak-anak itu belum mempunyai anak.

"Karena anak itu sangat suka dengan pepohonan, suatu hari dari atas kepalanya tumbuh tunas," kata Bu Erum dengan mimik khas.

Aini masih ingat bagaimana ia dan teman-temannya tertawa mendengarnya. Terbayang, kalau di atas kepala ada pohon. Wah, ribet. Pasti malu. Pasti diejek oleh teman-teman.

"Tapi anak itu tidak menangis. Karena meski pohon itu semakin membesar, berbatang kuat, tinggi, berdaun lebat, berbunga, berbuah, tidak terasa berat, tidak membuat pusing," kisah Bu Erum. "Malah anak itu semakin banyak yang menyukai."

"Kan malah nyusahin, Bu. Mau masuk ke rumah tidak bisa, mau masuk ke kelas tidak bisa," kata Esep.

"Anehnya," lanjut Bu Erum dengan mimik dan nada khas. Aini selalu tersenyum mengingat mimik dan nada Bu Erum saat mengucapkan kata itu. Sampai sekarang, setelah berusia dua puluh dua tahun, setelah melihat pertunjukan para pembaca puisi hebat atau aktor terkenal, Aini tetap merasa mimik dan nada Bu Erum saat mengucapkan kata 'anehnya' yang paling mempesona.

"Pohonnya mengecil kalau anak itu masuk ke dalam rumah. Saat anak itu tidur, makan, belajar di kelas, bermain di dalam ruangan, pohonnya mengecil. Pohon itu tidak mengganggunya."

"Bagaimana dia bisa disukai banyak orang, Bu?" tanya Isal.

"Saat anak itu keluar ruangan, pohon itu meninggi dan membesar lagi. Daunnya lebat, batangnya kuat, bunganya membuat betah yang memandangnya, buahnya bergantungan membuat ngiler yang melihatnya," lanjut Bu Erum. "Bukan hanya orang yang menyukai anak itu. Tapi juga banyak binatang. Burung membuat sarang, bertelor, beranak, di pohon itu. Ulat mencari makan, menjadi kepompong, lalu terbang menjadi kupu-kupu yang indah. Dan banyak lagi binatang, mungkin ribuan jumlahnya, yang rupa dan namanya saja kita tidak tahu saking kecilnya."

"Buah-buahannya bisa diambil, Bu?" tanya Oteng.

"Susah dong memetik buahnya! Kasihan anak itu," kata Rena.

"Kecuali kalau dilempar! Seperti kalau Oteng melempar rambutan Haji Dulah!" komentar Roro.

"Aku kan melempar rambutan karena Haji Dulah tidak pernah ngasih," kata Oteng sambil tersenyum malu.

Anak-anak semakin riuh. Semuanya memberi komentar.

"Pohon ini kan ajaib," lanjut Bu Erum. Anak-anak langsung terdiam. Aini masih hapal meski tidak bisa menirukan, bagaimana nada suara Bu Erum saat menekan kata 'ajaib' yang sanggup membuat anak-anak terdiam. "Siapapun yang meminta diberinya, sampai kenyang. Caranya, tidak usah dilempar atau dinaiki atau dijorok pakai galah. Cukup anak itu meminta, buah-buahan itu akan berjatuhan."

***

Aini masih ingat ketika teman-temannya sering bermain sandiwara, siapapun ingin memerankan anak yang di atas kepalanya tumbuh pohon itu. Bu Erum menengahinya.

"Siapapun bisa menjadi anak yang di atas kepalanya tumbuh pohon?" kata Bu Erum. "Syaratnya, kita harus mengumpulkan biji-bijian, biji apa saja, dan menyemainya."

Hari minggu pagi anak-anak Cihegar itu pergi ke pasar, mencari biji-bijian. Mangga, rambutan, manggis, duku, alpukat, dan entah biji apa lagi, diwadahi sampai seplastik penuh. Biji-biji itu lalu disemai di belakang rumah Bu Erum. Waktu kemarau tiba, setiap anak bergiliran menyiraminya.

"Hari Minggu besok, kita jalan-jalan. Bawa perbekalan masing-masing, kita botram, makan bersama, di tempat yang pemandangannya indah," kata Bu Erum selepas mendongeng. "Dan bagi yang punya plastik besar, bawa untuk membawa pohon buah-buahan kita."

Aini masih bisa merasakan bagaimana perasaan luar biasa itu terhirup hidungnya, menyelusup melalui pandangan matanya, menjadi senyum yang mekarnya susah dibayangkan. Lalu menyebar ke seluruh tubuhnya, ke pori-pori terkecil dari tubuhnya. Ya, perasaan itu muncul setelah menanam bibit buah-buahan di pinggir jalan kampung yang gersang.

"Bayangkanlah kalau pepohonan itu tumbuh di atas kepala kita," kata Bu Erum setelah menanam seluruh bibit pohon yang dibawa mereka, lalu memandangnya dari tempat yang lebih tinggi. "Menjadi pohon yang sangat bermanfaat. Akarnya menyimpan air, pohonnya menjadi tempat tinggal ribuan makhluk hidup, bunganya menyenangkan hati yang memandangnya, buahnya menyegarkan siapapun yang mencicipinya."

***

Aini masih merasakan perasaan terharu saat harus melanjutkan sekolah ke Sumedang, kota kabupaten. Di Cihegar waktu itu belum ada SMP. Lulus SMP, selesai SMU, Aini kemudian kuliah di Bandung, kota provinsi.

Setiap pulang ke Cihegar, Aini selalu mampir ke rumah Bu Erum. Bu Erum akan menyambutnya, memeluknya. Bagi Aini, Bu Erum selalu muda, ceria, dan mampu menghidupkan berbagai imajinasi. Saat Ustad Soleh, suami Bu Erum, meninggal dunia, Aini baru menyadari bahwa Bu Erum sudah tua. Aini bisa melihat dengan jelas lengkungan di bawah matanya. Enam puluh satu tahun usianya sekarang.

"Dongengkan kepada Ibu bagaimana yang namanya kuliah itu," kata Bu Erum saat malamnya Aini menemaninya tidur.

Aini tersenyum. Ya, sebagai anak Cihegar, dia merasa yang paling beruntung. Karena bisa dihitung dengan jari anak Cihegar yang berkesempatan kuliah. Bapaknya adalah salah seorang guru SD di Cihegar. "Biar Bapak dan Ibu makan singkong, asal kamu bisa menyelesaikan kuliah," kata bapaknya. Dua anak Cihegar lainnya yang beruntung bisa kuliah adalah Isep, anak mantan kepala desa, dan Oteng anak bandar ubi.

"Tempat kuliah itu namanya perguruan tinggi, Bu," kata Aini. "Tempat yang sama seperti SD, seperti surau, seperti bale-bale rumah Ibu. Tapi perguruan tinggi gedung-gedungnya juga tinggi-tinggi. Ada perpustakaan tempat menyimpan ribuan judul buku, majalah, dan koran. Kita mau tahu tentang apapun, tinggal mencarinya di perpustakaan. Misalnya Ibu menanam pohon alpukat, bila ingin tahu kandungan gizi, vitamin, dan lainnya di buah itu, tinggal mencarinya di perpustakaan."

Aini masih ingat bagaimana berdecaknya mulut Bu Erum mengagumi ceritanya. Pandangannya jauh menerawang entah ke mana. Mungkin membayangkan seperti apa yang namanya perguruan tinggi itu. Setahu Aini, Bu Erum tidak pernah bepergian jauh. Dulu, sekolahnya tidak tamat SD. Tapi membaca huruf Latin dan Arab lancar lebih dari kebanyakan orang tua di Cihegar.

Setiap Aini bercerita, ia dan teman-temannya menanami lingkungan kampus yang luasnya hektaran itu dengan berbagai buah-buahan, Bu Erum menitikkan air mata. Aini tidak tahu, apakah Bu Erum terharu dengan ceritanya, atau bersedih oleh yang lainnya.

Besoknya saat Aini menemani Bu Erum berjalan-jalan pagi, Aini tahu kampung Cihegar sudah banyak berubah. Pepohonan sepanjang jalan kampung yang dulu ditanam Bu Erum dan anak-anak asuhnya, sudah ditebang habis. Pelebaran jalan menjadi penyebab utamanya. Tapi sebenarnya karena ketidakperdulian.

"Ciseke yang dulu menjadikan kampung kita subur air, sekarang tinggal beberapa tempat saja yang masih mengeluarkan air," kata Bu Erum, entah mengeluh entah sekedar memberi kabar.

Aini baru sadar, saat pulang dua tahun lalu, kolam di pinggir rumahnya sudah dijadikan warung hidup oleh ibunya. Aini pikir ibunya perlu tempat yang lebih luas untuk menanami bumbu-bumbu dapur. Nyatanya air untuk memenuhi kolamnya juga sudah tidak ada.

***

"Ain hanya ingin mengenang Bu Erum," kata Aini kepada ibunya. Kemarin bapak Aini yang mengabari, Bu Erum meninggal. Saat menyiram semaian pepohonannya di belakang rumah, ia merasa pusing. Dan sorenya, saat sembahyang asar, dia tidak bangun lagi.

"Bu Erum dimakamkan di belakang rumahnya, sesuai keinginannya. Di bawah pepohonannya yang rindang," kata ibunya Aini. "Rumahnya itu diwakafkan ke surau, nantinya akan dijadikan tempat anak-anak belajar."

Aini berjalan cepat karena hari menjelang gelap. Di samping rumah Bu Erum dia masih sempat memandang bale-bale, tempat dulu dia dan teman-temannya didongengi hampir setiap hari oleh Bu Erum.

Di balik pohon nangka Aini berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Di makam Bu Erum ada orang yang sedang berjongkok. Setelah meyakini yang berjongkok itu manusia, Aini melangkah perlahan. Terdengar isak yang ditahan.

Aini berjongkok, menaburkan bebungaan, lalu berdoa. Air matanya meleleh menyusuri pipinya. Tapi dia menahannya menjadi isak yang bersuara. Di hadapannya, Aini melihat Oteng masih berjongkok, sedang memandangnya.

Mereka lalu pulang. Di bale-bale rumah Bu Erum mereka duduk sejenak.

"Ain, masih ingat dongeng anak yang di atas kepalanya tumbuh pohon?" tanya Oteng.

"Memangnya kamu tidak melihat ya?" Aini malah balik bertanya. "Di atas kepalaku ini sudah tumbuh pohon."

"Kalau begitu sama, di kepalaku malah pohonnya sudah berbuah."

Yus R. Ismail menulis cerpen, novel, dan puisi dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Buku terbarunya In The Small Hours of The Night terjemahan C.W. Watson (Lontar, 2019) memuat 5 carpon-nya. Novelnya Tragedi Buah Apel terpilih sebagai Pemenang Pertama Lomba Novel Anak penerbit Indiva 2019

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com